Alat Buatan Mahasiswa Undip Ini Bisa Deteksi Kecurangan di Jembatan Timbang

METROSEMARANG.COM – Berawal dari keprihatinan banyaknya pungutan liar (pungli) pada jembatan timbang, sekelompok mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) ciptakan alat pendeteksi batas tonase bernama Swift. Alat ini menggunakan kartu Radio Frekuensi Identification (RFID) sebagai deteksi yang nantinya dipasang pada setiap plat nomor kendaraan.

Mahasiswa Undip praktikkan cara kerja Swift. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Alat ini digagas oleh 5 orang mahasiswa yakni, Rofiq Cahyo Prayogo, Ismulia Nur Berlian, Ajeng Kartika Nugraheni Safitry, Rio Julian Azis Pratama, Gilang Dimas di bawah binaan Undip Robotics Development Center (URDC).

Ajeng, selaku juru bicara tim tersebut mengatakan, selain karena banyaknya pungli, menurut data BPS 2014-2015 pertumbuhan truk mencapai 12.107. Hal tersebut disebabkan oleh tingkat kebutuhan masyarakat terhadap permintaan barang semakin meningkat.

“Sehingga mobilitas semakin tinggi, banyak truk yang kadang melebihi tonase dan mengakibatkan kemacetan dan juga mengakibatkan rusaknya jalan,” beber Ajeng.

Menanggapi hal tersebut, ia bersama empat orang rekannya mulai merancang alat bernama Swift ini sejak tahun 2016 lalu. Kini alat tersebut telah tercipta dalam wujud prototipe.

Untuk pengaplikasiannya, alat ini nantinya dipasang pada pintu masuk jembatan timbang dengan menggunakan palang pintu otomatis yang akan terbuka jika kendaraan yang melintas mengangkut barang sesuai dengan batas angkutan.

“Jadi nanti kalau misal kendaraan tersebut melebihi muatan, maka pintu palang tidak akan terbuka dan kendaraan harus mengurangi barang muatan atau digudangkan,” beber Ajeng.

Alat tersebut menggunakan kartu Radio Frekuensi Identification (RFID) sebagai deteksi yang nantinya di pasang pada setiap plat nomor kendaraan pengangkut. Sementara untuk scanner dipasang pada jembatan timbang sehingga truk dan beban dapat teridentifikasi secara otomatis. Kemudian dalam jarak sekitar 10-15 meter maka kartu RFID yang terpasang akan terdeteksi jenis serta batasan jumlah maksimal angkutan pada kendaraan tersebut.

“Nanti truk atau kendaraan tersebut akan terdeteksi apakah truk tersebut berjenis boks atau trailer atau yang lainnya, lalu akan mendapatkan data maksimalnya berapa kilo, lalu hasil data akan diolah pada mikrokontroler yang kemudian mendapat status yang dikirim melalui SMS,” ujar anggota lain, Rofiq.

SMS yang berisi informasi data tersebut akan dikirim kepada dinas terkait, dalam hal ini Dinas Perhubungan. Selain untuk menginformasikan tindak kecurangan, hal tersebut juga dimaksudkan untuk segera dilakukan penindakan kepada yang bersangkutan.

Untuk biaya pembuatan prototipe ini, mereka menghabiskan dana sebesar Rp 6 juta, namun jika direalisasikan dalam skala sebenarnya mereka membutuhkan dana sekitar Rp 25 juta.

Selain itu, Tim Swift juga sudah menjalin komunikasi dengan Dinas Perhubungan agar alat yang masih berupa prototipe ini bisa diterapkan di jembatan timbang yang asli.

“Namun kemarin kan lagi musim lebaran, musim masih musim mudik, jadi kemarin kami lagi di disposisi ke bagian pusatnya, jadi untuk sekarang kami belum mendapatkan izin mempraktikkan ke lapangan,” pungkas Rofiq. (fen)

You might also like

Comments are closed.