Awal Musim Hujan, Berpulangnya Sang Pengarang

Berita Pekan Ini

Puncak hujan bakal muncul pada Januari 2019, curah hujan akan naik menjadi 300-400 milimeter. Hujan akan terus berlangsung sampai April mendatang.

STASIUN Klimatologi Kelas I BMKG Kota Semarang memperkirakan, awal Desember ini cuaca tengah memasuki musim hujan. BMKG menyebut hujan dengan intensitas curah hujan 100-200 milimeter akan terjadi sampai akhir bulan. Puncak hujan bakal muncul pada Januari 2019, curah hujan akan naik menjadi 300-400 milimeter. Hujan akan terus berlangsung sampai April mendatang.

Prakiraan tak itu meleset. Hujan deras disertai angin kencang membuka musim hujan tahun ini. Banjir dan pohon tumbang terjadi di beberapa titik Kota Semarang. Minggu (2/12/2018) hujan berujung genangan di Jalan Kaligawe yang merupakan jalan utama penghubung Pantura. Genangan terjadi di simpang tiga Pasar Genuksari sampai jalur kereta api Sawah Besar, Gayamsari. Sejumlah sepeda motor yang melintasi kawasan itu mogok.

pohon tumbang
Pohon tumbang lantaran angin kencang awal musim hujan, di Jalan Pahlawan. (foto: metrojateng.com)

Hujan disertai angin kembali terjadi pada Senin (3/12/2018). Sebuah pohon besar tumbang di Jalan Pamularsih, Semarang, sekitar pukul 16.15. Pohon berdiameter sekitar 1,5 meter itu melumpuhkan jalan arah Kaligarang menuju Kalibanteng. Pohon di Jalan Pahlawan juga tumbang karena hujan dan angin sore itu. Tak ada catatan korban jiwa atas tumbangnya pohon-pohon tersebut. Petugas mengatasinya dengan memotong pohon dan merekayasa arus lalu lintas.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah meminta kepada kabupaten/kota di Jateng untuk memangkas dahan-dahan pepohonan yang membahayakan pengendara. Di Kota Semarang, misalnya ada di Jalan Imam Bonjol Semarang. Kemudian banyak ditemukan juga di Banyumanik dan beberapa daerah lainnya.

Lantaran hujan lebat Senin (3/12/2018) tersebut, jalanan pusat Kota Semarang terendam banjir dengan ketinggian bervariasi. Sepanjang Jalan Hasanudin, Imam Bonjol, Pemuda, Gajahmada, Pasadena, Pandanaran serta Simpang Lima, ketinggian banjir mencapai 10-50 sentimeter. Tak ketinggalan, Stasiun Tawang Kota Semarang juga tergenang air.

Hingga keesokan harinya, air yang menggenangi beberapa titik di Kota Semarang belum seluruhnya surut. Salah satu yang terparah adalah genangan di bawah Jalan Tol Kaligawe. Hal ini menyendat arus lalu lintas di sana. Bebrapa kendaraan khususnya mobil dan sepeda motor macet karena nekat menerobos banjir. Daerah lain yang masih tergenang yakni Tambakrejo, karena debit air Sungai Pacar naik.

Tak kurang dari 19 unit pompa penyedot air diaktifkan untuk mengatasi genangan di sepanjang ruas Jalan Kaligawe, antara lain di belakang Terminal Terboyo, di depan Masjid Ngilir, di bawah jembatan jalan Tol Kaligawe, serta beberapa titik lainnya. Saluran gendong, pembuangan samping, dipandang mendesak Fungsi saluran itu adalah menampung air hujan di tepi jalan lalu mengalirkan ke dranase.

Sejauh ini, yang menjadi tumpuan untuk mengatasi genangan di Jalan Kaligawe adalah Rumah Pompa Sringin. Rumah ini memiliki kapasitas 10.000 liter per detik dengan lima pompa.

Genangan air di Jalan Raya Kaligawe pada akhirnya menurun. Tapi masalah lain datang. Ratusan rumah di RW 1 Karangkimpul, Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari, terendam air luapan Sungai Banjir Kanal Timur, Sabtu (8/12/2018) pagi. Luapan tersebut terjadi setelah malam sebelumnya hujan mengguyur Kota Semarang.

Air sungai meluap melalui tanggul yang belum selesai pembangunannya di ujung jembatan Kaligawe. Luapan air terjadi sekitar pukul 07.30 dan langsung menerjang rumah warga di RW 1. Ketinggian air yang merendam rumah warga mencapai sekitar 1 meter.

Sejumlah petugas gabungan dari BPBD dan Dinas Kesehatan Kota Semarang disiagakan pasca meluapnya Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Sabtu (8/12/2018). Mereka juga mendirikan dapur umum untuk membantu warga di RW 1, Kelurahan Kaligawe, Gayamsari, Semarang.

Soal banjir ini, alasan sampah menjadi sorotan. sampah menjadi kendala utama yang mengganggu proses penyedotan genangan air di kawasan Kaligawe. Tidak jarang pompa rusak terbakar karena tersumbat oleh sampah. Di Jembatan Kaligawe itu tumpukan sampah sangat banyak ketika debit air naik, dampaknya air meluap ke permukiman

 

Sang Pengarang Berpulang

Di tengah hujan dan genangan air di Kota Semarang, kabar duka datang. Novelis kenamaan, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin akrab disapa NH Dini meninggal dunia, Selasa (4/12/2018) pukul 16.30 WIB.

Ia menghembuskan napas terakhirnya saat berada di ruang IGD RS Elisabeth, Jalan Kawi, Kota Semarang. Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik. Llau dikremasi keesokan harinya di Krematorium Ambarawa. 

NH Dini mengalami luka pada bagian kepala akibat kecelakaan di di tanjakan Jalan Tol KM 10 Kota Semarang, Selasa (4/12/2018) siang. Kecelakaan tersebut terjadi saat mobil yang ditumpangi oleh NH Dini sedang dalam perjalanan dari arah Gayamsari menuju Tembalang. Sesampainya di lokasi kejadian, ada sebuah Truk berpelat nomor AD-1536-JU yang melaju di depannya. Sebelumnya truk tersebut berhenti lantaran mengalami kerusakan mesin.

Saat pengemudi usai melakukan perbaikan dan hendak melanjutkan perjalanan, tiba-tiba truk tersebut berjalan mundur membentur mobil Avanza berpelat nomor H-1362-GG yang ditumpangi oleh NH Dini.

Truk tersebut diduga kelebihan muatan. Truk yang mengangkut bawang putih itu mengalami patah pada roda as hingga membuat laju kendaraan tak terkendali dan mambentur mobil yang ada di belakangnya.

Sopir truk penabrak mobil yang ditumpangi NH Dini, Gilang Septian (28) ditetapkan sebagai tersangka. Pria warga Magelang tersebut dinilai lalai terhadap muatan pada kendaraan yang ia kendarai hinga mengakibatkan kecelakaan.

NH Dini dikenal sebagai wanita yang mandiri. Semasa hidupnya ia dinilai tak suka merepotkan orang lain termasuk keluarganya. Sastrawan kelahiran 82 tahun silam tersebut meninggalkan dua orang anak dan empat cucu. Anak pertamanya yakni Mari Claire Lintang dan anak kedua Pierre Louis Padang Coffin yang merupakan animator terkenal di dunia. (*)

Comments are closed.