Baru 100 Hari Kematian Istri, Ngadikan ‘Menyusul’ bersama Anak Sulungnya

METROSEMARANG.COM – Ihsan Ngadikan, satu dari empat korban tewas tertabrak kereta merupakan warga Dinas Mas 9 nomor 8 Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Semarang. Meninggalnya Ngadikan yang hanya berselang tiga bulan dari kematian istrinya, sangat mengejutkan keluarga dan tetangganya.

Mendiang Ihsan Ngadikan menjadi korban dalam kecelakaan di perlintasan Sedadi Grobogan, Sabtu (20/5). Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Tak hanya itu, ia meninggal tertabrak kereta bersama anak sulungnya, Mochammad Syamsul Bahtiar dan dua orang lain yang merupakan tetangganya yakni Sri Agus Bambang dan Agus Abdullah. Mereka tewas dalam perjalanan mengantarkan putra keluarga Syaiful yang baru menikah seminggu lalu di Purwodadi, Sabtu (20/5) sekitar pukul 10.35.

Namun naas, mobil yang ditumpangi Ngadikan, Bahtiar, Sri Agus bambang dan Abdullah tertabrak Kereta Api Argo Bromo Anggrek di KM 53/300 hingga ringsek dan terbakar. Keempatnya tewas seketika di lokasi kejadian.

Ngadikan, merupakan​ Kepala Sekolah SDN Meteseh 01 sekaligus pengurus Masjid Baitussalam kompleks Perumahan Dinar Mas bersama dengan Syaiful dan Agus Bambang.

Semasa hidupnya Ngadikan dikenal sebagai warga yang baik dan humoris. Ia juga merupakan pribadi yang rajin ibadah, dan khotib di Masjid Baitussalam. Terlihat dari suasana rumah duka yang ramai didatangi warga setempat untuk menemani Helmi Adhi Darmawan yang kini sebatang kara.

Helmi merupakan anak bungsu dari perkawinan Ngadikan dan Siti Alfiah yang juga sudah meninggal sekitar tiga bulan lalu karena sakit. Kini Helmi berusia 17 tahun dan masih bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 11 Grafika Semarang.

“Saya nggak nyangka, beliau itu orangnya baik dan rajin ibadah. Jumat lalu beliau terakhir kontak saya melalui WhatsApp untuk meminta saya menjadi imam pada hari itu,” ungkap Pratama Jujur Wibawa, tetangga yang juga pengurus Masjid Baitussalam.

100 hari yang lalu istrinya juga meninggal karena sakit. Ia prihatin dengan kondisi anak bungsu Ngadikan yang kini yatim piatu.

“Saat ini kami sedang berkoordinasi dengan tetangga yang lain untuk penjemputan jenazah. Sebab, di rumah ini almarhum meninggalkan putranya sendirian,” ujarnya.

Sementara itu, adik ipar Ngadikan, Muali, mengaku kaget dan syok mendengar berita peristiwa naas tersebut. Ia merasa prihatin dengan Helmi yang sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya beserta kakaknya.

“Saya sendiri kaget, sangat syok. kasihan dia sekarang sendirian, baru 100 hari ditinggal ibunya sekarang bapak dan kakaknya. Padahal kakaknya juga baru saja lamaran,” ujar Muali kepada metrosemarang.com. (fen)

You might also like

Comments are closed.