Balon Udara Ganggu Penerbangan Menuju Semarang

METROSEMARANG.COM – Tradisi menerbangkan balon udara yang kerap dilakukan warga Pekalongan dan Wonosobo untuk menyambut 1 Syawal ternyata disorot berbagai pihak. Musababnya, balon-balon yang diterbangkan warga ternyata mengganggu aktivitas penerbangan.

Bandara Ahmad Yani Semarang
Foto: metrosemarang.com

Kristanto, General Manager AirNav Indonesia Cabang Semarang bahkan menemukan balon udara dengan ketinggian tertentu yang menghalangi jarak pandang para pilot saat mengudara.

“Banyak sekali dan memakai nitrogen. Yang dirugikan para penerbang yang melintas dari Cengkareng menuju Yogyakarta maupun Semarang,” ungkap Kristanto saat memantau pengamanan penerbangan Bandara Ahmad Yani, Rabu (28/6).

Hari ini, ia menyatakan ada laporan dari pilot Citilink bahwa mereka melihat empat balon yang terbang dengan jarak 53 meter dari landasan pacu Bandara Ahmad Yani. Saat kejadian, sang pilot hendak mendaratkan pesawatnya ke bandara.

Komplain lainnya juga diungkapkan oleh dua pilot maskapai lokal. Selain itu, menurutnya masih ada 10 maskapai asal Yogyakarta yang mengeluhkan gangguan balon udara saat arus mudik dan balik berlangsung.

Tak cuma datang dari penerbang lokal saja. Kristanto bilang, Malaysia Airlance yang terbang dari Kuala Lumpur menuju Sydney pergi-pulang juga komplain kepada pihaknya.

Pihak Malaysia Airlance menganggap balon udara sangat mengganggu karena terbang diatas ketinggian 50 ribu fit dari muka laut.

Ia menyebut hal ini sangat berbahaya bagi para penerbang mengingat jarak pandang mereka jadi tidak stabil dan mengganggu konsentrasi awak maskapai.

Balon udara yang ditemukan berukuran besar dengan lebar 15 meter. Jarak ketinggian balon yang muncul di langit Jateng dan Yogyakarta juga ada yang mencapai 15 ribu fit dari muka laut.

“Coba bayangkan kalau sampai masuk lubang mesin pesawat tentu sangat membahayakan keselamatan penumpang. Ini merugikan penerbangan. Yang paling bahaya jika dimasuki petasan,” sergahnya.

Atas keluhan para pilot, ia sudah meninjau beberapa desa Wonosobo dan Pekalongan untuk mengecek bagaimana proses pelepasan balon udara ke langit.

Sesuai UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, ia melarang warga untuk menerbangkan balon udara. “Sudah kami koordinasikan dengan Polres Wonosobo untuk menghentikan tradisi yang membahayakan dunia penerbangan tersebut,” terangnya.

AirNav, lanjutnya telah menyebar notam kepada semua perusahaan penerbangan terhitung hingga 7 Juli untuk meminta para pilot mencermati titik ketinggian dan jarak balon dengan hidung pesawat saat mengudara. Sehingga pilot bisa menghindari jalur-jalur yang terdapat balon udara. (far)

You might also like

Comments are closed.