‘Alquran Bukan Kitab Radikal, Membacanya Harus Penuh Cinta’

METROSEMARANG.COM – Aksi damai yang dilakukan umat Islam pada 4 November dan 2 Desember kemarin mengundang berbagai respons dari masyarakat. Penulis Habiburrahman Elshirazy juga angkat suara, saat menghadiri sebuah acara di UIN Walisongo, Selasa (6/12).

Kang Abik (baju putih) tengah mengisi seminar nasional di UIN Walisongo Semarang, Selasa (6/12). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Kang Abik (baju putih) tengah mengisi seminar nasional di UIN Walisongo Semarang, Selasa (6/12). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Kang Abik, sapaan akrabnya mengaku jika dirinya juga ikut aksi superdamai 2 Desember lalu. Menurutnya kejadian 212 tidak mungkin bisa dibendung. Maka kata dia, perlu ada ulama untuk ikut turun aksi sebagai jalan untuk mendinginkan suasana.

“Saya alumni 212, tapi bukan berati saya radikal. Justru memang dibutuhkan ulama-ulama yang tidak radikal untuk ngedem suasana,” tutur penulis novel Ayat-Ayat Cinta.

Ia menambahkan, saat ini yang bisa dilakukan adalah menunggu proses hukum dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selesai. Selain itu Kang Abik juga menyatakan agar masyarakat bisa mengapresiasi ijtihad dari para ulama terkait hal tersebut.

Lebih jauh ia juga menyatakan keprihatinannya pada kenyataan, kalau saat ini anak-anak muda yang disasar untuk dijadikan pengikut aliran radikal. “Membaca Alquran harus dengan cinta karena semua ayat adalah cinta dan rahmat, bahkan ayat tentang perang sekalipun,” imbuhnya.

Menurutnya pembacaan pada ayat Alquran tidak boleh tekstual semata. Terlebih ketika ayat itu diberikan kepada orang yang belum matang dalam memahami Alquran maka bisa terjadi salah tafsir sehingga berbahaya. “Yang radikal itu tafsirannya, bukan Alqurannya,” ungkapnya.

Cara membaca Alquran yang berbeda akan menghasilkan arti yang beda juga. Begitu pula dalam memahami ayat tentang perang tidak boleh hanya satu ayat saja, tapi juga ayat sebelum dan sesudahnya. Jika dipotong-potong maka akan menghasilkan tafsiran yang beda.

“Ayat tentang izin berperang itu muncul setelah bertahun-tahun nabi berdakwah di Makkah dan Madinah, dan itu pun sebagai jalan akhir ketika sudah tidak ada solusi lainnya,” tegas Kang Abik.

Ia menegaskan penafsiran Alquran harus berdarkan cinta bahkan pada ayat perang sekalipun. Ayat yang diindikasikan mengandung unsur radikal lantaran menghalalkan perang juga harus dibaca dengan cinta. Tanpa ayat tentang perang maka tidak akan ada peristiwa 10 November yang dikenal dengan Hari Pahlawan.

“Tapi jika bisa berdamai dan memaafkan itu akan lebih baik, maka harus sesuai dengan porsinya,” tukasnya. (vit)

 

 

You might also like

Comments are closed.