Asa Terakhir Wida Ikut Peragaan Busana di Dalam Penjara

METROSEMARANG.COM – Gemuruh tepuk tangan membahana di seluruh ruangan tatkala Pupuh Wida muncul dari balik panggung peragaan busana yang digelar di Aula Lapas Kelas II A Wanita Bulu, pada Selasa (16/5).

Peragaan busana di Lapas Bulu, Selasa (16/5). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Wida, sapaan akrabnya tak canggung saat tampil di atas catwalk. Tubuhnya yang tinggi semampai tampak luwes berlenggak-lenggok sembari memamerkan busana hasil karyanya.

Sore itu ia mengenakan batik kuning keemasan bermotif khas Semarangan. Parasnya yang cantik dengan sanggul rambut yang menawan membuat para tahanan memberikan tepuk tangan meriah untuknya.

“Saya baru sekali ini ikut peragaan busana di dalam lapas, dan enggak susah-susah amat kok,” kata Wida usai tampil di atas panggung dan ia mengaku senang bisa ikut tampil di depan rekan-rekannya sesama tahanan wanita.

Saat beraksi di atas panggung seperti membuat ingatannya terkantuk pada kejayaannya di masa lalu. Karena itulah, untuk memeriahkan acara tersebut, ia sengaja menjahit sendiri busana batiknya. Payet-payet ia pasang untuk mempercantik busana miliknya.

“Maklum, saya dulunya model tapi karena tersangkut narkoba, maka saya ditahan di sini selama empat tahun. Jadi untuk merancang busana, saya enggak ada kesulitan sama sekali,” tuturnya.

Ia mengatakan acara peragaan busana tersebut membuatnya cukup terhibur. Sebab, sejak ditahan di Lapas Bulu, ia tak sekalipun bisa tampil lagi diatas panggung.

Pada bulan ini, ia sendiri sudah menghabiskan 2,5 tahun masa tahanannya. Menurutnya selama menghabiskan masa tahanan dirinya kerap mengolah bakat membuat busana-busana batik.

Tak ayal, hingga saat ini ia sudah punya 30 pegawai di ruang bimbingan kelas tahanan. “Sebagian sudah saya pasarkan ke luar kota. Harganya bervariasi bisa sampai Rp 800 ribu per lembar,” bebernya.

Sedangkan Rosnaidah, Kepala Lapas Kelas II A Wanita Semarang mengungkapkan terdapat 30 tahanan wanita yang ikut peragaan busana. Saat ini, total tahanan yang ada di lapasnya terdapat sebanyak 389 orang.

“Tadi ada 50 orang yang datang ke acara peragaan busana dan 30 orang di antaranya tampil di atas panggung. Sangat meriah, kami mengapresiasi adanya acara ini,” ujarnya.

Lapas Kelas II A Wanita selama ini memberdayakan tahanannya untuk membuat ragam produk fesyen. Tiap hari, ada 180 tahanan yang tekun menjahit baju, membuat payet hingga merajut sajadah di ruang bimbingan kelas.

“Bahkan setiap bulan kami mengeluarkan upah buat mereka senilai Rp 20 Juta. Baju-baju dan payetnya lalu dijual lagi ke Anne Avantie yang memang rutin memesan bahan busananya di sini,” katanya bangga.

Ke depan, ia berharap para tahanan bisa mendapatkan sertifikasi dari Pemkot agar karyanya dapat diakui masyarakat luas saat bebas nanti. “Semoga saja ya mas. Soalnya mereka butuh pengakuan ketika bebas nanti, apalagi produknya bagus-bagus,” tandasnya.

Gayung pun bersambut, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu pun menyatakan siap mengakomodir pemasaran produk yang dihasilkan para tahanan Lapas Kelas II A Wanita.

“Nanti kita fasilitasi dalam acara pameran yang diadakan di Galery Semarang Art maupun pameran lainnya di luar kota,” kata dia. (far)

You might also like

Comments are closed.