Berbasis Gen, Tren Diet 2019

Program Dietmu Saat Ini Belum Tentu Tepat

Sudah mulai menjadi tren di kalangan masyarakat untuk menjalankan gaya hidup sehat. Tapi mereka belum tahu apakah pilihan makanan dan kegiatan fisik tersebut sudah tepat untuk tubuh mereka.

DIET berbasis gen atau nutrigenomics bakal menjadi tren di tahun 2019. Adapun, kerja diet ini disesuaikan berdasarkan gen dalam tubuh dan jumlah kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan setiap orang.

Ahli Gizi Klinik, dokter Arti Indira MGizi SpGK menyampaikan materi tentang diet berbasis gen pada seminar kesehatan ‘Mau Makan Apa? Tanya DNA!’ di Celebrity Fitness Mall Paragon Semarang, Sabtu (30/3/2019). (Foto : metrosemarang.com/Anggun Puspita)

Ahli Gizi Klinik, dokter Arti Indira MGizi SpGK mengatakan, sebanyak 99,9% susunan DNA yang dimiliki setiap orang sama. Namun, yang membedakan hanya 0,1% DNA atau disebut variasi genetik.

“Variasi genetik ini yang berpengaruh pada apa yang kita makan. Sehingga, misalnya kita melihat si A makan satu mangkok soto belum tentu berdampak sama dengan si B,” ungkapnya pada seminar kesehatan ‘Mau Makan Apa? Tanya DNA!’ di Celebrity Fitness Mall Paragon Semarang, akhir pekan lalu.

Maka, menjalankan diet berbasis gen ini sangat dianjurkan kepada siapapun, sebab setiap orang memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda. Bahkan, termasuk kebutuhan jenis dan jumlah olahraga, hingga risiko penyakit.

“Kalau melihat diet yang lagi tren sekarang, tidak semua orang cocok dengan diet tinggi protein seperti diet keto. Atau, belum tentu setiap orang juga cocok dengan diet mayo yang rendah garam dan gula,” tutur istri penyanyi Tompi itu.

Diketahui, saat ini sudah mulai menjadi tren di kalangan masyarakat untuk menjalankan gaya hidup sehat seperti diet mayo, diet keto, melakukan yoga, zumba, pound fit hingga lari marathon, tapi mereka belum tahu apakah pilihan makanan dan kegiatan fisik tersebut sudah tepat untuk tubuh mereka atau belum.

Dengan demikian pemeriksaan nutrigenomics sangat dianjurkan bagi siapapun yang ingin menjalankan pola hidup yang lebih baik dan ingin mengantisipasi risiko penyakit.

Product Spesialist Laboratorium Klinik Prodia, Siska Damayanti mengatakan, diet nutrigenomics ini sangat personal, karena diet orang satu dengan yang lainnya berbeda.

“Jadi, jika ingin menjalankan diet ini butuh pemeriksaan nutrigenomics, yakni ada pengambilan sampel darah dari individu yang bersangkutan untuk diteliti. Setelah dapat hasilnya akan ada pendampingan terkait apa yang boleh atau tidak dimakan dan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan gen,” jelasnya.

Sementara itu, pemeriksaan tersebut dapat dijalani oleh semua usia dan cukup dilakukan satu kali seumur hidup, untuk dapat mengetahui efek dari nutrisi terhadap gen. Kemudian, interaksi antara gen dan nutrisi yang berkaitan dengan kesehatan sehingga dapat digunakan sebagai baseline dan guidence untuk melakukan gaya hidup yang sesuai. (*)

You might also like

Comments are closed.