Bahruddin Darmawan, Dosen Terkecil Berjuang untuk Kesetaraan

Bahruddin Darmawan Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Bahruddin Darmawan
Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

TERLAHIR dengan tubuh mungil setinggi 1,28 meter tak membuat Bahruddin Darmawan menyerah pada kenyataan. Belajar dari keterbatasannya, kini pria 39 tahun ini telah membuktikan bahwa nasib seseorang tidak ditentukan dari kesempurnaan yang dimiliki.

Berkat kegigihannya mendalami dunia persyutingan, pada 2012 lalu ia dipercaya UIN Walisongo Semarang untuk menjadi dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Uddin yang juga alumni UIN Walisongo ini mengaku pengalaman di dunia persyutingan diperoleh setelah bergabung di beberapa studio TV lokal di Semarang sejak tahun 2002.

“Pertama kali jadi dosen ngajar mata kuliah Teknik Produksi Siaran Dakwah. Lalu bertambah ngajar Penyutradaraan, Editing Video, dan Teknik Kamera. Semuanya saya pelajari secara otodidak bareng teman-teman kerja pas di studio TV,” paparnya saat berbincang dengan metrosemarang.com, Senin (18/5).

Karena memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari orang pada umumnya, Uddin dijuluki sebagai ‘Dosen Terkecil’. Sebutan itu pun muncul setelah ia sempat tampil dalam acara talkshow di salah satu TV swasta nasional.

Meski terbilang sebagai Dosen Terkecil, pria asli Kota Lumpia ini tak merasa minder untuk berbagi ilmu dengan mahasiswanya. Uddin lebih sering mengajar langsung secara praktik di lapangan, lantaran kondisinya yang kesulitan jika harus mengajar di ruang kelas.

“Orang kecil kaya saya gak nyampai kalau nulis di white board. Selain itu belajar di kelas juga menjemukan, lebih nyaman di luar ruangan dan praktik langsung,” ungkapnya.

Namun berkat cara mengajarnya itu, Uddin dikenal sebagai dosen yang sangat bersahabat. Bahkan ia lebih sering disapa ‘Mas’ oleh mahasiswanya. “Saya lebih senang dipanggil ‘Mas’ daripada ‘Pak’, karena itu lebih bisa dekat dengan mahasiswa. Kadang saya juga belajar dari mereka (mahasiswa) kok, kenapa seolah-olah derajat kita harus lebih tinggi,” tambahnya.

Berbagi Pengalaman

Mengingat keberhasilan yang sudah diraih, anak bungsu dari enam saudara ini berharap bisa berbagi pengalaman dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik sepertinya. Sebab ia menilai banyak dari mereka yang masih belum bisa percaya diri untuk meraih cita-cita.

“Prinsip saya, jika orang lain bisa, kenapa saya gak. Mereka yang terbatas fisiknya harus diberikan foundation mental, agar lebih percaya diri. Saya yakin untuk sekarang ini pemerintah masih belum sepenuhnya mengurusi orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik,” tukasnya.

Untuk itu, Uddin berniat akan mengabdikan diri kepada pemerintah terkait pembinaan bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Beberapa proposal pengajuan program pembinaan juga sudah ia serahkan ke beberapa instansi terkait.

“Meski harus berhenti jadi dosen ya gak apa-apa. Karena saya ingin negara ini ada kesetaraan bagi mereka yang normal dan yang memiliki keterbatasan, baik pendidikan maupun dalam kerja. Perlu juga diyakini bahwa seburam-buram harapan, selalu ada celah yang bisa membawa berkah dan peluang di masa depan,” pungkasnya. (ans)

 

You might also like

Comments are closed.