Bermodal Cekak, Bisnis Foodtruck Dilirik Millenials

PERSAINGAN bisnis yang ketat, tak jarang memaksa pelaku usaha memutar otak. Bahkan, sejumlah anak muda mulai tertarik membuka bisnis foodtruck. Salah satunya dilakukan Dennis Devito.

foodtruck
Salah satu foodtruck yang dikelola anak muda, turut dalam festival kuliner kota lama. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

Lelaki berusia 30 tahun itu membuka foodtruck sejak setahun terakhir. Menurutnya bisnis foodtruck menjanjikan keuntungan berlebih ketimbang membuka kedai maupun rumah makan di pinggir jalan.

Dalam sebulan misalnya, ia mampu meraup untung Rp 500 ribu dan jumlahnya naik dua kali lipat saat akhir pekan. Pendapatannya bahkan melonjak drastis sampai Rp 2 juta jika sedang ada acara-acara besar.

“Pertama cost harian enggak besar. Kita cuma butuh dua karyawan dan yang paling penting peralatan yang kita butuhkan enggak ribet,” kata Dennis, saat ditemui metrosemarang.com di sela pembukaan UKM Culinary di Kota Lama Semarang, Jumat (20/4).

Dengan merogoh kocek Rp 70 juta, ia mengaku bisa memodifikasi sebuah mobil VW menjadi foodtruck dengan produk andalannya Kopi Katro. “Keuntungan tentu lebih menggiurkan foodtruck ketimbang membuka warung butuh modal ratusan juta. Sebab, kita enggak nyewa tempat, gampang jualan di pinggir jalan, dan gampang lari dari kejaran Satpol PP,” katanya.

Pria asli Cirebon ini mengatakan bisnis foodtruck lagi menjamur di daerahnya. Ia saban hari mangkal di kawasan Perum Citraland Cirebon. Namun sesekali keluar kota untuk ikut event-event yang digelar komunitas foodtrucknya.

“Sebulan ke luar kota dua kali. Di Cirebon sendiri memang lagi ngetren. Makanya saya memutuskan jualan Kopi Katro yang di dalamnya berisi 15-10 jenis kopi khas Indonesia. Dan saya bersyukur Kopi Gayo, Toraja dan Cibereium paling laris,” tuturnya.

Tak berbeda jauh dengan Dennis, Muhammad Hasanudin juga sangat antusias saat berbisnis foodtruck setahun terakhir. Ia tergiur pendapatan yang melimpah. Ia saat ini membuka bisnis foodtruck dengan brand andalan Leker Krepes. “Pendapatan saya bisa naik 55 pesen ketimbang buka warung di jalanan,” sahutnya.

Di kampung halamannya, Kabupaten Pati, foodtruck sedang booming. Buktinya, ia berani membuka waralaba dengan menyewakan beberapa foodtruck. “Saya tiap hari jualannya di Taman Winong, sekitar SMP Negeri 8 dan depan kantor Kecamatan Kayen. Prospeknya bagus, Mas,” ujar Hasanudin.

Sedangkan, Sri Hidayati dari perwakilan Muri menyatakan acara UKM Culinary di Kota Lama mampu memecahkan rekor sebagai penjual foodtruck terbanyak di Indonesia. “Kami mewakili Pak Jaya Suprana memastikan gelaran kuliner dengan memakai mlbil terbanyak resmi tercatat dalam Muri sebagai rekor ke-8.411,” tegasnya.

Pemecahan rekor tersebut juga berdekatan dengan HUT Kota Semarang. Total ada 25 rekor yang dipecahkan di Jawa Tengah sejak kepemimpinan Gubernur Mardiyanto sampai Ganjar Pranowo. Sri Puryono, Sekretaris Daerah Provinsi Jateng mengapresiasi acara tersebut. Acara UKM Culinary harus digelar kontinyu sehingga jadi event tahunan Jateng.

“Ini bisa mengenalkan Kota Lama yang semakin mendunia. Sebab prospek pariwisatanya semakin bagus,”. (far)

*Ralat: semula Sri Puryono tertulis sebagai Plt Gubernur Jateng. Yang betul adalah Sekretaris Daerah Provinsi Jateng seperti pembaruan terakhir pada artikel.

You might also like

Comments are closed.