Aktivis Lingkungan Kecam Proyek PLTU Batang

Aktivis lingkungan meenggelar aksi di Taman Srigunting, Kota Lama Semarang, Sabtu (30/5) untuk menolak rencana pembangunan PLTU Batang. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Aktivis lingkungan meenggelar aksi di Taman Srigunting, Kota Lama Semarang, Sabtu (30/5) untuk menolak rencana pembangunan PLTU Batang. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang dinilai bisa merugikan ribuan nelayan dan petani. Seperti yang disuarakan aktivis Greenpeace bersama masyarakat Semarang dalam aksi kreatif berupa flash mob atau aksi seni kreatif di Simpang Lima dan Taman Srigunting Kota Lama, Sabtu (30/5).

Aksi digelar sebagai langkah mendesak pemerintahan Jokowi untuk secepatnya membatalkan rencana pembangunan PLTU yang digadang-gadang sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara itu.

“Rencananya PLTU Batang akan menggunakan bahan bakar batubara. Padahal energi batubara adalah salah satu sumber energi fosil paling kotor, yang beberapa dari lainnya sebagai penyebab perubahan iklim tidak menentu seperti sekarang ini. Pasti dampaknya sangat merugikan bagi masyarakat,” ucap Juru Kampanye Media Greenpeace, Deby kepada metrosemarang.com.

Selama empat tahun, sambung Deby, warga Batang telah melakukan berbagai cara untuk menolak rencana pembangunan proyek PLTU ini. Selain 25 aksi yang mereka lakukan, sejumlah warga juga sempat beraudiensi dengan Kementerian Perekonomian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Komnas HAM, DPR, hingga ke Jepang untuk bertemu langsung dengan investor.

Hingga saat ini warga Batang berhasil mempertahankan 25,4 hektar lahan dari 226 hektar lahan yang akan dipakai untuk membangun PLTU. Sebagian lahan tersebut meliputi persawahan subur dan wilayah perikanan tangkap produktif.

“Jika melihat lahan untuk pembangunan PLTU Batang, potensi kerugian akan tinggi dialami puluhan ribu nelayan dan petani setempat,” tandasnya.

Selain menolak pembangunan PLTU Batang, pihaknya juga meminta kepada pemerintahan Jokowi untuk bangun dan beraksi mengatasi bencana global dampak perubahan iklim yang disebabkan penggunaan sumber energi PLTU dari batubara.

Sementara itu, salah satu warga Batang yang juga ikut dalam aksi ini, Warjoyo menambahkan, terdapat 5 kelurahan di Batang yang akan menjadi lahan pembangunan PLTU. Di antaranya Ujungnegoro, Karanggendeng Ponowareng, Wonokerso, dan Roban.

“Kami sudah lama menolak rencana pembangunan PLTU ini, tapi sama sekali tidak direspons oleh pemerintahan daerah maupun pusat. Semua masyarakat Batang sebenarnya sudah tahu kalau dampak proyek PLTU ini akan sangat merugikan, tapi pada takut untuk bicara,” tutur Deby, ditemani dua warga Batang yang juga ikut dalam aksi ini, Abdul Hakim dan Aliman. (ans)

You might also like

Comments are closed.