“Because This Is My First Life”, Mari Berpikir Seperti Kucing

MANUSIA memiliki kemampuan berpikir yang lebih dominan dibanding dengan makhluk lain. Namun terkadang apa yang dipikirkan manusia bisa begitu kompleks dan rumit, hingga menjadikannya begitu sedih dan murung. Apalagi jika mereka bertemu dengan waktu, konsep usia masa yang sehari dapat diartikan dengan 24 Jam.

Sementara itu, lihatlah kucing-kucing. Bangun tidur, mencari makanan, tidur lagi, bermain dengan kawanan, sesekali mencari pasangan dan bercinta, beranak. Mereka terlihat begitu santai menjalani kehidupan.

sumber: celotehkiy.com

Lalu apa hubungannya cara berpikir manusia, cara hidup kucing dan waktu?

Kamu pasti tahu kan drama berjudul “Because This Is My First Life” yang dirilis akhir tahun 2017? Kalau belum, coba tonton dulu. Drama itu menghubungkan tiga hal tersebut.

Dalam dialog episode pertama Nam See He (Lee Min Ki) tokoh utama laki-laki, menghibur Yoon Ji Ho (Jung So Min) tokoh utama wanita. Ji Ho khawatir akan kehidupan yang tak pernah berjalan sesuai harapannya. Padahal ia sudah hidup selama 30 tahun.

Menurut Nam See Hee, itu merupakan batas neokorteks Ji Ho. Neokorteks terletak di bagian luar otak. Lapisan luar otak itu hanya ada dan dimiliki manusia, tidak terdapat pada mamalia lain. Neokorteks menjadi keistimewaan manusia, sehingga mampu membaca, menulis puisi, dan melakukan perhitungan rumit serta menyusun rumus-rumus.

Neokortekslah yang bertanggung jawab atas konsep waktu, seperti usia 20 atau 30. Kata See Hee, manusia tak seperti kucing yang tak memiliki neokorteks. Karena itulah manusia seringkali bosan hingga depresi.

Beda dengan kucing yang tidak mudah bosan atau menjadi depresi. Walau kucing selalu memakan makanan yang sama dan melakukan kegiatan yang sama di rumah mereka yang sama selama hidup. Kucing tidak mempunyai masa depan atau masa lalu.

Kucing tidak pernah berpikir “usiaku sekarang 20 tahun, usiaku 30 tahun, sebentar lagi usiaku 40 tahun.”  See Hee bilang, hanya satu jenis spesies dimuka bumi ini yang mengunci dirinya pada waktunya, yaitu manusia.

Dengan dialog itu kita bisa berkaca. Seekor kucing bisa memberi pelajaran, bahwa hidup tak harus menengangkan. Memikirkan hal yang belum terjadi atau dilakukan, dan menyesali yang sudah berlalu, tidak akan ada gunanya. Itu tidak dilakukan kucing. Kenapa tidak santai saja seperti kucing?

Comments are closed.