Anak Disleksia Bukan Anak Bodoh

ilustrasi
ilustrasi

“Bayangkan bagaimana perasaan anda, melihat anak anda mengetahui jawaban pertanyaan ujian di sekolah, tapi tak bisa menuliskannya? Apa yang anda rasakan jika anak anda dicap bodoh dan dihindari teman-temannya karena sulit menghafal nama teman?” Pertanyaan itu dilontarkan Andria Rini dalam sebuah seminar tentang disleksia di Semarang. Rini mengalaminya. “Saya menangis, putri bungsu saya kelas 3 SD tidak bisa membaca kata ‘bertamasya’,” kata Rini.

Putri Rini terdeteksi positif disleksia setelah Rini curiga ada yang tidak beres dengan cara membaca dan menulisnya. “Membaca vokal a, i, u, e, o sering salah. Menulis kata yang diakhiri huruf p, selalu dengan huruf m. Awalnya saya pikir anak saya yang suka menggoda. Belakangan saya curiga. Saya bawa anak saya ke keponakan saya yang kebetulan psikolog, dinyatakan disleksia. Saya sama sekali tidak tahu apa itu disleksia,” kata Rini.

Sedikit demi sedikit, Rini mempelajari disleksia. Di sekolah, putrinya jarang mendapat nilai bagus, terutama untuk pelajaran Bahasa Inggris. “Setiap ulangan, gurunya mendiktekan soal pilihan ganda. Belum sampai dia mencoret pilihannya, gurunya sudah ganti soal. Lalu kapan mau dapat nilai bagus?” ujar Rini yang kemudian menyebar salinan pengertian disleksia kepada guru-guru sekolah anaknya.

Kesadaran akan disleksia begitu rendah. Orang tua dan guru sering kali gagal mendekteksi tanda-tanda disleksia pada anak. Bahkan anak-anak disleksia yang sebetulnya memiliki potensi kemampuan lain yang luar biasa cenderung dianggap bodoh, lambat belajar, malas dan kurang berusaha untuk maju. Kenalkah anda dengan nama-nama berikut? Steve Jobs, Tom Cruise, Abisekh Bachan, Orlando Bloom, Steven Speilberg, dan si jenius Albert Einstain? Percayakah anda bahwa mereka semua mengidap disleksia, kesulitan membaca, menulis dan menghafal? Kenyataannya memang demikian.

Psikolog anak dari Children Hope Center (CHC) Semarang, Lisa Maria MPsi, disleksia adalah gangguan fungsi kerja otak, khususnya pada proses fonologis pada belahan otak kiri. Terutama pada sistem menulis alfabet pada subyek yang mengalami disleksia. Butuh kecermatan dan ketekunan untuk mendeteksinya.

“Disleksia merupakan permasalahan belajar yang tidak nampak secara lahiriah. Sebenarnya gejalanya sudah terlihat saat TK, tapi belum bisa menyatakan bahwa itu positif disleksia,” kata Lisa. Salah satu faktor yang mempengaruhinya karena pelajaran membaca diajarkan saat SD. Selain itu, pada umumnya memiliki IQ normal, bahkan tinggi. Dan ternyata lima persen hingga 15 persen siswa sekolah mengalami gangguan disleksia.

Beberapa faktor penyebab disleksia adalah situasi akademik, rangsangan lingkungan, dan potensi anak. Gen juga diduga menjadi penyebab utama dari disleksia. Belum jelas penyebab dari disleksia yang sesungguhnya. Namun sedikit gangguan pada otak ketika hamil, melahirkan atau tumbuh kembang bisa meningkatkan risiko disleksia. Andriana Rini mengisahkan, saat kelahiran putrinya mengalami permasalahan. “Saya waktu itu, diminta menahan, padahal kepala bayinya sudah keluar sebagian. Ada bekas di kepalanya,” kata Rini.

Gejala disleksia cukup bervariasi. Seorang anak bisa saja memiliki nilai akademik yang berbeda dan masalah perilaku sehingga membuat disleksia tidak diketahui. Ada beberapa gejala yang perlu dikenali. Permasalahan spesial, sulit membedakan arah kanan, kiri, depan, belakang. Sulit membuat persepsi jarak, menyatakan waktu, dan mudah tersesat. Sulit konsentrasi dan mengingat nama benda umum, teman dan guru. Sulit menulis dan menyalin tulisan.

“Namun ada kelebiham yang cenderung dimiliki anak disleksia. Memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi,” kata Lisa. Ia menegaskan jika disleksia bukan kebodohan. “Saya juga tahu dan yakin itu. Saya yakin anak saya tidak bodoh,” timpal Rini. Putrinya memiliki ketekunan luar biasa dalam hal seni. Melukis hingga menyusun puzzle 1.000 bagian hanya dalam waktu tiga hari.

Disleksia memiliki keajaiban dan akan muncul jika penanganannya tepat. Menurut Lisa, perlu dilakukan beberapa pengecekan untuk memastikan kondisi anak. Salah satunya cek mata dan telinga. Jika ingin memahami lebih detail, evaluasi belajar anak bisa diketahui melalui tes IQ. Yang penting orang tua perlu menyadari bahwa anak sebaiknya didampingi ketika belajar dan membutuhkan bantuan. (MS-06)

 

You might also like

Comments are closed.