Atasi Abrasi Demak, Ganjar Bangun Sabuk Pantai 15 Kilometer

Penataan kawasan pesisir dengan pembangunan Kampung Wisata Bahari Tambaklorok Semarang, sebagai salah satu cara menangkal abrasi dan rob. Foto: metrosemarang.com/dok
Penataan kawasan pesisir dengan pembangunan Kampung Wisata Bahari Tambaklorok Semarang, sebagai salah satu cara menangkal abrasi dan rob. Foto: metrosemarang.com/dok

METROSEMARANG.COM – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal membuat sabuk pantai sepanjang 15 kilometer untuk menangkal abrasi dan rob yang menggerua kawasan Teluk Semarang, khususnya di Kabupaten Demak.  Sabuk pantai tersebut akan memanjang dari muara sungai Banjir Kanal Timur di Kota Semarang hingga muara Kali Wulan di Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak.

Untuk merealisasikan target tersebut, Pemprov Jateng pada APBD 2016 menganggarkan penyusunan detail engineering design (DED) sebesar Rp 1 miliar. “Pertengahan tahun ini saya berharap sudah jadi konsep desainnya. Tahun depan konstruksi sabuk pantai sudah bisa dimulai,” katanya, Kamis (11/2).

Menurut Ganjar, abrasi dan rob ini adalah permasalahan bersama antara Kendal, Kota Semarang, dan Demak yang masuk Kawasan Teluk Semarang. Selama ini pemerintah tidak tinggal diam. Upaya mengatasinya sudah beberapa kali dilakukan. Diantaranya dengan penanaman mangrove, pembuatan sabuk pantai dengan buis beton, dan break water.

“Tapi harus diakui upaya selama ini kurang maksimal karena tidak menyeluruh,” katanya.

Karena itu Pemprov Jateng sejak 2014 mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk serius memperhatikan Kawasan Teluk Semarang. Pusat pun setuju dan telah membuat masterplan. Konstruksi sabuk pantai nantinya menggunakan duit APBN melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) secara multiyears mulai 2017.

Ganjar yang mengunjungi Desa Bedono dan Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak pada Rabu (10/2) lalu juga meminta Pemkab Demak menangani masalah sosial. Khususnya masyarakat terdampak abrasi dan rob yang terancam kehilangan tanah dan rumah.

Menurutnya bantuan dari Pemprov untuk Kabupaten Demak setiap tahunnya termasuk paling banyak dibandingkan daerah lain. Tapi justru masyarakat pesisir Sayung yang terdampak abrasi parah tidak mendapat perhatian yang cukup.

“Sensitivitas politik harus kita lakukan. Makanya saya datang ke sini (ke wilayah Pesisir Sayung) agar ini (ketimpangan bantuan) dihentikan. Bantuan harus sampai ke wilayah pinggiran. Kasihan masyarakat kita,” tegas

Ganjar mengajak masyarakat untuk bersedia pindah ke lokasi yang lebih layak ditinggali. Pemerintah bisa membantu dengan membangun rumah susun, menyedikan tanah, atau membantu biaya pendidikan anak.

“Sembari menunggu pembangunan sabuk pantai, bantuan untuk masalah sosial bisa dimulai sekarang,” tandasnya.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pemprov Jateng Prasetyo Budhi Yuwono menambahkan, pihaknya belum menetapkan konstruksi sabuk pantai. “Apakah hard structure seperti sea wall, droine pemecah ombak seperti di Pekalongan, atau mengkombinasi dengan struktur di Bali dan Rembang ataukah kombinasi dengan mangrove,” katanya.

Pemprov juga memberi perhatian pada pesisir Pekalongan, terutama di Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, yang dua pekan lalu dikunjungi Ganjar. Menurut Prasetyo, ada tiga persoalan di sana. Yakni, pengamanan abrasi, pengendalian Sungai Bremi, dan penataan drainase lingkungan.

“Saya diperintahkan untuk menyusun anggaran pada 2017,” tegasnya. (byo)

Comments are closed.