Birokrasi Rumah Sakit Rumit, Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi

Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Semarang masih cukup tinggi. Proses birokrasi di rumah sakit yang berbelit, juga turut berperan dalam tingginya angka tersebut.

Hal ini disampaikan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam sambutannya di acara Rapat Kerja DKK yang berlangsung pada Rabu-Kamis (25-26/3). Menurut dia, ada beberapa faktor dapat mempengaruhi ibu yang sedang hamil meninggal dunia, di antaranya ibu sendiri yang kurang peduli terhadap kesehatannya, bahkan sampai enam bulan juga ada yang tidak pernah periksa  hamil di usia muda.

“Selain itu, birokrasi di rumah sakit (RS) yang berbelit-belit yang harus menggunakan jaminan uang untuk bisa ditangani lebih intensif,” kata dia.

Hendrar menambahkan, faktor-faktor tersebut bisa ditekan jika semua RS memberikan pelayanan, pemeriksaan kehamilan dan mengutamakan penanganan gawat atau kualitas rujukan darurat di setiap RS.

“Saya berharap kepada sedulur-sedulur di RS termasuk dokter dan juru medis untuk bisa melayani pasien dengan sebaik-baiknya. Karena merupakan pintu pertama yang nantinya menjadi faktor keberhasilan dalam persalinan,” tandasnya

Sementara, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) pada 2014 lalu mencapai 33 jiwa. Untuk itu, DKK berupaya melaksanakan pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai standar.

“Penyediaan fasilitas pelayanan dasar yang mampu memberi pertolongan persalinan sesuai standar, penjaminan RS PONEK 24 jam sampai tujuh hari per pekan berfungsi standar dan penguatan tata kelola desentralisasi program kesehatan,”kata Kepala DKK Semarang, Widoyono. (ade)

You might also like

Comments are closed.