ALKISAH: Aku Menyesal Jadi Peliharaan Tante Girang (1)

image

Namaku Doni. Sekarang aku mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS di kota lumpia ini. Sekarang aku fokus menyelesaikan skripsiku, setelah terbengkalai sekian lama. Semoga kisah hidupku berikut ini bisa menjadi pelajaran bagi pembaca semua dan pembaca dapat mengambil hikmahnya.

Enam tahun lalu, usai lulus sma di sebuah kota kecil yang tak jauh dari Semarang aku mendaftar ke fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta. Meski orang tuaku tak terlalu berada, tetapi secara ekonomi masih mampu membiayaiku kuliah. Tentu saja semuanya serba pas-pasan. Penting cukup untuk membayar kos, spp dan untuk makan.

Kujalani masa-masa semester pertama dengan giat belajar. Hari-hariku sibuk dengan buku dan tugas kuliah. Pulang kuliah banyak kuhabiskan untuk belajar di kos atau mencari referensi di perpustakaan. Karena ketekunanku, di semester pertama aku meraih prestasi yang memuaskan. Bahkan IPku paling tinggi se-Fakultas Ekonomi.

Di semester kedua keakrabanku dengan Rio mengubah segalanya. Rio, teman sekelasku yang paling gaul dan gaya. Ke kampus ia mengendarai mobil ataupun motor sport 250cc yang terbaru. Ponselnya pun paling canggih dan paling mahal diantara teman-tenan di kampusku.

Awalnya Rio sering meminta bantuanku untuk mengerjakan makalah tugas kuliah. Sebagai imbalannya, ia sering membelikan aku pulsa. Suatu hari, ia mengajakku ke sebuah pusat hiburan malam di Semarang Barat. Aku yang masih culun dan ndeso tentu kaget dan canggung melihat gemerlap sebuah night club itu. Asap rokok, aroma minuman alkohol bercampur musik yang berdentam-dentam seolah fatamorgana bagiku. Wanita-wanita yang rata-rata berpakaian seksi hilir mudik memenuhi ruangan dan lantai disko.

Aku diajak Rio duduk di pojok yang sedikit terbebas dari kesumpekan night club ini. Ia memesan sebotol minuman keras. Aku sendiri takut mencobanya. Tapi karena didesak Rio, akhirnya aku meneguknya sedikit. Rasanya pahit dan perutku terasa panas. Sementara Rio dengan nikmatnya menuang berkali-kali ke gelas dan meminumnya.

Tak berapa lama, datang dua orang wanita ke tempat kami duduk. Bila dilihat dari mukanya tampaknya sudah cukup berumur meski gaya berpakaiannya seperti masih remaja. Tampaknya mereka sudah sangat akran dengan Rio. Bahkan wanita yang memakai tank top merah tampak mesra menggelayut manja di pundak Rio. Setelah berkenalan, aku tahu nama mereka. Yang bertank top merah namanya Tante Irna, sedang yang memakai jaket jeans bernama Tante Mia. (*/bersambung)

Comments are closed.