Aktivis Pers Kampus Kumpul di TBRS Bahas Pembredelan Majalah Lentera

Suasana bedah Majalah Lentera di TBRS Semarang, Jumat (23/10). Foto: metrosemarang.com/abdul arif
Suasana bedah Majalah Lentera di TBRS Semarang, Jumat (23/10). Foto: metrosemarang.com/abdul arif

 

METROSEMARANG.COM – Bedah majalah Lentera Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga edisi 3/2015 berjudul “Salatiga Kota Merah” berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Jumat (23/10). Sejumlah aktivis pers kampus dari berbagai daerah tampak hadir.

Bedah majalah tersebut menghadirkan Pemimpin Umum Majalah Lentera  Arista dan Pemimpin Redaksi, Bima. Diskusi dimoderatori oleh Ketua Perhimpunam Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), Abdus Somad.

Diskusi bertajuk “Lawan Pembungkaman terhadap Pers Mahasiswa” itu didukung oleh AJI Semarang, PPMI, LBH Semarang PBHI Jateng dan Pers Mahasiswa se-Jateng.

Majalah Lentera sempat ditarik karena memuat reportase peristiwa tahun 1965 di Kota Salatiga. Arista mahasiswi Sosiologi itu mengungkapkan ihwal penarikan majalah Lentera. Dia mengungkapkan, Jumat lalu  pihaknya dipanggil menghadap pimpinan universitas.

“Waktu kami sampai BAP, rektor mengatakan bahwa penerbitan Lentera menimbulkan gejolak di masyarakat. Dari situ pihak rektor meminta kami menarik majalah yang sudah kami edarkan,” katanya.

Usai perintah dari rektor itu, awak Lentera kembali dipanggil. Namun kali ini yang memanggil adalah pihak Polres Salatiga. “Kami datang, kami dinyatakan tak serius dalam penarikan majalah itu,” katanya.

Awak Lentera pun diminta untuk menarik semua majalah yang beredar. Arista mengatakan, judul majalah “Salatiga Kota Merah” dan gambar cover palu arit itu dinilai bermasalah sehingga harus ditarik.

“Prosedur penarikan berasal dari sms dekan. Kami anak-anak Lentera diminta datang ke Kapolres untuk bertanggung jawab,” katanya.

Pemred Lentera Bima mengungkapkan, mulanya majalah Lentera akan ditarik oleh kepolisian. Hanya saja  karena pemberitaan media sangat kuat, masalah tersebut kemudian dilokalisir menjadi isu kampus.

Dia mengatakan, terkait hal itu Dewan Pers sudah memberikan surat peringatan kepada rektor. Komnas HAM juga sudah turun ke lapangan melakukan penyelidikan. (arf)

You might also like

Comments are closed.