Asah Otak, Menggiring Bidak Catur Gajah

Menyebar di Semarang Sejak 2010

Dalam permainan ini, masing-masing pemain mendapat jatah lima pion. Cara berjalan bidak-bidak catur gajah adalah menyilang. 

BIDAK-bidak kayu saling berhadapan di atas papan. Ada bidak bergambar pion merah (bing), bidang menteri (shu), bidak gajah (xiang), bidak kuda (ma), bidak benteng (ci), bidak meriam (pau) dan bidak pion hitam (zu). Mirip sekali permainan catur.

Pandangan mata Lina Listiani tajam pada mengarah pada bidak yang akan ia geser maju. Ia tahu betul kunci untuk memenangkan permainan catur gajah, yakni ada pada sebuah bidak meriam.

Lina Listiani saat main sekak gajah di pelataran rumahnya. (foto: metrojateng.com/ Fariz Fardianto)

Bidak meriam itulah yang kerap dipakai untuk menyerang lawan-lawannya sekaligus untuk bertahan. “Bidak meriam namanya pau. Ini alat menyerang, alat bertahan dan mematikan raja. Mainnya loncat satu satu,” kata Lina.

Meski catur adalah permainan yang dikenal oleh macam-macam lapisan masyarakat di Indonesia, tapi tidak banyak yang bisa memainkan catur gajah seperti yang dimainkan Lina. “Xiangqi atau catur gajah merupakan permainan yang sudah mendarah daging di dataran Tiongkok,” kata Lina sembari memeragakan cara main catur gajah, saat kami menemui dia di rumahnya, Kawasan Pecinan, Semarang Tengah, Sabtu, 23 Maret 2019 lalu.

 

Cara Bermain

Dalam permainan ini, masing-masing pemain mendapat jatah lima pion. Lebih sedikit dari jumlah pion pada catur yang biasanya itu. Satu hal lagi yang membedakan adalah cara berjalan bidak-bidak catur gajah adalah menyilang.

Bagi orang awam, cara bermain catur jenis ini agak membingungkan. Sebab, pada papan bidaknya hanya tergambar garis-garis merah sebagai penanda jalur melangkah. Tidak seperti catur umumnya yang papannya berwarna hitam dan putih.

“Kalau sudah biasa main catur, jadinya akan makin gampang memainkan skak (catur – red) gajah,” jelasnya.

Bidak-bidak catur gajah pada papan permainannya. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

 

Wadah Organisasi

Layaknya olahraga lain, catur gajah juga kerap dilombakan. Bahkan ada pula grandmasternya. “Makanya, kamu kalau udah biasa main catur, belajar sekak (catur-red) gajah dua hari aja pasti udah bisa,” kata Lina kepada kami.

Tahun 2010 catur gajah mulai dikenalkan di Ibukota Jawa Tengah. Propinsi Jawa Tengah kini sudah punya kepengurusan untuk olahraga catur gajah. Namanya Persatuan Xiangqi Indonesia (XIQI) Pengurus Cabang Jawa Tengah. Pengurus XIQI merupakan pecahan dari Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia). Lina sendiri didapuk sebagai sekretaris XIQI Jawa Tengah.

XIQI Jateng punya sepuluh atlet catur gajah. Usia mereka bervariasi, mulai anak berumur 10 tahun sampai paling tua berumur 80 tahun.

“Sekarang kami lagi giat mengajari yang muda-muda. Karena kami enggak mau kalah sama Jawa Barat, di mana skak (catur – red) gajah justru sudah masuk ke proses pembelajaran lingkungan pondok pesantren. Pengurus XIQI Jawa Barat sering mengajari santri-santri main skak gajah,” urainya.

 

Regenerasi

Semangat untuk mempopulerkan catur gajah memang sedang bergelora. Tetapi Lina mengakui, tak mudah mengajak anak-anak untuk menekuni olahraga yang satu ini.

Dirinya selama ini kerap mendapat bibit unggul untuk disalurkan menjadi atlet. Namun hambatan selalu mengadang. Terutama ketika ada anak yang sudah lulus sekolah memilih melanjutkan kuliahnya ke luar provinsi.

Cara bermain catur gajah adalah berjalan menyilang. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

“Saya agak kesulitan melakukan regenerasi. Karena banyak anak lulus sekolah, terus menghilang. Begitu terus. Padahal paling sulit mendapat anak yang benar-benar suka main catur. Sampai-sampai atlet master nasional wanita kita tarik buat ajari ke sekolah-sekolah. Biar siswa-siswa bisa main catur gajah ,” cetusnya.

Hingga saat ini, Lina telah banyak menelurkan atlet catur gajah unggulan di sejumlah daerah. Purwokerto dan Purbalingga salah satunya.

Sebagai orang yang lama menekuni olahraga tersebut, Lina sendiri pernah meraih juara Piala Walikota. Tepatnya 67 tahun silam. Kini Pengurus XIQI Jateng sudah punya empat cabang di Solo, Semarang, Purwokerto dan Purbalingga.

 

Asah Ketajaman Otak

Belajar main catur gajah punya manfaat tersendiri. Selain mengasah ketajaman otak, catur gajah punya filosofi pantang menyerah. Yang paling penting, bermain catur gajah bisa mengurangi pikun.

Karenanya, kata Lina, catur gajah saat ini sering dimainkan oleh para lansia di Pecinan, untuk sekadar mengisi waktu luang. Hal ini menurut Lina perlu digiatkan lagi supaya sekak gajah jadi alternatif permainan bagi anak-anak yang tumbuh di era digital.

Lina berharap catur gajah bisa dikenal luas oleh masyarakat Jawa Tengah, sehingga mampu mengikutsertakan dalam ragam kejuaraan tingkat nasional maupun internasional.

“XIQI ini kan sudah diikutsertakan dalam kejuaraan internasional sejak 2010. Eman-eman sebenarnya kalau orang dari negara kita enggak ada yang berpartisipasi di ajang XIQI Internasional Contest,” akunya. (*)

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh metrojateng.com

 

 

Comments are closed.