Bukan Sekadar Gambar, Kartun Itu Kritik

Semarang Cartoon Camp #1

Seniman kartun harus memiliki kecerdasan lebih tinggi dibanding seniman lain. Karena tidak hanya bermain visual saja. Tapi ada pesan yang disampaikan

PADA tahun 1843, Punch, majalah mingguan humor dan satir terbitan London, memuat gambar karya John Leech. Gambar berjudul “Cartoon No.1” itu menyindir gagasan Balaikota London yang mengadakan sayembara pembuatan lukisan dinding di gedungnya. Sayembara itu dianggap menghambur-hamburkan uang.

kartun semarang
Kartunis JItet Kustana memberikan materi di Semarang Cartoon Camp #1. (foto: metrosemarang/Efendi)

“Cartoon No.1” mengkritik pemborosan yang dilakukan balaikota. Sejak itu, istilah kartun dikenal dalam seni ilustrasi humor moderen. Hingga saat ini, kartun masih berfungsi untuk melontarkan protes, kritik dan sindiran terhadap apa saja.

Kartunis pemegang rekor Museum Rekor Indonesia untuk penghargaan internasional, Jitet Koestana menyepakati hal itu. Kartun dapat dipakai sebagai alat untuk merespon gejolak sosial yang dirasa berdampak buruk, hingga alat kritik terhadap penguasa. “Kartun dapat menjadi alat kritik sosial,” katanya di depan 35 peserta Semarang Cartoon Camp #1.

 

Rintisan

Itu merupakan helatan pertama yang digelar oleh Yayasan Gold Pencil Indonesia di Griya Pawening Jati, Mijen, Semarang mulai Sabtu (6/10/18) hingga Minggu (7/10/18). Selain Jitet yang pernah menjadi kartunis Harian Kompas, Gold Pencil juga menggandeng guru seni rupa SMP 17 Semarang, Suratno serta Kartunis Harian Suara Merdeka, Djoko Susilo.

“Tujuan acara Semarang Cartoon Camp #1 adalah untuk membekali peserta dengan skill dasar menggambar kartun. Sekaligus mereka dibekali cara mengembangkan ide atau gagasannya,” kata Abdul Arif, Ketua Yayasan Gold Pencil Indonesia.

Menurut Arif, penting bagi peserta untuk mengetahui sejarah hingga fungsi kartun, ragam kartun, dan perbedaan kartun dengan seni gambar yang lain seperti komik dan karikatur.

 

Bekal Seniman Kartun

Menurut Jitet, seniman kartun harus memiliki kecerdasan lebih tinggi dibanding seniman lain. “Karena tidak hanya bermain visual saja. Tapi ada pesan yang disampaikan,” ungkap Jitet.

Itulah perbedaan mendasar antara kartun dengan karikatur. Dimana karikatur cenderung mengeksplorasi teknik menggambar, yakni dengan melebih-lebihkan bagian tertentu dari objek sehingga memunculkan kesan jenaka. Sedangkan kartun tak berhenti sampai di situ, melainkan mengandung pesan.

kartun semarang
Peserta Semarang Cartoon Camp #1 membuat kartun usai mendapatkan materi dari para kartunis. (foto: dok.goldpencil)

Seniman kartun harus memasukkan pesan-pesan dengan berbagai pendekatan. “Ada berbagai jenis pendekatan yang bisa digunakan untuk membuat kartun. Humor, parodi, analogi, putar balik logika dan beberapa lainnya,” kata Jitet.

Jitet menegaskan bahwa kartun yang bagus adalah kartun yang memihak. Keberpihakan haruslah kepada sesuatu yang tertindas. Keberpihakan yang dimaksud tak lepas dari kebebasan berekspresi. Keduanya saling berkaitan, dimana biasanya ekspresi keberpihakan pada ketertindasan mendapatkan represi-represi dari penguasa. Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang Edi Faisol besama Ketua Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan kota Semarang, M Shofi Tamam memantik diskusi berkaitan dengan kebebasan ekspresi dan kritik sosial.

Usai mendapatkan seluruh materi, para peserta Cartoon Camp #1 mempraktikkan pembuatan kartun. Hasil karya para peserta bakal dikirimkan ke berbagai kompetisi internasional. Diantaranya 2nd Internasional Our Heritage Jerusalem Cartoon Contest 2018, di Turki. Internasional Tourism Cartoons Competition 2018, di Turki, dan 4th Internasional Biennial Book Cartoon Contest 2018, di Iran.

“Kami berharap peserta Semarang Cartoon Camp #1 makin termotivasi untuk berkarya. Kami juga mengharapkan mereka bisa menyebarkan semangat kreatif ini kepada teman-teman lainnya,” pungkas Abdul Arif. (*)

 

Reporter: Efendi
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Leave A Reply