Beli Ekstasi Pakai Bitcoin, Mahasiswa Undip Digelandang BNN Jateng

METROSEMARANG.COM – Seorang mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang diringkus petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah. Tersangka yang bernama Candrika Pratama (22) itu kedapatan memiliki sembilan butir pil ekstasi yang dibeli menggunakan bitcoin atau uang virtual.

Barang bukti ekstasi yang disita dari Candrika Pratama. Foto: metrosemarang.com/efendi

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengatakan, Candrika dibekuk di Jalan Tirto Usodo Timur, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Semarang, Senin (26/3). Dia membeli narkoba dengan nama lain Metilendoksimetamfetamina (MDMA) tersebut melalui situs dark web.

“Sembilan butir ekstasi itu dipesan oleh tersangka melalui dark web dengan bitcoin yang jika dirupiahkan senilai Rp 800 ribu. Tersangka juga pernah melakukan transaksi serupa pada Desember 2017 lalu,” ujar Tri Agus saat gelar perkara di Kantor BNNP Jawa Tengah, Jalan Madukara, Semarang, Rabu (4/4).

Tri Agus juga mengatakan, pengungkapan tersebut bermula dari laporan Kantor Bea dan Cukai Tanjung Emas pada 12 Maret 2018 lalu. Saat itu ada sebuah paket dari Belanda dikirim melalui jasa ekspedisi PT POS Indonesia.

“Nama pengirim tidak disebutkan di paket tersebut. Kami kemudian melakukan pengawasan melekat kurang lebih 15 hari, hingga kami kemudian menangkap tersangka,” kata dia.

Selain itu, penggunaan bitcoin untuk membeli narkoba ini merupakan kali kedua yang berhasil diungkap BNNP Jateng di Semarang. Sebelumnya kasus serupa juga terjadi pada awal 2017 lalu.

“Ini menjadi keprihatinan kita. Ternyata masih banyak kalangan pelajar maupun mahasiswa yang terjerat narkoba. Data kami 2017 menyebutkan dari 500.000 pengguna narkoba di Jateng, 27% di antaranya merupakan pelajar atau mahasiswa,” paparnya.

BNN Jateng juga masih menelusuri dugaan keterlibatan Candrika dalam jaringan narkoba. Candrika di jerat dengan Pasal 114 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1( dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (fen)

You might also like

Comments are closed.