Alasan Orang Membeli Produk [Lebih Banyak karena Irrasionalitas]

Alasan orang membeli produk karena “trust” (percaya). Sering tak masuk-akal. Begini cara memainkan “trust” yang tak masuk-akal, agar dapat banyak pembeli.

Alasan orang membeli produk, salah satunya karena “trust” (percaya). Trust sering tak masuk-akal. Begini cara memainkan “trust” yang tak masuk-akal, agar mendapatkan lebih banyak pembeli.

Mengapa orang lebih banyak memakai Google untuk mencari sesuatu? Mengapa orang mau menyerahkan urusan medis kepada seorang dokter yang baru dia kenal? Mengapa orang membeli dari suatu toko online?
Mungkin ada sederet alasan “common sense”. Google lebih populer, hasil pencarian Google lebih pas. Medis butuh keahlian, setidaknya, para dokter lebih tahu tentang cara mengatasi penyakit. Orang membeli baju di toko online, salah satunya, karena bisa pakai sistem “cash on delivery” (COD).

Sebagai konsumen, alasan untuk trust terbentuk dari hasil, hubungan, dan relevansi.

Ada alasan paling umum. Orang menyebutnya: pengalaman diri, rekomendasi orang lain, dan merasa “sesuai kebutuhan”. Apakah ini yang sebenarnya terjadi? Belum tentu.

Seringnya, semua berasal dari “iklan”. Pengalaman “orang lain”, pembeli lain, dicantumkan. Mungkin dalam bentuk review dan skala berbintang (semakin banyak bintang, semakin baik), seperti saat Anda mau download aplikasi di Google Play. Dan setiap product memberikan “saran” : ini cocok untuk kebutuhan Anda, menghemat waktu, dan seterusnya.

Pilihan dan kebutuhan lebih banyak berpijak dari informasi produk dan pengalaman “orang lain”. Lebih sering, dimanipulasi. Orang percaya produk A bagus karena simulasi, sering ditampilkan di televisi, atau dipakai idolanya. Orang bisa percaya karena testimonial yang belum tentu terjadi.
Seseorang membeli karena trust yang irrasional.

TRUST ITU IRRASIONAL. Alasan orang membeli produk karena “trust”, yang terbentuk dari simbol, harapan, dan misteri. Mainkan ketiganya jika mau dapat lebih banyak pembeli.

Trust terjadi karena simbol, harapan, dan misteri.

Algorithma Google dirahasiakan, resep dan pengolahan masakan di restoran favorit, tidak boleh dibagikan kepada pembeli dan kompetitor. Pelajaran kedokteran tidak bisa pasien sepenuhnya, namun “nyawa” pasien diserahkan kepada dokter. Tidak perlu banyak dijelaskan.
Google membuat citraan sebagai search engine terbaik, tanpa kita tahu code pemrograman Google. Restoran X mencitrakan-diri dengan resep asli nusantara, tanpa kita tahu apa racikan di balik kelezatan masakan.
Harapan mendapat yang diinginkan, milik konsumen. Misteri dan simbol, milik produsen.
Kebanyakan tindakan konsumerisme, terjadi dari keputusan yang irrasional.

Trust terjadi saat simbol, harapan, dan misteri dimainkan dalam transaksi.

Trust yang telah terjalin, sulit dibentuk-kembali, jika sudah terusak.

Apa yang terjadi jika algorithma google diketahui para pemakainya? Tidak ada misteri. Rumus Ad Sense dan optimasi mesin pencari (SEO) terpecahkan. Ekonomi Amerika bisa kacau.
Apa yang terjadi jika proses produksi jilbab yang dijual online diceritakan kembali dengan video? Tidak ada lagi simbol dan citraan “berkelas”.
Apa yang terjadi jika facebook tidak memperbaiki fungsi dan tampilan? Harapan pemakai Facebook bisa menyusut. Facebook tidak lagi bisa memenuhi selera dan permintaan pemakai jika tidak memenuhi permintaan pemakai.
Keadaan akan berubah jika Anda tahu bagaimana berita dibuat, proses dapur menu istimewa, atau kepribadian seseorang. Keadaan akan berbeda jika Anda tahu detail tentang pacar anda, boss Anda, atau masa lalu orang lain.

Simbol, harapan, dan misteri, dapat diterjemahkan menjadi branding, kualitas layanan, dan terus merahasiakan dapur produksi.

Trust seringnya berlandaskan irrasionalitas, emosional, dan wilayah sub-sadar. Konsumerisme terbangun dari trust yang irrasional seperti itu. Mainkan ketiga unsur irrasional ini jika Anda ingin meraih lebih banyak pembeli.[d]

You might also like

Comments are closed.