Berawal dari Bisnis Candu, Oei Tiong Ham Kuasai Tanah Yahudi di Semarang

HARI sudah beranjak siang, tetapi Yongkie Tio masih bersemangat bercerita di restorannya, pinggir Jalan Gajahmada, Semarang, Selasa (27/3).

Oei Tiong Ham
Foto: dok kemdikbud.go.id

Sembari menunjukkan halaman yang luas di depan restorannya, Yongkie, yang notabene sebagai Sejarahwan di Kota Semarang itu menegaskan bahwa di situ terdapat sebuah pohon trembesi yang punya nilai sarat sejarah.

“Pohon trembesi yang dulunya banyak ditanam di pinggir Jalan Gajahmada sampai Pahlawan ini, jadi saksi sejarah perkembangan bisnis milik Oei Tiong Ham. Dia itu dulunya pengusaha candu terkenal di Semarang,” kata Yongkie, saat berbincang dengan metrosemarang.com.

Kesuksesan Tiong Ham dalam menguasai roda bisnis di Kota Lunpia tempo dulu tak lepas dari peran ayahandanya, Oei Tjie Sien. Keluarganya merupakan peranakan Tionghoa yang mengawali bisnis dari nol.

Dikisahkan oleh Yongkie, keluarga besar Tiong Ham semula mempunyai rumah besar yang disebut sebagai Istana Bukit Simongan yang terletak di puncak Bukit Simongan.

“Rumahnya di Bukit Simongan sangat luas. Itu rumahnya Oei Tjie Sien, di sanalah Tiong Ham kecil tumbuh hingga dewasa,” ungkapnya.

Dari situlah, kata Yongkie, jejak kejayaan keluarga Tiong Ham dimulai. Mula-mula, ayah Tiong Ham yang resah melihat banyaknya orang Tionghoa terkena pungutan pajak cukup besar tiap kali bersembahyang di sebuah klenteng depan Simongan (sekarang jadi Klenteng Sam Poo Kong). Dia lalu punya ambisi untuk menguasai lahan-lahan milik warga Yahudi yang bertebaran di situ.

“Dulunya kawasan yang sekarang jadi Sam Poo Kong itu rumahnya orang-orang Yahudi. Tapi kan orang Cina yang pergi ke sana mesti bayar pajak. Kan jadi males to. Lalu untuk menghindari hal itu, maka dibuat patung Sam Poo Kong dan ditaruh di Tay Kak Sie Gang Lombok. Melihat hal tersebut, terus Tjie Sien terobsesi membeli semua tanah Yahudi. Impiannya jadi kenyataan tatkala bisnisnya sukses,” ujar Yongkie lagi.

Maraknya pembelian tanah Yahudi oleh Tjie Sien pun berdampak positif terhadap kelangsungan hidup orang Thionghoa pada waktu itu. “Mereka tidak perlu lagi bayar pajak kalau mau sembahyang di klenteng,”.

Bisnis Opium

Seiring berjalannya waktu, Tiong Ham kemudian meneruskan bakat bisnis ayahnya. Namun, ia memilih berjualan opium. Opium atau candu kini jamak dikenal sebagai bisnis perdagangan narkotika.

Wikipedia mencatat namanya dalam sejarah bisnis orang Asia setelah mampu mengekspor hasil bumi dan perdagangan opium terbesar di Asia Tenggara. Pada peralihan abad 20, Tiong Ham menjadi orang terkaya di Asia Tenggara. Bisnis narkobanya menggurita dari Bangkok, Singapura, Hongkong sampai New York.

Tak cuma jualan narkoba. Tiong Ham juga punya bisnis properti dan pabrik gula, sampai bisnis kapal internasional.

“Keberhasilan bisnisnya itu tidak lepas dari kemudahannya dapat izin-izin pabrik setelah dia berkawan baik dengan Gubernur Batavia di masa kolonial Belanda,” tuturnya.

Tak ayal, perubahan signifikan pun terjadi pada perilakunya saban hari. Tiong Ham jadi gemar pamer naik kuda setiap pergi ke Pecinan. Pola pikirnya semakin anti-mainstrem. Tiong Ham memilih membangun rumah mewah di Jalan Kiai Saleh (sekarang ditempati OJK Jateng).

Kuncir rambutnya yang panjang menjuntai dikepras. Sejak itulah, banyak orang Thionghoa mengikuti jejaknya dan sampai sekarang tidak punya kuncir lagi.

Pada 1961 silam, katanya pemerintah indonesia lantas menyita semua harta benda Tiong Ham untuk dibentuk BUMN bernama PT Rajawali Nusantara Indonesia sebagai pengelola aset. Hal itu dilakukan setelah sang pengusaha opium itu meninggal 6 Juni 1924 dengan meninggalkan harta benda ratusan golden.

“Peninggalan rumah keluarga besar Tiong Ham di Bukit Simongan masih bisa dilihat sampai sekarang. Rumah keluarganya itu sudah diduduki tentara. Di Jalan Kiai Saleh, istana gulanya masih berdiri tegak. Sedangkan tanahnya yang sangat luas sudah jadi perkampungan padat penduduk,” tukasnya. (fariz fardianto)

You might also like

Comments are closed.