Blaik! Gedung Paru dan Jantung RSUD Terancam Mangkrak

Pembangunan gedung paru dan jantung RSUD Kota Semarang dipastikan molor dari target yang ditetapkan. Foto Metrosemarang
Pembangunan gedung paru dan jantung RSUD Kota Semarang dipastikan molor dari target yang ditetapkan. Foto Metrosemarang

SEMARANG – Pembangunan gedung pelayanan penyakit paru-paru dan jantung di RSUD Kota Semarang terancam tidak selesai sesuai dengan target. Rumah sakit yang dibangun dengan anggaran APBD Kota Semarang sebesar Rp 6,6 miliar ini ditargetkan selesai pada 10 Desember mendatang. Namun hingga saat ini progres pembangunannya baru mencapai 22% dari target seharusnya sudah 80%.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo menyatakan pembangunan gedung tidak ada kemajuan progres yang sangat signifikan. Pada tinjauan Komisi D dua minggu sebelumnya progresnya sebesar 19% dan kini hanya bertambah menjadi 22%. Jika mempunyai niat ingin menyelesaikan pekerjaan seharusnya kontraktor dapat lebih maksimal melakukan pekerjaannya.

‘’Namun kenyataannya tidak, jumlah tenaga kerjanya tidak ada tambahan masih sekitar 40 orang saja, harusnya ada langkah-langkah konkrit sehingga target selesai 100% pekerjaan pada 10 Desember akhirnya bisa tercapai,’’ kata Anang, Kamis (20/11).

Legislator dari Fraksi Golkar ini mengaku kesal dengan pencapaian kerja yang dilakukan oleh kontraktor. Dia meminta kontraktor harus melakukan akselerasi atau percepatan pembangunan sehingga akhir tahun pembangunan selesai dan di tahun 2015, gedung pelayanan paru-paru dan jantung ini bisa beroperasi. Jika tidak bisa tercapai maka masyarakat, pemerintah, dan rumah sakit akan dirugikan.

‘’Kontraktor harus membuat plan A untuk akselerasi pembangunan, juga membuat plan B jika ternyata tidak selesai maka bagaimana agar bangunan yang sudah terbangun tidak rusak karena hujan ataupun panas dan lainnya,’’ katanya.

Rohaini, Anggota Komisi D menegaskan, kontraktor tidak boleh lari dari tanggung jawab dan harus mengejar keterlambatan sehingga bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak kerja. Kontraktor harus menambah jumlah tenaga kerja menjadi 100 orang dan membuat tiga sift pekerjaan serta segera mendatangkan material-material bahan pembangunan yang dibutuhkan.

‘’Komisi D ikut merasa bertanggungjawab karena terlibat dalam penganggaran dan memiliki fungsi pengawasan, sebagai anggota masyarakat kami pun juga akan rugikan jika pembangunan tidak selesai,’’ katanya.

Rukiyanto, Sekretaris Komisi D mengatakan, jika kontraktor hanya menjanjikan bisa menyelesaikan 60% pekerjaan pada 10 Desember maka bangunan gedung yang sudah terbangun pasti akan mangkrak. Sebab dalam anggaran APBD Kota Semarang 2015 yang sudah disahkan tidak ada penganggaran untuk menyelesaikan sisa pembangunan yang belum dikerjakan.

‘’Pekerjaan untuk menyelesaikan kekurangannya yang 40% mungkin baru bisa dianggarkan di 2016. Artinya, bangunan yang sudah terbangun akan mangkrak paling tidak selama satu tahun. Pemerintah dan rumah sakit serta masyarakat juga jelas akan dirugikan,’’ katanya. (MS-13)

You might also like

Comments are closed.