Bisnis Abadi “Penunggu” Ajal

Salah seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan batu nisan. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Salah seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan batu nisan. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Ajal, maut atau kematian tak pernah bisa dipastikan kapan datangnya. Saat Malaikat Maut datang menjemput, tak ada yang kuasa menolaknya. Kesedihan dan kebahagian seperti dua sisi mta uang yang tak terpisahkan bagi mereka yang menekuni bisnis perlengkapan jenazah.

Bergota sudah lama dikenal sebagai salah satu kompleks pemakaman tertua di Semarang. Di balik beragam kisah mistis yang dihadirkan, Bergota juga memberi sumber kehidupan bagi mereka yang bermukim di sekitarnya. Mulai dari penggali kubur, penjual bunga, hingga penyedia peti mati dan segala atribut keperluan jenazah.

Bisa dibilang, mereka adalah para “penunggu” ajal. Sebutan yang cukup bikin merinding bulu kuduk, tapi peran inilah yang harus dijalani Deni Kurniawan dan sesama pelaku bisnis penyedia perlengkapan jenazah yang bermukim di kawasan Bergota. Mereka bisa bernapas ‘lega’ ketika ada pesanan, yang berarti ada orang yang meninggal.

Terkadang muncul suara sumbang terkait roda bisnis yang sudah berlangsung turun-temurun ini. “Biasa saja, kalau semua orang takut, terus siapa yang akan menyediakan perlengkapan jenazah? Yang penting kita ikhlas saja,” tutur Deni, pemilik UD Soekahar di Jalan Kyai Saleh, Minggu (10/1).

Bagi Deni dan kolega, meski bisnis mereka sangat bergantung dengan kematian, tapi bukan berarti mereka mendoakan ada orang yang meninggal setiap saat. “Ajal atau maut itu kan sudah ada yang menentukan, seperti juga rezeki bagi kita,” ujarnya.

Lantas, bagaimana dengan mitos yang sudah telanjur melekat di masyarakat bahwa perlengkapan jenazah tak boleh ditawar? Berapapun harganya, menurut mitos harus dibayar sesuai permintaan penjual. Padahal, Deni sebagai penjual mengaku tidak demikian, dagangannya sebenarnya bisa ditawar andai saja pembeli merasa keberatan dengan harga yang ditawarkan.

“Cuman ada orang pembeli yang mempercayainya, bahwa kalau beli peralatan kematian tidak boleh ditawar, padahal itu tidak apa-apa,” terang Deni memberi kejelasan mengenai mitos tersebut.

Penjelasan Deni bukan tanpa alasan, karena dalam hal jual beli, tawar menawar harga sudah menjadi hal wajar. Termasuk jual beli perlengkapan kematian, menurutnya menawar itu sah-sah saja, apalagi jika kondisi orang yang meninggal tergolong orang yang kurang mampu.

“Apalagi pembelinya bilang kalau orang yang meninggal adalah orang yang tidak punya, kita tetap welcome karena kita juga ambil untungnya tidak banyak,” jelasnya.

Lain lagi kisah Sri Hiyanowati. Dia yang sudah menjalankan roda bisnis perlengkapan jenazah sejak 1977 silam mulai merasakan ketatnya persaingan. Hasil penjualan pun tak sebanyak dulu.

“Dulu sehari bisa menjual hingga 10 pasang batu nisan, karena banyak yang dari Mranggen, Banyumanik, Mijen mencari ke sini. Sekarang, separuhnya saja cukup sulit,” katanya.

Sepinya pembeli, lanjut Sri, juga dipengaruhi adanya aturan pemerintah agar di pemakaman tidak diperbolehkan memakai kijing, karena lahan semakin sempit. “Masalahnya tidak diberbolehkan pakai kijing karena kuburannya sudah penuh. Sekarang hanya pakai nisan saja, meskipun belum semua makam menerapkan aturan tersebut,” tandasnya.

Bisnis yang dijalani Deni dan Sri tersebut memang tak pernah bisa mati. Masalahnya, tak semua bersedia melanjutkan bisnis tersebut. Bagaimanapun bakal selalu ada saja yang mencari Deni, Sri dan kawan-kawan untuk menyediakan perlengkapan kematian. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.