Begini Jadinya Jika Dilan Hidup di Semarang

Oleh: Efendi

Seandainya Pasar Johar tidak pernah terbakar, suplai buku buat Dilan tentu lebih banyak. Ia pasti berkeliaran di lantai atas untuk mencari buku bekas bermutu di sana

SIAPA sih anak SMA sekarang yang belum pernah dengar tentang sosok remaja anggota geng motor bernama Dilan? Ketoke rak enek deh, termasuk ning Semarang. Nama Dilan ramai diperbincangkan sejak produksi film berjudul “Dilan 1990”. Ketenarannya melebihi Dilan dalam buku karya Pidi Baiq.

Sosok remaja yang suka war-wer dengan sepeda motor Honda CB itu tampaknya memikat hati wanita. Loh anak geng motor kan galak, sangar, gahar dan suka mabuk?

Oohh.. sikap itu sama sekali tidak melekat pada kepribadian Dilan. Meski anak motor, Dilan itu romantis, ganteng, bersih, suka baca, tangannya nggak kotor kena oli, jaketnya nggak lusuh tersembur asap kendaraan.

Saking romantisnya, Dilan bahkan berhasil memacari sesosok gadis metropolitan bernama Milea. Awal pertemuan mereka (ini pasti sudah pada hafal kan) terjadi saat Milea pindah dari Jakarta ke Bandung, dan masuk ke SMA dimana Dilan sekolah.

Dari situ cerita di mulai. Belum kenal, Dilan sudah berani merayu dan meramal bahwa Milea akan naik sepeda motor berboncengan dengannya. Dengan gagahnya (sejujurnya, nggak gagah-gagah amat sih) Dilan juga meramal bahwa Milea akan menjadi pacarnya.

Singkat cerita, pokoknya Dilan dengan segala gombalannya berhasil memikat hati Milea.

Film romantisme remaja yang diadopsi dari novel sekuel karya Pidi Baiq, Dilan 1990 itu laku keras. Dalam penayangannya selama 41 hari bisa tembus 6,2 juta penonton.

Kemudian, 28 Februari 2019 lalu, sekuel kedua “Dilan 1991” mulai tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Di Semarang sendiri ada enam bioskop dengan total penayangan 107 kali dalam sehari.

Melihat perilaku Dilan dalam film dengan latar tempat dominan Bandung itu, saya jadi kepikiran apa jadinya jika dia hidup di Kota Semarang dengan segala hobinya? Mulai dari tempat nongkrong, pacaran, gombal-gombalan, sepeda motor, dan baca buku.

Ilustrasi: Efendi

 

Tempat Tongkrong

Di dalam film, Dilan bersama rekannya suka nongkrong di warung Bi Eem. Bi Eem orangnya sangat friendly dan perhatian. Bahkan saat Dilan diskors, tapi tetap mengantar Milea ke sekolah tempat yang dituju Dilan setelahnya ialah Warung Bi Eem. Warung Bi Eem sepertinya tempat yang nyaman buat nongkrong. Ada kursi yang berada di teras, dimana Dilan membacakan “Teks Proklamasi”.

Nah! Salah satu tempat yang cocok untuk nongkrong jika Dilan hidup di Semarang bisa jadi di Kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Di sana ada beberapa warung yang menjual makanan ringan, minuman, dan beberapa lainnya lengkap dengan meja, kursi serta colokan sumber listrik.

Seperti warung milik Mbak Maret misalnya. Warung Mbak Maret ini mendapat keteduhan dari rimbun dahan pohon beringin di atasnya. Nyaman, tentu Dilan betah di warung Mbak Maret ini.

Sosok Mbak Maret sendiri 11-12 dengan Bi Eem, bersahabat dan penuh perhatian. Dengan kalem dan santun dia selalu melayani para pelanggannya yang memesan makan ataupun minum.

 

Tempat Pacaran

Bukan Dilan namanya kalau tidak romantis sekaligus slengekan di dalam hidupnya. Ia selalu cerdik mengolah dan menyampaikan kata-kata cinta kepada kekasihnya, Milea. Hingga sipu malu terpancar dari muka Milea.

Kira-kira dimana Dilan dan Milea pacaran kalau mereka hidup di Semarang ya? Mungkin Taman Gajah Mungkur cocok. Kenapa? Ya banyak alasannya. Selain tempatnya teduh, ada tukang bakso, tukang dawet, penjual minum, dan tak lupa tukang parkir.

Di tempat itu juga ada wifi gratis. Dimana bisa digunakan Dilan dan Milea untuk nonton drama Korea (drakor) dengan satu handphone dan berbagi earphone. Sepuluh menit nonton drakor, bakso dan dawet datang menghampiri. Kurang enak apa coba?

Di tempat itu juga, Dilan tak perlu resah kehilangan helm. Ya jelas nggak resah, wong Dilan nggak pernah pakai helm. Tapi, Dilan juga tak perlu resah kehilangan sepeda motor kesayangannya. Karena dengan uang Rp 2000, seorang tukang parkir akan mengawasi dan menjaga sepeda motor miliknya tetap aman. Sementara Dilan dan Milea bisa adu gombal sambil makan bakso di bawah pohon rindang.

 

Toko Buku

Dilan merupakan sosok remaja yang suka baca buku. Nak kowe senenge ngopo Ndes? Meskipun film ini tak pernah menampilkan adegan Dilan membaca buku, tapi obrolan Dilan lumayan berisi. Mulai dari wawasannya tentang Einstein, Hitler dan Nazi, dan lain-lain.

Nah, dengan kesukaannya membaca sudah pasti Dilan membutuhkan buku. Di kala bacaannya sudah abis, di Semarang Dilan bisa membeli buku di lapak belakang Stadion Diponegoro. Disana ada berbagai macam buku, baik baru maupun bekas. Harganya? Ya sedikit lebih murah tentu saja dibanding penjual buku baru di toko besar. Koleksinya pun lumayan lengkap, mulai dari buku anak-anak, novel, sejarah, biologi, fisika, komik, dan lain-lain.

Maka jika Dilan hidup di Semarang, suplai buku untuknya tak akan terhambat. Andai saja Seandainya Pasar Johar tidak pernah terbakar, suplai buku buat Dilan tentu lebih banyak. Ia pasti berkeliaran di lantai atas untuk mencari buku bekas bermutu di sana.

 

Hobi Motor

Di dalam film baik Dilan 1990 maupun Dilan 1991, sosok Dilan dicap sebagai panglima geng motor, meski menurut saya penampilannya kurang “anak motor” banget. Tapi urusan penampilan sih terserah Dilan, yang penting dia anak motor gitu.

Sebagai anak motor pasti memiliki saat-saat di mana harus memperbaiki bahkan mengganti onderdil motor yang rusak. Jika tinggal di Semarang, Dilan tetap akan aman dengan adanya Pasar Barito. Di sana ada banyak pedagang yang menjual berbagai kebutuhan otomotif termasuk sparepart sepeda motor. Jika terlalu mahal dengan barang baru, di Barito juga menjual barang-barang bekas.

Tapi untuk saat ini, saya sarankan Dilan jangan pindah Semarang dulu. Karena sepertinya Pasar Barito akan pindah, dan saya belum begitu paham mau pindah kemana.

 

Siswa Nakal

Kenakalan remaja di setiap daerah mempunyai karakteristik yang berbeda. Meskipun terkadang ada satu benang merah di antaranya. Dalam film Dilan 1991, dia dikeluarkan dari sekolah akibat kenakalan yang dilakukannya yakni tawuran. Duh…. kok jadi spoiler ya. Maaf keceplosan.

Nah, saya jadi kepikiran kalau dia nakalnya di Semarang sepertinya akan “keren” juga. Bagaimana jika Dilan dikeluarkan dari sekolah karena dua botol Congyang yang memenuhi dua sisi kantong celananya, saat masuk ke kelas. Ini kalau di Semarang, Dilan cocoknya jadi murid sekolah mana sih?

Ah sudahlah… Lagi pula mana mungkin Dilan pindah ke Semarang. Adanya Dilan KW yang pakai jaket jeans lengkap dengan kerah cokelat dan emblem bendera Amerika di lengan kanannya. Lalu sok-sokan gombal sana-sini tapi nggak ada “Milea” yang terjaring hahaha.. (*)


Tentang Penulis. Efendi adalah seorang videografer. Ia sedang menempuh pendidikan Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

 

You might also like

Comments are closed.