Bekam Tanduk Sapi, dari Madura Hingga Semarang

Penyembuhan Tiongkok Kuno

Metode bekam tanduk sapi itu menjadi andalan masyarakat di Pulau Garam sejak ratusan tahun lalu.

SENIN siang yang tak terlalu panas pada awal musim penghujan di Kota Semarang, Rofiqi memasuki pelataran Masjid Baiturrahman Kawasan Simpanglima. Ia menyandang satu tas berisi 20 tanduk sapi.

 

Pengobatan dengan bekam tanduk sapi ini lebih alami. Tanpa efek samping.
Rofiqi, Praktisi Bekam Tanduk Sapi

 

Sampai di suatu titik, ia berhenti, lalu mengeluarkan tanduk sapi dari dalam tas itu. Ia siap melayani orang-orang yang ingin dibekam memakai tanduk sapi miliknya. Sejurus kemudian, orang-orang datang padanya. Ada yang hanya melihat dan bertanya-tanya karena penasaran. Ada pula yang menjajal layanan bekam Rofiqi untuk menuntaskan rasa penasarannya.

“Kebetulan saya sering linu-linu. Malahan saya punya asam urat. Sudah berobat kemana-mana tapi belum sembuh. Jadi pas lihat ada bekam tanduk, langsung kepingin nyoba,” kata Suradi, warga Jalan Anggrek Gang VII Kecamatan Semarang Tengah.

Begitu duduk bersila, Suradi bergegas membuka baju. Lalu kulit punggungnya berulang kali diusap menggunakan minyak zaitun. Tangan Rofiqi juga memijat punggungnya untuk melemaskan otot.

Tak lama, Rofiqi menghidupkan bunga api pada ujung batang besi, lalu memasukkannya dalam rongga tanduk sapi. Beberapa tanduk yang telah menghangat oleh api lalu ditempelkan pada punggung Suradi. Tanduk-tanduk itu menyedot darah Suradi.

“Rasanya agak mendingan. Memang kulit saya terasa seperti ditarik. Tapi setelah itu rasanya agak berbeda. Hangat dan nyaman. Beda sama bekam yang memakai alat penyedot modern,” tuturnya.

 

Tidak Lama, Tapi Harus Puasa

Kata Rofiqi, bekam tanduk sapi bisa dilakukan hanya dalam lima menit. Jumlah tanduk yang digunakan bervariasi, sesuai keluhan yang diderita. Tanduk yang dipakai rata-rata berukuran 12 milimeter.

“Pengobatan dengan bekam tanduk sapi ini lebih alami. Tanpa efek samping,” ujar Rofiqi. Namun ternyata ada syaratnya. Ketika akan dibekam memakai tanduk sapi, maka seseorang harus dalam keadaan puasa.

tanduk sapi
Rofiqi sedang memasang tanduk sapi di punggung pasiennya. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Tidak hanya penyembuhan, pengecekan penyakit juga bisa dilakukan Rofiqi dengan tanduk sapi. Caranya, tanduk sapi akan digesekkan pada lengan tangan. Jika aliran darah pasien normal, maka hanya akan muncul garis-garis merah. Tapi jika ada yang tersumbat, akan muncul bintik-bintik hitam pada beberapa bagian lengan.

Menurut Rofiqi, bekam tanduk sapi yang dipraktikkannya dapat meredakan beragam penyakit. Sakit pinggang, sakit ginjal, sesak nafas, perut kembung, darah tinggi, kencing manis, kencing batu, ambeien, lumpuh akibat stroke, sekalor, impoten, maag, hingga hernia.

Rofiqi mematok Rp 50 ribu untuk sekali layanan bekam tanduk sapi. Saban hari ia blusukan ke kantor-kantor dan pasar-pasar. Biasanya, banyak yang membutuhkan jasanya di sana. “Pelanggan saya kebanyakan pedagang-pedagang pasar,” ujarnya.

 

Dari Madura

Bekam tanduk sapi merupakan ilmu penyembuhan Tiongkok kuno. Ge Hong, seorang Taois, herbalis dan juga ahli kimia, tercatat sebagai yang pertama kali mempraktikkan penyembuhan tersebut pada tahun 281 Masehi. Ge Hong menuliskannya dalam Handbook of Prescriptions for Emergencies.

Orang-orang dari Arab dan India juga menggunakan teknik penyembuhan bekam menggunakan tanduk sapi tersebut. Tapi hal itu diketahui setelah catatan Ge Hong.

bekam tanduk sapi
Jumlah tanduk sapi yang digunakan Rofiqi tidak sama pada masing-masing pasiennya, bergantung pada keluhan yang dirasakan. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Pada zaman Dinasti Tang, bekam digunakan untuk mengobati tuberkolusis. Dalam perkembangannya, tabib-tabib pada zaman Dinasti Qing mencoba bereksperimen dengan bambu dan keramik sebagai pengganti tanduk sapi. Cangkir bambu direbus terlebih dahulu baru kemudian diaplikasikan pada area yang akan dibekam.

Pada masa ini, bekam bukanlah metode tunggal, melainkan diintegrasikan dengan pengobatan akupuntur atau tusuk jarum. Cangkir panas ditempatkan di atas area yang ditusuk jarum akupuntur. Pada zaman modern ini, alat bekam telah berganti dengan bahan kaca dan plastik. Namun pada prinsipnya tetap sama, yakni menyedot darah dari area yang vakum.

Rofiqi sendiri mempelajari ilmu bekam dari tanah kelahirannya di tepi Kabupaten Pamekasan, Pulau Madura. Menurut Rofiqi, metode pengobatan bekam tanduk sapi itu telah ada di daerahnya sejak ratusan tahun lalu. Metode ini menjadi andalan masyarakat di Pulau Garam tersebut.

“Orang Madura sukanya bekam tanduk ketimbang pakai cara medis yang modern. Sebab banyak yang percaya khasiatnya ampuh, bahannya bagus, enggak merusak pori dan kulit,” kata Rofiqi.

Sebelum mempelajari bekam tanduk sapi, Rofiqi lebih dahulu mempelajari pengobatan akupuntur. Bekam tanduk sapi ini sendiri telah ia praktikkan selama 10 tahun terakhir. Tanduk sapi yang digunakan Rofiqi, ia dapatkan dari penyembelihan sapi kurban saat Idul Adha, atau saat ada yang melaksanakan upacara aqiqah.

Rofiqi menggunakan alkohol untuk membersihkan tanduk sapi. Baik untuk tanduk yang masih baru dan belum dipakai, maupun untuk tanduk yang sudah berkali ulang dipakai. Penggunaan alkohol itu untuk menjaga tanduk tetap steril dan mencegah bersarangnya bakteri dan kuman-kuman di rongga tanduk.

“Tak ada salahnya warga Semarang mencoba bekam tanduk untuk meredakan penyakit,” pungkasnya. (Fariz Fardianto)

Comments are closed.