Beda Masa Satu Rasa, Tawarkan Nostalgia

Festival Kota Lama 2018

Salah satu lapak bernama Bonlancung, didesain secara interaktif yang memancing pengalaman pengunjung untuk menjajal membuat sendiri lunpia yang dibeli

DAHULU, Semarang memiliki pusat transportasi yang digunakan para pendatang dari pesisir pantai utara menuju daratan, yakni Kali Semarang. Mulai dari ekspedisi orang-orang Belanda hingga Laksamana Cheng Ho bersama rombongannya, menggunakan Kali Semarang sebagai perlintasan pintu masuk.

Ragam bentuk-bentuk pemukiman yang memiliki ciri khas bangunan, kebiasaan, hingga ciri khas fisik penduduknya dapat ditemui di sepanjang pinggir Kali Semarang. Ada Kota Lama yang menjadi tempat bermukimnya orang-orang Belanda. Etnis Tionghoa yang datang dari Tiongkok bermukim di kawasan Pecinan. Orang-orang dari Gujarat bermukim di Pekojan. Ada pula Kampung Melayu dan Kampung Kauman yang dihuni banyak orang-orang yang datang dari Arab.


Jassie Setiawati selaku panitia menjelaskan konsep Festival Kota Lama 2018 saat Konferensi pers di Rumah Makan Toko Oen Jalan Pemuda No 52 Semarang. (foto: metrosemarang/Fitria Eka)

Kini, Semarang menjadi salah satu kota multikultural yang ada di Indonesia. Jika  ditelusuri, budaya dari Kali Semarang itulah yang membentuk budaya Semarangan saat ini. Bisa dibilang, budaya Semarangan merupakan campuran dari budaya penduduk lokal dan pendatang. Didominasi oleh budaya Jawa, Tionghoa, Eropa, dan Arab. Empat kebudayaan yang kentara perbedaannya, tapi bisa membaur di Semarang.

Hal itu melatarbelakangi pengusungan tema Festival Kota Lama yang digelar tahun ini, Collaboration in Diversity. Jawa, Tionghoa, Eropa, dan Arab, sebagai budaya yang cukup berkembang di Semarang, menjadi fokus dalam festival yang akan digelar tanggal 20 – 23 September 2018.

Budaya Semarangan telah bertahan melewati masa demi masa hingga saat ini. Karenanya, panitia menjadikan “Beda Masa Satu Rasa” sebagai tagline Festival Kota Lama 2018. Menurut salah satu panitia, Jessie Setiawati, tagline tersebut dipilih sebagai representasi masyarakat yang masih memelihara kebudayaan Semarang sampai sekarang.

Meskipun sudah beda masa, namun tetap awet saling menghargai. “Dengan cara itulah budaya Semarangan akan tetap kaya,” kata Jessie

Festival Kota Lama pertama kali ada tahun 2012 yang diinisiasi oleh Oen Semarang Foundation. Saat ini sudah menjadi agenda rutin tahunan. Dengan tema Kunokininanti, masyarakat  diharapkan dapat bernostalgia akan budaya di lampau dan turut melestarikan Kota Lama Semarang.

Sumber: festivalkotalama.com

 

Lewat tagline tersebut, pengunjung festival dijanjikan suasana nostalgic di setiap area dan rangkaian acaranya. Lalu, apa saja sih yang bisa ditemui di Festival Kota Lama Semarang 2018?

 

Kuliner Legendaris

Di Festival Kota Lama 2018 akan dibuka Pasar Sentiling, tempat dijajakannya barang-barang antik di pameran klithikan, juga dipajang mobil-mobil kuno. Pengunjung festival semacam disediakan pintu masuk untuk bernostalgia bagi generasi lawas, ataupun untuk menjelajahi masa lalu bagi generasi baru.

Namun bernostalgia rasanya tidak lengkap tanpa menjelajahi makanan. Karenanya, di Pasar Sentiling juga akan ada deretan lapak kuliner legendaris Kota Semarang. Seperti jamu jun, lunpia, roti ganjel rel, dan masih banyak lagi lainnya.

Salah satu lapak bernama Bonlancung, didesain secara interaktif yang memancing pengalaman pengunjung untuk menjajal membuat sendiri lunpia yang dibeli. Mulai dari membuat kulitnya. Bonlancung sendiri merupakan kampung yang menjadi pusat pembuatan kulit lunpia terbesar di Indonesia, yang telah ada sejak 30 tahun lalu. Tempatnya berada di Kranggan Dalam Kota Semarang, di di belakang gerai-gerai penjual lunpia yang ada di Jalan Pemuda.

 

Hiburan

Ada panggung hiburan yang siap menghadirkan karya dari berbagai unsur seni. Panggung Tontonan dibuka mulai Kamis, 20 September 2018. Musisi jazz Nila Djuliarso dan Tohpati akan mewarnai panggung.

Tarian Jaran Kepang dari Kabupaten Semarang, Tari Nginang, dan Tari Mbarang akan dipertontonkan sebagai suguhan budaya Jawa. Tak ketinggalan peragaan busana Batik Terkini dari Susan Budihardjo sebagai perwujudan pelestarian warisan budaya.

Akan ada pula pagelaran wayang semalam suntuk. Panitia akan memberi kejutan, bintang tamu yang masih dirahasiakan. “Yang jelas festival kali ini akan berbeda dari tahun sebelumnya,” kata Jessie.

 

Pekan Film Semarang

Ini salah satu hal yang bikin beda dengan festival tahun lalu. Ada gelaran nonton bersama dan berdiskusi tentang beberapa film yang akan diputar di Tekodeko Koffiehuis. Gelaran itu berkat kolaborasi dengan Sineroom, komunitas yang menyediakan ruang alternatif untuk menonton, menikmati dan mendiskusikan film.

Pekan Film Semarang di Festival Kota Lama mengusung tema Kolaborasinema. Sineroom telah merancang program pemutaran film omnibus, pemutaran film-film pendek, diskusi dengan para pembuat film, rasan-rasan sinema yang berisi tentang diskusi film, pemutaran film hasil Weekend Film Challenge, penghargaan dan pameran seni visual.

 

Jambore Ekonomi Kreatif

Lapak-lapak beragam produk kreatif yang dihasilkan oleh komunitas di Jawa Tengah akan dibuka dalam Jambore Ekonomi Kreatif. Mulai dari fesyen, craft, foto, kuliner, games & apps development, arsitek, sejarah, hingga edukasi. Jambore yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Kota Lama ini bakal dihelat tanggal 23 Septemtember 2018.

 

Jelajah Kota Lama

Tak kenal maka tak sayang. Jangan bilang sayang Semarang kalau tak kenal Kota Lama. Jangan bilang kamu kenal Kota Lama tanpa tahu sejarah Gereja Blenduk, gedung Marabunta, gedung Jiwasraya, aset konglomerat Asia Si Raja Gula di sana.

Lewat Festival Kota Lama, sebuah platform perjalanan Bersukaria Walk menyediakan panduan jalan-jalan menyusuri gedung-gedung itu. Cerita tentang model bangunan, lengkap dengan fungsi dan peristiwa yang terjadi di dalamnya pada zaman dahulu akan diperdengarkan kepada peserta rute perjalanan.

Bersukaria Walk membuka rute perjalanan Kota Lama selama festival berlangsung, sejak 21 September 2018, tersedia pada pukul 15.30. Untuk tanggal 22-23 September 2018 tersedia dua kali pembukaan rute pada masing-masing hari. Yakni pukul 08.00 dan pukul 15.30. Peminat jelajah ini akan diajak menjelajah dunia waktu di masa lampau.

 

Photo Exhibition dan Rally Photo

Festival Kota Lama tahun ini juga memberi ruang bagi pehobi fotografi. Selain dapat menonton pameran foto, juga bisa turut berburu foto dalam Rally Photo Festival Kota Lama. Rally akan dihelat pada Minggu 23 September 2018 di Taman Srigunting, Kota Lama, Semarang. (*)

 

 

You might also like

Comments are closed.