Anak Harus Dilindungi dari Penggunaan Medsos di Era Digital

METROSEMARANG.COM – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya internet dan munculnya media sosial (medsos) yang semula dalam berkomunikasi, ternyata belakangan banyak disalahgunakan untuk menebar berita bohong (hoax), provokasi, ujaran kebencian dan menghina orang lain. Kultur komunikasi secara sopan santun dalam keseharian orang timur ternyata berubah di medsos.

Diskusi bertajuk ‘Literasi Media Sosial & Upaya Perlindungan Anak’ di John Dijkstra Srigunting, Kota Lama Semarang, Kamis (20/7). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Hal tersebut mengemuka saat acara diskusi bertajuk ‘Literasi Media Sosial & Upaya Perlindungan Anak’ di John Dijkstra Srigunting, Kota Lama Semarang, Kamis (20/7).

Siti Sumaiyah, Anggota Divisi Perubahan Hukum LBH Apik Semarang mencermati bahwa isi medsos saat ini penuh hujatan, caci maki, saling mengejek dan berita tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Kiranya unggahan semacam ini sudah tidak sesuai dengan budaya ketimuran yang selama ini kita jaga dan ajarkan kepada anak-anak,” kata Suma.

Kemudahan mengungggah gambar, foto, video, status, katanya justru membuat orang bebas memasukkan apa saja di medsos. Padahal informasi yang diunggah ke medsos dengan cepat dibaca orang lain.

Dengan keadaan yang demikian tidak mengherankan jika banyak kalangan meminta aparat penegak hukum lebih sigap terhadap pengguna medsos yang terindikasi melanggar hukum termasuk memprovokasi kekerasan kepada anak.

Mengutip data dari Kemenkominfo, sebagai negara pengguna medsos terbesar ketiga di dunia dari 259,1 juta jiwa penduduk Indonesia 34 persen diantaranya atau 88,1 juta orang merupakan pengguna internet aktif 79 juta aktif menggunakan medsos dan 66 juta menggunakan handphone.

Penggunaan medsos mengalami perkembangan pesat. Situasi ini ditunjang oleh karakter masyarakat Indonesia yang dikenal ramah dan mudah sosialisasi. Melihat animo masyarakat pengguna medsos tak dapat dipungkiri perusahaan penyedia jasa medos global seperti Facebook, Twiter, Telegram, YouTube, Instagram, Line, Path sangat antusias mengembangkan di Indonesia.

“Opini yang disebarkan melalui medsos bisa mengubah sikap dan cara pandang seseorang,” ungkapnya. Oleh karena itu opini yang dibangun medos cenderung berbahaya karena penerima informasi sulit membedakan mana berita yang bersifat fakta atau hoax.

Kominfo juga mengungkapkan pengguna internet telah mencapai 63 juta orang. Dari jumlah tersebut 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses medsos. Sebagian besar pengguna Facebook dan 85 persennya mempergunakan medsos untuk mengunggah status.

Dengan luasnya penggunaan medsos pengawasan terhadap penyalahgunaan harus dilakukan.  Pertama, medsos merupakan media komunikasi yang sangat personal. Beda halnya dengan produk jurnalistik konvensional seperti media cetak dan elektronik yang memiliki jajaran redaksi untuk memfilter informasi yang akan ditayangkan.

Di tangan pemilik akun, medsos dapat mengunggah foto, video, berita kapanpun dan dimanapun.

Minimnya kesempatan untuk memfilter atau sensor informasi menyebabkan sajian medsos cenderung lebih bebas. Kedua, keterbukaan informasi menyebabkan medsos yang tujuan semula untuk berbagi informasi, menjalin persahabatan disalahgunakan untuk menghasut, provokasi dan mempengaruhi pihak lain.

“Perlindungan anak tetap harus diutamakan dalam penggunaan medsos,” terangnya.

Provokasi di medsos hanya menciptakan keresahan, ketidaknyamanan bahkan sikap saling permusuhan. Terlalu mahal taruhannya ketika kedamaian yang telah dibangun dengan beragam cara rusak dalam sekejap oleh ulah segelintir orang di medsos. Upaya itu harus dimulai dari komunitas terkecil seperti keluarga, sekolah dan masyarakat dimana orang-orang dekat diajak untuk mempergunakan medsos untuk tujuan-tujuan yang positif.

Acara diskusi itu juga menghadirkan sejumlah narasumber dari pejabat Dishubkominfo Semarang, Hening Budiyawati dan Meldafa Arung Palaga. (far)

You might also like

Comments are closed.