“Awas Uang Palsu”, Suara dari IDOPU

Dompet Pendeteksi Uang untuk Tuna Netra

Jika dompet itu dimasuki uang kertas, maka seluruh perangkat di dalam dompet itu akan bekerja. Alat sensor secara otomatis akan mengeluarkan sinyal deteksi.

SEBUAH dompet berwarna hitam berada dalam genggaman Rizky Ajie Aprilianto (22 tahun), di panggung Auditorium Universitas Negeri Semarang (Unnes). Itu bukan sembarang dompet. Di depan ribuan wisudawan hari itu, Rabu 12 September 2018, Rizky menguraikan keistimewaan dompetnya itu.

 

Jika uang itu palsu, dompet akan berbunyi “awas uang palsu”. Kalau uang yang dimasukkan asli, maka dompet akan menyebutkan nominal dan keterangan jika uang itu asli.

-Rizky Ajie Aprilianto, salah satu kreator IDOPU-

 

Bentuk dompet itu sederhana. Hanya saja, dompet itu dilengkapi kotak kecil berisi mesin ultraviolet, serta sensor cahaya. Di dalam dompet itu juga ada untaian perangkat sensor warna, microcontroller, MP3 player, baterai, hingga perangkat otomatis powerbank.

Jika dompet itu dimasuki uang kertas, kata Rizky, maka seluruh perangkat di dalam dompet itu akan bekerja. Alat sensor secara otomatis akan mengeluarkan sinyal deteksi. Pesan hasil deteksi uang kemudian diteruskan ke perangkat yang bisa menyuarakannya.

Pesan suara yang diperdengarkan dari dalam dompet, akan berisi nilai nominal dan keaslian uang. “Jika uang itu palsu, dompet akan berbunyi ‘awas uang palsu’. Kalau uang yang dimasukkan asli, maka dompet akan menyebutkan nominal dan keterangan jika uang itu asli,” kata Rizky. Ia memakai google voice untuk mengisi suara penyampai pesan.

Dompet itu dinamai IDOPU, kependekan dari Inovasi Dompet Pendeteksi Uang. Dompet itu diperuntukkan bagi tuna netra. Dengan keterbatasan pengelihatan, para tuna netra umumnya sulit membedakan keaslian lembaran uang kertas. Dompet IDOPU diharapkan bisa mencegah kemungkinan para tuna netra menjadi korban penipuan.

Tingkat akurasi pendeteksian IDOPU pada keaslian uang, kata Rizky, mencapai 93,45 persen. Namun menurut Rizky, IDOPU masih belum sempurna. “Dompet tersebut masih kami kembangkan supaya lebih sederhana, lebih kecil dan mudah dibawa kemanapun,” ujar Rizky. Ia merancang IDOPU itu bersama dua rekannya, Oky Putra Pamungkas dan Nur Anita.

dompet tuna netra
Rizky Ajie Aprilianto menunjukkan IDOPU pada hari wisudanya. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Untuk merancang dompet “ajaib” itu, Rizky menghabiskan waktu empat bulan. Sedangkan ongkos pembuatan IDOPU berkisar antara Rp 375 ribu sampai Rp 420 ribu. Sejauh ini, IDOPU telah mendapat respon positif dari kalangan tuna netra. Rizky telah mendapatkan pesanan dari kelompok tuna netra di Semarang dan mematok harga Rp 500 ribu per dompet.

 

Medali PIMNAS

Rizky bersama Oky Putra dan Nur Anita pada mulanya tergabung dalam satu tim yang mengikuti kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-31 tahun 2018 yang dihelat oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. PIMNAS yang digelar di Universitan Negeri Yogyakarta pada 28 Agustus 2018 hingga 2 September 2018 itu diikuti oleh ratusan peserta daro 136 perguruan tinggi di Indonesia.

IDOPU dibawa ke ajang itu dan berhasil meraih salah satu medali. “Kami berhasil meraih perak untuk kategori presentasi PIMNAS 31,” ujar Rizky.

Tak hanya PIMNAS, Rizky yang berasal dari Kabupaten Tegal itu telah mengikuti puluhan perlombaan lainnya. Sekurangnya ada 51 kompetisi yang telah ia ikuti untuk mengasah kemampuannya. “Dan banyak menang,” katanya.

Belakangan ia mengikuti lomba dengan motivasi mencari dana untuk pengobatam ibunya yang mengidap stroke. Di Auditorium Unnes itu, putra pasangan Slamet Kadan dan Taridah juga termasuk salah satu wisudawan. Ia berhasil meraih IPK 3,64. (*)

 

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana

Artikel ini telah dimuat metrojateng.com
You might also like

Comments are closed.