Berkat Gus Dur, Warga Tionghoa Semarang Bisa Rayakan Imlek dengan Bebas

METROSEMARANG.COM – Sosok mendiang Presiden keempat Indonesia, Abdurahman Wahid atau Gus Dur rupa-rupanya tetap lekat dihati warga etnis Tionghoa Semarang. Berkat Gus Dur, mereka bisa leluasa merayakan datangnya Tahun Baru Cina dengan gegap gempita dan semarak.

Dewi Susilo Budiharjo
Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

Hal tersebut juga dirasakan Dewi Susilo Budhiarjo, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (KPSMT) Jawa Tengah. Dewi, panggilannya mengaku beruntung sejak era kepemimpinan Gus Dur, masyarakat Tionghoa di Kota Lumpia, bahkan di seluruh penjuru Tanah Air pun bisa merasakan keleluasaan dalam merayakan Imlek setiap tahunnya.

Di Semarang sendiri, tahun ini akan ada rangkaian panjang perayaan Imlek yang dimulai dari acara Semawis. “Sekarang Semawis tidak hanya menjadi perayaan milik saudara-saudara Tionghoa, tetapi semuanya membaur dan berbagai perbedaan. Lokasi itu justru jadi obyek wisata tingkat nasional,” kata Dewi kepada metrosemarang.com, Minggu (22/1).

Selain itu, ia juga akan menggelar Cap Go Meh yang memecahkan rekor Muri di MAJT pada 19 Februari nanti. Di sana akan dihadiri Rois NU KH Mustofa Bisri, Emha Ainun Najib alias Cak Nur dan Habib Lutfhi bin Yahya.

“Saya rasa dengan keterbukaan warga Semarang, kami sangat merasakan bahagia dan nyaman saat hidup berdampingan bersama warga lainnya. Saya merasakan bisa bebas berkarya sebagai anak bangsa,” jelas Dewi.

Soal acara Pork Festival yang diprotes kelompok ormas tertentu, ia meminta semuanya menahan diri. Dengan suasana kota yang sudah begitu guyub, menurutnya tak ada alasan lagi untuk saling menyalahkan, apalagi tiap orang punya keunikan dalam hidupnya masing-masing.

“Kaum yang lebih banyak jangan arogan dan menindas, untuk kaum yang lebih sedikit hendaknya tahu diri. Siapapun yang mencederainya pasti akan saya tegur dengan keras,” tutur Dewi. (far)

You might also like

Comments are closed.