Baliho Garuda Jadi Resleting di Gubernuran Tuai Kontroversi

Baliho Hari Kebangkitan Nasional di Kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan. Foto: www.facebook.com/chandra.a.nugroho
Baliho Hari Kebangkitan Nasional di Kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan. Foto: www.facebook.com/chandra.a.nugroho

SEMARANG – Baliho Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang terpasang di Gedung Gubernuran, Jalan Pahlawan, menuai kontroversi. Baliho tersebut dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap lambang negara.

Baliho yang dipasang mulai Selasa (19/5) malam itu banyak dibicarakan lewat social media, terutama situs pertemanan Facebook dan microblogging Twitter. Satu di antaranya Ranger yang merupakan akun milik Chandra AN.

Dalam status Facebook-nya, Chandra mengatakan, bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah lengah atas penempatan dan penghormatan lambang dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila.

“Lambang tersebut dengan seenaknya sendiri menjadi materi ilustrasi dan dijadikan gantungan resleting yang menghubungkan warna Merah dan Putih bendera Kebangsaan. Ironinya, leher Burung Garuda ditembus ring pengingat tarikan resleting. Saya sudah ingat kepada Kepala Biro HUMAS agar bisa menempatkan lambang negara tersebut bukan sebagai bahan ilustrasi yang tidak semestinya. Kalau ini dibiarkan dan masyarakat tidak peka, maka yang terjadi adalah pelecehan simbol negara ada di mana-mana dan sangat mungkin Ideologi kita ini akan digeser dengan ideologi lain. Karena itu turunkan poster tersebut segera atau jangan sampai runtuh hingga gedung-gedungnya. SELAMATKAN PANCASILA sekarang juga.

Dihubungi melalui telepon, pewarta foto salah satu surat kabar lokal itu mengaku kali pertama melihat baliho ketika meliput unjuk rasa mahsiswa terkait Harkitnas di gerbang Gubernuran. Pada saat itu ia berbincang dengan Kasdim Mayor Inf Rahmatullah. “Kasdim menyatakan bahwa itu nggak bener, kan itu lambang negara, bisa dianggap pelecehan,” kata dia.

Setelahnya, Chandra menemui Kepala Biro Humas Setda Jateng Sinoeng N Rachmadi yang kebetulan juga menemui pendemo. Ia memperoleh klarifikasi bahwa pihak Humas Pemprov sebagai penanggung jawab baliho tidak bermaksud melecehkan lambang negara.

Chandra menilai, bukan kali ini saja baliho Pemprov menampilkan visual yang sensitif. Beberapa kali ia melihat foto dan gambar baliho nyerempet hal-hal yang sensitif. “Pernah ada ada anak kecil membawa baju PNS, dan bendera merah putih ditenteng. Bagi saya jangan sembarangan menggunakan simbol negara dan seragam institusi negara, kalau tidak pas kan bisa sensitif,” tegasnya.

Namun tidak semua sependapat dengan Chandra. Beberapa akun twitter menyatakan baliho tersebut tidak bermasalah. Misalnya akun @Joshua_Andrean yang menuliskan “Lha kalau lambang garuda ada di resleting celanamu, itu baru pelecehan”.

Begitu juga dengan akun @rifslam yang mengatakan  “kok iso pelecehan..? nalare piye..?”. Ia menambahkan lagi kicauannya dengan kalimat “tgl 15 januari 2013, MK sudah mmbatalkan uu produk orla tntang pnggunaan lambang negara. dadi biasa wae kas,… rausah melu ribut! (byo)

[socialpoll id=”2272693″]

 

You might also like

Comments are closed.