Bestarii, Hip Hop Pedisko Makam

Rilis Demo Digital

Lirik serta tema lagu yang diangkat Bestiarii memang berisi seputar nestapa, kematian, kepercayaan dan ketuhanan, juga satanisme

TEMPO yang lamban, bass yang rendah dan berat, ditambah nada-nada melankolis nan menyayat di sepanjang lagu. Ini adalah musik hip-hop yang jauh berbeda dari kebanyakan musik hip-hop yang telah ada.

Coba dengarkan Eternal Duality of Birth and Death dan Rise Under the Moon yang sudah dirilis lewat SoundCloud pada 15 November 2018 lalu. Dua karya hasil kolaborasi Duo Faust dan Digital Boyz, lewat proyek emo rap bernama Bestiarii itu akan membawa imajinasi tersendiri.

Emo Rap merupakan subgenre hasil peleburan hip hop yang biasa digunakan dalam musik hip hop dengan tema liris dan vokal yang umumnya ditemukan dalam musik emo. Subgenre ini menambahkan elemen-elemen rock terkait, seperti indie rock, pop punk, dan nu metal.

Sumber: Wikipedia.org

 

 

Semarang on Fire (SOF) sebagai media yang menggaungkan musik indie Semarang, menyebut dua nomor tersebut dengan istilah yang sedikit membingungkan awam. “Kedua nomor tersebut menjadi debut karya yang dikemas dalam bentuk demo digital, membuka kemunculan para pedisko makam,” tulis SOF.

Pedisko makam?

Begini penjelasannya. Lirik serta tema lagu yang diangkat Bestiarii memang berisi seputar nestapa, kematian, kepercayaan dan ketuhanan. Yang tak ketinggalan adalah kekhasan musik-musik bawah tanah, yakni tentang satanisme. Seperti Rise Under The Moon yang mengisahkan tentang kegoyahan iman seseorang sehingga dirinya terbebas akal pikiran dan hati.

Komposisi pada dua lagu ini awalnya hanya sebatas instrumen. Kemudian Faust dan Digital Boyz hadir sebagai pengantar rima dalam lirik-liriknya. Pada akhirnya lirik yang telah tersusun dimasukkan sebagai substansi ke dalam beat-beat kosong. “Sempurna, bak mengisi gelas-gelas kosong dengan alkohol,” begitulah mereka menyebutnya.

Mereka adalah grup pendatang baru. Kemunculan Bestiarii sendiri diawali dengan kolaborasi antara Antoni P (dikenal dalam proyek Merdeka Voice/Recovery) dan Yogi Ario (dikenal dalam proyek AK//47/Sergapanmalam). Keduanya yang berasal dari wilayah musik bawah tanah, mencoba coba mengulik lebih dalam musik elektronik.

Mereka membawa serta konsep, kultur, maupun etos kerja ke dalam genre yang berada di luar disiplin mereka selama ini. Sekarang, keduanya berperan sebagai beat maker sekaligus produser dari rumah produksi bernama Triple Six OG Records yang mereka dirikan. Debut mereka ini diprediksi bakal membuat “resah” para penggemar musik hip-hop dan musik elektronik lokal Semarang.

Konten ini merupakan dibuat atas kerja sama dengan Semarang on Fire
Editor: Eka Handriana

 

 

 

 

You might also like

Comments are closed.