BPOM Semarang Akui Sulit Ungkap Peredaran Obat Aborsi

badan pom
Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Semarang mengaku kesulitan menindak pelaku penjual obat aborsi yang beredar di masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah tak ada keluhan atau laporan dari konsumen.

“Kalau kita mendapatkan laporan dari konsumen ya langsung kita tindak lanjuti,” kata Edeltrudis Rukmini, Plt Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Semarang, saat ditemui di kantornya Jalan Madukoro Blok AA-BB No 8, Jumat (12/2).

Rukmini menjelaskan, berbagai obat aborsi yang banyak dijual secara online merupakan penyalahgunaan obat. Sebab, sebetulnya fungsi obat tersebut bukanlah untuk menggugurkan janin dalam kandungan, tapi justru banyak disalahgunakan.

Pemakaian obat tanpa resep dokter, lanjut Rukmini, bisa berisiko tinggi bahkan mengancam nyawa. Dalam praktik aborsi, nyawa calon ibu sangat rentan hingga mengakibatkan kematian. Hal ini karena mengonsumsi obat harus mengetahui dosis dan aturan pemakaian.

“Kalau ada risiko apa-apa ya yang mau bertanggungjawab siapa? Wong mereka mencari sendiri. Penjual obat secara online belum tentu bisa bertanggung jawab,” terangnya.

Dia menegaskan, sesuai dengan UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan,  praktik aborsi dilarang. Bahkan seorang dokter pun bisa ditindak jika terbukti melakukan praktik aborsi tanpa alasan kesehatan yang jelas. Jika melanggar pelaku bisa dihukum penjara maksimal 10 tahun.

Kepolisian Sektor Tembalang berhasil mengungkap praktik aborsi yang diduga dilakukan seorang santriwati dan kekasihnya pada Kamis (11/2). Dari pengakuan pelaku, mereka menggugurkan janin di dalam kandungan menggunakan obat yang dibeli secara online. (din)

You might also like

Comments are closed.