BPCB Jateng Kawal Pelaporan soal Bangunan Kuno di Pasar Peterongan

Bangunan Pasar Peterongan di tahun 1927. Foto Metrosemarang/istimewa
Bangunan Pasar Peterongan di tahun 1927. Foto Metrosemarang/istimewa

SEMARANG – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng mendukung langkah Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang dalam usahanya menyelamatkan bangunan kuno di Pasar Peterongan yang terancam tergusur oleh rencana proyek revitalisasi pasar tahun 2015.

KPS telah melaporkan bangunan kuno Pasar Peterogan ke Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) pada Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) Kota Semarang hari Kamis (13/11). “Mohon kami juga diberi tembusan, agar kami pun bisa mengawal. Nanti kalau tembusannya sampai kemari, akan kami koordinasikan dengan TACB Kota,” ujar Kepala Seksi Pelindungan, Pemeliharaan, dan Pemanfaatan BPCB Jateng Gutomo, Jumat (14/11).

Gutomo tidak heran kalau satuan perangkat kerja daerah yang punya gawe revitalisasi itu pura-pura tidak tahu tentang aturan kecagarbudayaan. “Di banyak daerah ya adayang kayak gitu. Sudah tahu ramai di media, tapi kalau ditanya jawabnya tidak tahu,” ucapnya.

Ia menyarankan agar Dinas Pasar yang memegang proyek revitalisasi itu ditembusi, agar mengetahui permasalahan kecagarbudayaan yang diperjuangkan masyarakat.

Koordinator KPS Semarang Rukardi Achmadi mengatakan, pelaporan komunitas ke TACB Kota itu dilakukan karena proyek revitalisasi tersebut sama sekali tidak berwawasan cagar budaya.

“Sudah tahu ada bangunan kuno di pasar kok mau dimusnahkan, alasannya belum terdaftar cagar budaya. Harusnya kalau tahu ada bangunan kuno yang belum terdaftar itu ya menjadi kewajiban pemerintah daerah mendaftarkan, bukan malah dimusnahkan,” katanya.

Ia jelaskan, pelestarian terhadap bangunan peninggalan sejarah bukan hanya dilindungi oleh UU Cagar Budaya, namun juga dilindungi oleh UU Bangunan Gedung No 28/2002, PP No 26/2005 tentang Pelaksanaan UU Bangunan Gedung No 28/2002, dan Perda Kota Semarang No 5/2009 tentang Bangunan Gedung.

“Kalau itu dimusnahkan tanpa ada proses pendafaran, kajian cagar budaya, dan putusan hasil kajian, tindakan tersebut adalah pelanggaran terhadap UU Bangunan Gedung, PP Pelaksana Bangunan Gedung, dan Perda Bangunan Gedung Kota Semarang. Kecuali kalau setelah didaftarkan dan dikaji TACB menyatakan bangunan kuno itu bukan cagar budaya, baru bisa dibongkar. La ini tidak ada proses apa-apa kok mau dimusnahkan,” tegas dia.

Menurut dia, bangunan kuno di Pasar Peterongan itu patut diduga cagar budaya sebab setelah dipelajari telah memenuhi kriteria cagar budaya yang dipersyaratkan Pasal 5 UU Cagar Budaya No 11/2010 dan Pasal 84 ayat (1) PP No 36/2005 tentang Pelaksanaan UU Bangunan Gedung No 28/2002 dan Pasal 150 Perda Kota Semarang No 5/2009 tentang Bangunan Gedung.

Kriterianya cagar budaya tersebut adalah usia bangunan sekurang-kurangnya 50 tahun, newakili masa gaya minimal 50 tahun, dan dianggap mempunyai arti penting sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan termasuk arsitektur dan teknologinya. “Semua kriteria cagar budaya itu terpenuhi,” kata dia.

Ketua TACB Kota Semarang Widya Wijayanti mengatakan telah menerima laporan KPS tersebut dan akan menindaklanjutinya. “Laporan sudah didiskusikan dan ditindaklanjuti,” katanya. (*)

 

 

 

You might also like

Comments are closed.