Brigadir Ahmad Sarji, Pencetak Anjing Detektif Polrestabes Semarang

Brigadir Ahmad Sarji bersama anjing asuhannya. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Brigadir Ahmad Sarji bersama anjing asuhannya. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

SEMARANG – Bukan hal yang mudah untuk mengubah seekor anjing biasa menjadi seekor anjing pelacak atau anjing yang terlatih. Butuh ketekunan untuk  memberi pelatihan pada anjing agar bisa mematuhi sebuah perintah yang diberikan. Inilah yang dialami Ahmad Sarji, Brigadir Polisi yang menjalani kesehariannya sebagai pelatih anjing pelacak di Mapolrestabes Semarang.

Meski berprofesi sebagai seorang polisi, sebagian besar karirnya dihabiskan bersama hewan-hewan berindera pencium tajam tersebut. Selama 21 tahun ia melatih anjing untuk keperluan penyidikan. “Banyak tingkatan latihan yang harus dilalui seekor anjing agar bisa menjadi anjing pelacak,” tutur pria berkumis tebal tersebut saat ditemui metrosemarang.com, Kamis (9/10).

Menurutnya, latihan dasar seperti memberi keterampilan pada anjing harus diberikan dulu sebelum masuk ke tahap latihan pelacakan. “Saat latihan pelacakan biasanya saya melatih dengan cara menyuruh anjing mencari barang yang sudah di ciumnya terlebih dahulu. Barang saya sembunyikan di tempat tertutup,” imbuhnya.

Saat ini, pria yang akrab disapa Pak Sarji itu menjabat sebagai pawing anjing di Unit Satwa Polrestabes Semarang. Berbagai kasus sudah banyak dibantu oleh anjing yang dilatihnya, seperti kasus pencurian yang marak terjadi belakangan ini dan kasus besar seperti kasus pembunuhan yang menimpa mahasiswi Undip September lalu.

Untuk kategori jenis anjing yang digunakan, ia mengungkapkan lebih senang menggunakan jenis anjing dari ras Melanoist. Selain penciumannya tajam, menurutnya anjing tersebut lebih mudah untuk dilatih.

Di Polrestabes Semarang sendiri, saat ini memiliki 11 ekor anjing, yang terdiri dari satu ekor herder, 3 melanoist, satu doberman, satu root weiler, satu pitbull, satu golden red, dan  tiga jenis anjing campuran. “Menurut saya anjing juga mempunyai perasaan sendiri, melatih mereka harus telaten dan bertahap,” tandas Sarji. (dit)

You might also like

Comments are closed.