Balai Harta Peninggalan Ambil Alih Sembilan Gedung Tua di Jateng

METROSEMARANG.COM – Balai Harta Peninggalan (BHP) telah mengambil alih pengelolaan gedung tua tak bertuan yang tersebar di Kota Semarang dan Ambarawa untuk selanjutnya dikelola kembali maupun dijual sebagai pemasukan kas negara.

Ilustrasi. Warga membersihkan Kota Lama dari aksi vandalisme. Pemerintah akan mengambil alih pengelolaan bangunan tua yang terbengkalai. Foto: metrosemarang.com/dok

Gedung-gedung tua yang diambil alih di antaranya, Gedung Kluth Sarinah di Kampung Grogolan Mataram Semarang, M Kieve di Jalan Kledung, Aa Rodenburgh di Kampung Progo II, Gedung Wilhemina di Ambarawa, bangunan PT Ngohok di Semarang, serta bangunan milik Setyowati.

“Ada yang kosong sejak 2013 silam, lalu juga rusak terkena rob. Selain itu yang bangunan miliknya Bu Setyowati sedang dalam proses pengajuan ke pengadilan untuk dijual,” ungkap Kepala Balai Harta Peninggalan (BHP) Semarang, Aris Ideanto, saat bertemu wartawan di kantornya, Senin (10/4).

Ia pun memastikan bahwa gedung tua itu sudah tak berfungsi karena tidak diketahui pemiliknya. Maka dari itu, dua gedung di antaranya kini sudah dijual.

“Dua bangunan sudah dijual oleh negara, nilainya bervariasi antara Rp 150 juta dan 300 juta. Lokasinya ada di Semarang. Tapi tujuh unit lainnya hanya sebatas kita ambil alih aja, belum ada niatan untuk dijual,” tegasnya.

Sembilan gedung yang diambil alih negara kebanyakan berada di kawasan lingkar Kota Lama serta di Kabupaten Semarang. Kondisinya, katanya sangat tidak terawat dan sudah rusak.

Pihaknya saat ini tengah menunggu koordinasi dengan Pemkot Semarang untuk merawat bangunan cagar budaya yang ada di Kota Lama. Ia ingin ada proses renovasi tanpa merusak struktur aslinya.

Tak hanya itu saja, katanya, emerintah juga mengelola bangunan yang belum diketahui ahli warisnya tapi masih dikelola BHP. “Beberapa bangunan telah disewakan kepada pihak swasta, uangnya masuk ke kas negara,” tegasnya.

“Yang bisa dimasukkan dalam harta peninggalan adalah bangunan yang selama 30 tahun tidak diurusi dan tidak diketahui pemiliknya,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.