Bongkar Tabungan 4 Tahun, Bocah Ini Bayar Seragam Sekolah Pakai Uang Receh

METROSEMARANG.COM – Eka Duta Prasetya mendadak tenar di jagat maya. Musababnya, bocah asal Desa Ngadirojo Kecamatan Secang Kabupaten Magelang ini membayar biaya pendidikan di MAN Kota Magelang menggunakan uang recehan hasil jerih payahnya menabung selama empat tahun.

Foto Duta yang membayar biaya seragam pakai uang receh menjadi viral di media sosial. Foto: istimewa

Ditemui wartawan di rumah kontrakan Griya Purna Bhakti Indah RW 09, Desa Ngadirojo Kecamatan Secang Kabupaten Magelang, Rabu (21/6) Duta nampak malu-malu. Ia pun tidak menyangka kalau apa yang dilakukan kini menjadi bahan perbincangan banyak orang.

Bermula dari postingan di Instagram foto Duta sedang membayar uang seragam di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Magelang memakai uang koin pecahan Rp 1.000-an dan Rp 500-an. Seorang guru perempuan pun rela menghitung uang receh tersebut dan ditumpuk-tumpuk. Di hadapannya nampak terlihat Duta dengan menunggu perempuan berjilbab itu menghitung uang recehnya.

Ia yang baru lulus MTsN Kota Magelang di Ngembik Kramat bertekad untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kendati ayahnya yang bekerja sebagai tukang parkir di RST Dr Soedjono tidak memiliki biaya.

“Rencananya uang tabungan ini untuk membeli laptop atau komputer. Tapi karena harus beli seragam, terpaksa saya ambil. Uang saya bawa dengan tas plastik,” kata Duta yang sengaja mendaftar ke MAN yang berjarak lebih dekat dengan rumahnya.

Sebenarnya, Duta sempat berniat menukarkan uang receh itu terlebih dahulu. Namun karena waktu pembayaran seragam sudah mepet, maka ia membawa lebih dulu ke sekolah untuk menunjukkan kalau dirinya serius mau masuk di MAN.

“Kalau nanti ditolak, saya berencana menukarkan. Tapi ternyata diperbolehkan membayar dengan koin ini, maka saya tidak jadi menukarkan,” katanya.

Duta merupakan anak dari pasangan Agung Prasojo (42) dan Tutik (37). Ia tinggal bersama ayah dan neneknya Sutiyah (54), setelah kedua orang tuanya bercerai.

Duta berkisah kalau uang receh itu sudah ditabungnya sejak 4 tahun lalu. Setiap hari ia diberi uang saku sebesar Rp 15 ribu oleh ayahnya. Saat sekolah di MTs, uang saku selalu ia sisihkan Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu dan dimasukkan ke dalam toples bekas. Sisanya untuk naik angkutan menuju sekolah.

Remaja 16 tahun ini sadar jika penghasilan ayahnya sangat pas-pasan. Sebagai tukang parkir, sehari hanya mampu mengumpulkan Rp 40 ribu. Dia juha harus menunda keinginan membeli laptop, demi bisa membayar uang seragam di sekolah barunya.

Sutiyah, nenek Duta menuturkan, sejak kecil cucunya memang sudah diajari untuk prihatin. Di saat teman sebayanya sembunyi-sembunyi merokok, Duta diingatkan untuk tidak ikut merokok. Selain memang alasan perekonomian, saat kecil Duta terjangkit penyakit paru-paru. “Tapi alhamdullilah, sekarang sudah membaik, katanya.

Menurut Sutiyah, saat sekolah di MTs, cucunya sering bawa bekal dari rumah untuk menghemat dan tidak banyak jajan. Uang saku disisihkan untuk menabung.

Uang tabungan semakin hari terus bertambah, bahkan pernah mencapai Rp 7 juta. “Iya saya sering pinjam untuk berobat,” kata Sutiyah.

Terpisah, Kepala MAN 1 Kota Magelang Kasnawi juga merespons positif terhadap perjuangan Duta. Tanpa pikir panjang, pihaknya akan membina Duta dengan sebaik mungkin. Bahkan, pihak sekolah membuatkan rekening tabungan untuk Duta agar bisa menyimpan uangnya di bank.

Tidak hanya itu, selama menuntut ilmu di MAN 1 Kota Magelang, ia tidak akan dipungut biaya pendidikan. “Di MAN, soal biaya jangan sampai menjadi kendala siswa dalam menuntut ilmu. Yang terpenting, siswa masuk ke sekolah lebih dahulu, setelah itu baru proses pembinaan,” paparnya.

Menurut Kasnawi, untuk remaja seperti Duta dan bisa menabung dengan jumlah sekian, bukan hal mudah. “Uang receh ditabung menunjukkan sikap kehatia-hatian sang anak,” katanya.

Apalagi ia menyimpan uangnya hanya di toples bekas makanan atau snack. Selain mudah dilihat karena toplesnya bening, uang tabungan mudah diambil. Duta dinilai sudah mempersiapkan dengan baik, terkait masa depannya.

Semangat Duta, kata Kasnawi, bisa menjadi inspirasi bagi semua siswa agar terus bersemangat menuntut ilmu dalam keadaan apapun. (metrojateng.com/MJ-24)

You might also like

Comments are closed.