Belajar Menghidupkan Radio di UKM Remus

Radio Mahasiswa Universitas Semarang

Kendati tak banyak kegiatan, namun mahasiswa anggota Remus bertekad mempertahankan keistimewaan radio tersebut. Mereka tak menyerah meskipun tak memiliki studio khusus

INTERNET memang sedang tumbuh pesat-pesatnya, teknologi ini digunakan oleh berbagai kalangan usia. Berbagai asumsi muncul seiring dengan disrupsi digital yang sedang menggerus sejumlah sektor, seperti transportasi, ritel, keuangan dan logistik. Termasuk diantaranya, asumsi soal eksistensi media, salah satunya radio. Apakah benar pendengar radio menyusut di era internet ini?

Data Nielsen Radio Audience Measurement (RAM) menjawab pertanyaan itu. Ternyata asumsi penyusutan pendengar radio itu salah. Nielsen RAM melakukan pengukuran kependengaran radio terhadap kurang lebih 8,400 orang berusia 10 tahun keatas di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin, terkait jumlah dan demografi dari pendengar radio serta tren dan habit mendengarkan mereka.

Hasilnya, radio masih didengarkan oleh sekitar 20 juta orang konsumen di Indonesia pada kuartal ketiga tahun 2016. Para pendengar radio di 11 kota di Indonesia yang disurvey Nielsen ini setidaknya menghabiskan rata-rata waktu 139 menit per hari.

Jika diasumsikan bahwa radio hanya didengarkan generasi tua, Neilsen RAM menunjukkan data lain. Survey Nielsen menyebut 57 persen pendengar radio pada usia yang relatif muda. Kontribusi pendengar radio ini didominasi oleh 38 persen Millenials, 28 persen Generasi X, dan 19 persen Generasi Z. Sementara pendengar radio pada Generasi Baby Boomers dan Silent Generation relatif lebih sedikit, masing-masing yang hanya berkontribusi sebesar 13  persen dan 2 persen. Saat ini 4 dari 10 orang pendengar radio menggunakan perangkat yang lebih personal yaitu mobile phone.

Dengan data di atas, maka tak mengherankan jika minat pada pengelolaan radio juga masih ada. Dibuktikan oleh sejumlah mahasiswa yang berada dalam Unit Kegiatan Radio Ekspresi Mahasiswa Universitas Semarang. Kelompok yang akrab disebut UKM (Unit Kegiatan  Mahasiswa) Remus ini, mewadahi minat mahasiswa terhadap pengelolaan radio. Seluk beluk pengoperasian sebuah radio, dipelajari bersama dalam kelompok ini.

remus
Pelatihan radio di Universitas Semarang (USM) Semarang. (foto: dokumentasi)

UKM Remus bermula dari tugas akhir yang diberikan oleh seorang dosen Fakultas Teknik Elektro, Universitas Semarang. Para mahasiswa yang ditugaskan membuat peralatan dalam radio itu justru berpikir untuk merancang sebuah stasiun radio, berikut segmentasi pendengarnya. Remus mengudara dengan frekuensi 107.6 gelombang FM.

Sejak itu, terbentuklah Remus yang kemudian menjadi format resmi sebagai salah satu unit kegiatan mahasiswa di Universitas Semarang. Orang-orang di dalamnya kemudian melakukan penggalangan anggota, untuk diajak belajar bersama mengenai radio.

 

Pasang Surut

Seperti umumnya sebuah organisasi, UKM Remus mengalami pasang surut. Pada tahun 2014, UKM Remus bisa dibilang “tertidur” lantaran ditinggalkan sang ketua. Ketiadaan pimpinan itu membuat kegiatan-kegiatan UKM Remus, khususnya menyangkut pembelajaran kepenyiaran, terganggu.

Mereka baru “bangun” dan berkegiatan kembali pada tahun 2015, setelah dibantu oleh seorang dosen untuk mengaktifkannya kembali. Sejak itu, UKM Remus bertahan hingga sekarang. Kendati tak banyak kegiatan, namun mahasiswa anggota Remus bertekad mempertahankan keistimewaan radio tersebut.

remus usm
Anggota UKM Remus dalam kegiatan tahun 2014. (foto: twitter @remus_usm)

Mereka tak menyerah meskipun tak memiliki studio khusus. Praktik siaran mereka lakukan di laboratorium radio yang dimiliki Fakultas Teknik Informasi dan Komunikasi, Universitas Semarang. Sedangkan untuk memperkuat penguasaan ilmu radio, mereka menempuhnya dengan berbagai cara.

Seminar kecil, coaching clinic, serta diskusi sering kali digelar untuk tak hanya mengenal radio dengan kacamata pendengar. Melainkan lebih kepada sistem kerja dalam radio, cara memproduksi konten, hingga kiat-kiat menyampaian konten tersebut kepada pendengar.

Teknik pengucapan, intonasi bicara, senam mulut dan wajah, cara membuat naskah hingga pengoperasian berbagai alat, adalah materi dasar yang menjadi topik dalam seminar, diskusi, maupun pelatihan. Maka itu, UKM Remus ini banyak diminati mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Semarang, yang menempuh mata kuliah radio. Kendati mahasiswa jurusan lain ada juga yang bergabung dengan UKM Remus.

Saat ini UKM Remus memiliki 30 anggota. Beberapa mahasiswa yang pernah mengikuti kegiatan UKM Remus mengatakan jika ilmu radio yang didapat dari UKM Remus lebih lengkap dan lebih mendalam ketimbang dari ruang kuliah. Bagaimana tidak? Tak jarang UKM Remus mendatangkan praktisi komunikasi yang berhubungan dengan radio untuk melatih anggotanya.

Pada 8 Desember 2018 lalu, UKM Remus mendatangkan Ian Permadi, penyiar Radio TraxFM, untuk memberi pelatihan kepenyiaran dalam seminar bertajuk “How To Be A Good Broadcaster” yang dibuka untuk kalangan internal dan umum.

Sebelumnya, pada 6 Oktober 2018, UKM Remus berkolaborasi dengan praktisi radio profesional dalam kegiatan bertajuk “Speaklah Let’s Speak”. Kegiatan bertema juga dimaksudkan untuk membagikan ilmu tentang kepenyiaran radio kepada mahasiswa Universitas Semarang yang memiliki minat dalam bidang penyiaran radio serta mengembangkan potensi public speaking.

Waktu itu Grace Cantona, Announcer di Bhinaya Channel memberi pelatihan tentang public speaking dan personal branding yang harus dikuasai oleh seorang penyiar radio.

 

Adaptasi

Kolaborasi dengan praktisi radio profesional juga menjadi upaya pengelola UKM Remus untuk menghidupkan radio agar lebih berjaya di zaman sekarang. Pembina UKM Remus, Universitas Semarang, Febrian Wahyu Christianto mengharap kerjasama para penyiar radio profesional di Kota Semarang untuk memompa semangat UKM Remus.

Dengan perkembangan teknologi seperti sekarang ini, radio umumnya dinikmati lewat perangkat personal berupa telefon pintar. Radio juga banyak dinikmati oleh kaum muda, tak hanya di dalam rumah melainkan di mana saja. Melihat keadaan itu, UKM Remus pun melakukan penyesuaian.

Saat ini UKM Remus sedang menggagas siaran secara live streaming menggunakan teknologi internet, juga membuat video blog. Ketua UKM Remus Semarang, Rizki Dwi Apriyani memiliki cita-cita agar Remus tak hanya didengar oleh mahasiswa Universitas Semarang, tapi juga masyarakat Semarang secara luas.

“Tentunya dengan menyajikan konten yang menarik untuk anak muda maupun umum. Karena (Remus) belum ada jam siarnya, kami berharap pihak universitas bersedia mengembangkannya,” kata Rizki.

Menurut Rizki, penguasaan praktik pengelolaan radio tak kalah penting dibanding penguasaan teori, yang selama ini telah mereka dapat. Dengan pengembangan, Rizki berharap UKM Remus akan menjadi ajang pembelajaran dan pengalaman bagi para anggotanya.

 

Penulis: Jessica Celia R (magang), Zahra Saraswati (magang)
Edito: Eka Handriana

 

 

 

Comments are closed.