Bocah Tersangka Pembunuh Driver ‘Ojol’ Itu Dikenal Santun dan Grapyak

KASUS pembunuhan yang menimpa driver ojek online (Ojol) membuat miris semua pihak. Tak ada yang menduga jika tersangka pelakunya adalah dua remaja yang masih berstatus pelajar. Bahkan, IBR, yang menjadi otak pembunuhan dikenal santun di mata tetangganya.

Ratusan driver ojek online mendatangi Mapolrestabes Semarang untuk melihat lebih dekat para tersangka yang telah menghabisi rekan mereka. Foto: metrosemarang.com/efendi

Pelajar kelas X SMK tersebut lebih sering tinggal bersama budhenya di Jalan Lemah Gempal V RT 05 RW 04, Kelurahan Barusari, Semarang Selatan.

Menurut kesaksian tetangga, dia dikenal sebagai seorang anak yang sopan dan ramah. Dari perilaku dan cara berpakaian, ia tak memperlihatkan sosok anak yang nakal dan urakan.

“Dia (IBR) itu, kalau di rumah ya bermain sama anak seumurannya, ya mulai banyak temannya semenjak dia masuk SMK ini,” ujar Ketua RT setempat, Adi Prasetyo saat dijumpai metrosemarang.com, Rabu (24/1) siang.

Adi juga mengatakan, ketika berkumpul dengan teman-temannya juga tidak ada tindakan-tindakan yang meresahkan warga sekitar. Bahkan ketika ada teman yang menginap di rumah tersebut, IBR atau pun ibu angkatnya selalu melapor kepada RT setempat.

IBR tinggal bersama kakak dan ibu angkatnya yang tidak lain adalah kakak dari ayahnya. Mereka tinggal di rumah milik neneknya itu sejak IBR berusia sekitar 7 tahun. Namun saat akhir pekan tiba, mereka pulang ke rumah di daerah Sambiroto, Tembalang.

“Kalau sesuai administrasi, mereka bukan warga sini tapi menempati rumah milik nenek IBR, hanya saja neneknya sudah meninggal sejak beberapa tahun lalu. Dan mereka pun sudah sangat dekat dengan kami warga sini,” imbuh Adi.

Di RT yang dihuni oleh sekitar 15 kepala keluarga tersebut, keluarga IBR memang tergolong orang yang terpandang. Ibu angkat IBR merupakan seorang pegawai negeri sipil yang mengemban tugas di Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah.

“Tapi meskipun secara administrasi bukan warga sini, ibu angkat IBR ini menjadi bendahara di kepengurusan RT kami. Ia juga selalu terlibat dalam kegiatan warga apalagi urusan dana, sering membantu,” beber Adi.

Sementara itu, istri Adi, Rita mengatakan semasa IBR masih duduk di bangku SMP, ia sering menjumpai IBR bersama kakaknya bermain Playstation (PS) di sekitar Jalan Suyudono. Pasalnya, saat itu anaknya juga suka bermain PS saat hari libur.

“Anak saya kan memang juga kadang mainan PS kalau liburan, nah saya juga sering nglihat dia (IBR) mainan disitu sama kakaknya,” ujar Rita.

Kakak IBR merupakan anak kandung dari ibu angkat IBR. Namun kedekatan mereka sudah seperti kakak sendiri.

Rita juga mengatakan, keramahan serta kesopanan IBR terlihat ketika disuruh menyampaikan sesuatu kepadanya. “IBR ini kalau dateng ke rumah saya misal dipesenin sama ibunya apa gitu, ibunya kan kebetulan bendahara jadi sering ada urusan sama saya terkait kegiatan warga. Dia (IBR) selalu nyapa, grapyak (ramah), ‘Siang tante, ini saya disuruh sama mama nganterin ini,’ gitu, kalau ketemu di luar juga selalu nyapa,” tambah Rita.

Hal tersebut yang membuat kaget Rita beserta warga lainnya ketika mendengar kabar bahwa IBR menjadi salah satu tersangka dalam kasus pembunuhan driver taksi online bernama Deni Setiawan. Bahkan sampai saat ini, Rita belum bisa percaya IBR bisa berbuat senekat itu.

“Sampai sekarang saya masih belum percaya kalau anak itu yang membunuh, anaknya juga ganteng, diem, sopan, tapi kok kemarin mendengar kabar dia terlibat di kasus pembunuhan, saya kaget sekali Mas,” paparnya.

Untuk diketahui, IBR (16) dan DIR (15) merupakan tersangka dalam kasus pembunuhan yang menewaskan Deni Setiawan (25). Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi pada Sabtu (20/1) lalu. Jasad Deni dibuang di Perumahan Bukit Cendana, Sambiroto, Tembalang.

Mereka kemudian berhasil diamankan oleh petugas Resmob Polsek Tembalang dan Polrestabes Semarang di rumahnya pada Senin (22/1) malam. Keduanya juga terancam hukuman berat jika terbukti melakukan pembunuhan berencana. (fen)

You might also like

Comments are closed.