Boomer Music, Karena Alat Musik Tak Harus Mahal

Buka Sejak 2002

Tepatnya berada di sebelah SPBU di Jalan Kelud Raya, Sampangan. Lapak Boomer Music sudah dibuka sejak 17 tahun lalu.

DALAM keseharian, rasanya hampir tidak mungkin berlangsung tanpa suara musik. Asal suaranya bisa dari mana saja. Dari pengamen di jalan, dari pengeras suara para penjaja di pasar, atau dari stereo set di kamar kita sendiri.

Bicara musik, sulit terhindar dari bicara soal instrumen-instrumen yang dipakai musisi untuk memproduksi suara, yakni alat musik. Alat musik itu sendiri bisa didapat dari mana saja. Dari toko yang menjual alat musik pabrikan, dari gerai yang hanya melayani pesanan, atau dari lapak di pinggir jalan yang memajang produk buatan tangan.

 

Saya tidak mau menjual barang dengan harga mahal.
– Prihatmoko, Pemilik Boomer Music Semarang –

 

Kami menemukan lapak yang menjual alat musik buatan tangan seperti itu di Sampangan, Kota Semarang. Setelah menghabiskan siang dengan minuman penghilang haus dan semilir angin Taman Sampangan, kami beranjak pulang. Niat kami urung lantaran menemukan lapak alat musik bernama Boomer Music tak jauh dari taman itu. Tepatnya berada di sebelah SPBU di Jalan Kelud Raya, Sampangan. Kami tak pernah tahu sebelumnya, meski Boomer Music sudah membuka tempat itu sejak 17 tahun lalu.

Lapak ini tidak besar, berukuran sekitar 3 x 6 meter yang dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian lapak untuk memajang alat-alat musik. Ukulele, gitar klasik, bass gitar, biola, cajon, ketipung hingga tifa, ditata di sana. Satu bagian sisanya dijadikan bengkel pembuatan alat-alat musik. Menurut kami, sangat mengesankan jika dapat melihat pembuatan alat musik dan setelah selesai langsung dipajang di ruang pajang di sebelahnya.

Rasa penasaran mendorong kami untuk tahu lebih jauh tentang lapak Boomer Music ini. Kami pun berbincang dengan empunya lapak, Prihatmoko. Dialah yang mendirikan sekaligus membuat alat-alat musik yang dipajang di ruang pajang Boomer Music.

Sejak awal, Prihatmoko memang memiliki hobi bermusik. Iapun membuat alat musik. Jauh sebelum internet berkembang seperti sekarang ini, Prihatmoko belajar membuat gitar secara autodidak, ia tidak menempuh pendidikan khusus soal pembuatan alat musik. Namun Prihatmoko sering kali melihat cara orang lain membuat gitar. Ia mengandalkan pengalamannya itu.

 

Pesanan Khusus

Alat musik yang dibuat Prihatmoko sebagian besar merupakan alat musik pesanan, dengan permintaan-permintaan khusus. Untuk membuat satu gitar, Prihatmoko membutuhkan waktu satu hingga dua bulan, bergantung pada kerumitan desain yang dipesan khusus oleh pelanggan. Semakin rumit, akan semakin lama proses pembuatannya.

“Pembuatan gitar tidak bisa selesai hanya dengan waktu satu-dua minggu saja. Perlu waktu, agar kualitas gitar bagus,” kata Prihatmoko. Ia tidak ingin buru-buru dalam membuat gitar, meski antrean pesanan banyak. Sebab, kata Prihatmoko, membuat gitar tidak bisa sembarangan. Harus sangat teliti, agar kualitas bunyi yang dihasilkan maksimal.

gitar semarang
Gitar-gitar setengah jadi buatan Boomer Music. (foto: metrosemarang/Zahra Saraswati)

Dalam sebulan, Prihatmoko dapat membuat paling tidak lima gitar pesanan khusus. Ia dibantu oleh dua karyawannya, seorang sebagai pembuat alat musik, dan seorang lagi sebagai kasir. Tetapi ia tetap merasa kewalahan dengan jumlah pesanan yang masuk. Selain turut membuat, Prihatmoko sendirilah yang mengontrol seluruh proses pembuatan. Mulai dari memilih bahan, mengontrol kualitas suara, hingga memberikan sentuhan akhir.

Untuk bahan baku, Prihatmoko kerap menggunakan kayu Maple. Keistimewaan kayu jenis ini terletak pada teksturnya yang keras, sehingga tidak mudah rusak saat melewati proses pembentukan. Kelemahannya, kayu ini berharga mahal. Itu menjadi persoalan tersendiri bagi Boomer Music yang memiliki visi menyediakan alat musik yang murah namun berkualitas bagus.

Untuk menyiasatinya, Prihatmoko mengganti bahan baku cat. Ia menurunkan sedikit tingkat kualitas cat yang digunakan. Dengan begitu, kualitas suara tetap bagus, namun harga alat musik tetap terjangkau. Sehingga alat musik yang bagus bisa dimainkan siapa saja. Satu gitar buatan Boomer Music dibanderol dengan harga Rp 75 ribu hingga Rp 4 juta, bergantung pada bahan dan desain yang dipesan.

Prihatmoko tidak menaikkan harga pesanan gitar atau alat musik lainnya, kendati harga bahan baku naik. Kecuali kenaikan harga bahan bakunya tidak wajar. “Saya tidak mau menjual barang dengan harga mahal. Saya mau menjual barang dengan harga murah dan kualitas bagus, yang tak kalah dengan pesaing-pesaing lainya,” Prihatmoko menjelaskan strateginya. Strategi itu terus dipakainya sejak membuka lapak Boomer Music, hingga sekarang.

 

Tak akan Pindah

Tak hanya membuat dan menjual alat musik. Dengan keahlian membuat dan memainkan alat musik, para pengelola Boomer Music juga memberikan jasa servis alat musik. Mulai dari gitar, drum, keyboard dan lainnya. Boomer Music tidak memiliki patokan biaya servis. Biaya servis berkisar antara Rp 10 ribu hingga jutaan rupiah, bergantung pada kerusakannya. Tak banyak yang tahu jika musisi-musisi di Semarang kerap menyerviskan alat-alat musik mereka di Boomer Music.

gitar semarang
Lapak alat musik Boomer Music. (foto: metrosemarang/Zahra Saraswati)

Boomer Music juga menjual perlengkapan alat musik seperti senar, pemukul drum dan lainya. Dengan itu semua, omzet Boomer Music dalam sebulan bisa dibilang lumayan. Berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.

Kendati beromzet lumayan, Prihatmoko tidak memiliki keinginan untuk memindah Boomer Music ke tempat yang lebih besar. Menurutnya, lapak pinggir jalan yang ditempati saat ini merupakan tempat yang strategis. Antrean yang kerap kali terjadi di SPBU Kelud Raya menjadi keuntungan tersendiri bagi Boomer Music.

“Tempat ini dekat dengan pom bensin (SBPU – red). Setiap ada antrean atau kemacetan karena antrean (pengisian bahan bakar), pasti akan menoleh ke arah sini,” kata Prihatmoko. Itu sebabnya, ia merasa tidak terlalu perlu mempromosikan lapak alat musiknya.

“Lebih baik saya tetap berjualan di sini dengan tetap mempertahankan ciri khas dan kualitas yang saya punya. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan pelanggan. Saya memutuskan untuk tidak berpindah tempat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Jessica Celia (magang), Zahra Saraswati (magang)
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.