Bukibuk Semarang, Karena Pernikahan Tak Selalu Mudah

Wadah Curhat Ibu-Ibu Muda

Jika tidak mengetahui cara menghadapinya, dapat berakibat fatal. Belum lagi menghadapi persoalan-persoalan lain yang tidak didapati ketika belum ada pernikahan.

MARRIAGE is ugly, you see the absolute worst in someone. You see them when they’re mad, sad, being stuborn, when they’re so unlovable they make you scream. […]

Kalimat itu ada dalam salah satu unggahan akun instagram @bukibuk.smg, sebuah akun yang dikelola oleh perkumpulan ibu-ibu muda di Semarang, Bukibuk Semarang. Tahun lalu, perkumpulan itu dibentuk dan menjadi wadah untuk menampung uneg-uneg tentang persoalan keluarga dari pernikahan masing-masing.

Seperti yang tertulis dalam unggahan instagram itu, seorang yang ada dalam sebuah lembaga pernikahan tentu akan melihat hal terburuk dari diri seorang lainnya yang ada di dalamnya pula. Melihat seseorang dalam keadaan amat marah, sedih, menyebalkan dan sangat keras kepala tentu tidak mudah. Jika tidak mengetahui cara menghadapinya, dapat berakibat fatal.

Belum lagi menghadapi persoalan-persoalan lain yang tidak didapati ketika belum ada pernikahan. Ketua Bukibuk Semarang, Edtrianasari bilang, para ibu muda sangat membutuhkan tempat untuk sekadar saling berbincang seputar kehidupannya. Bisa jadi itu persoalan keseharian, namun bisa jadi persoalan yang lebih serius. Kehamilan, kesehatan, atau problem tentang pertumbuhan anak.

Ibu muda semarang
Perayaan ulangtahun pertama Komunitas Bukibuk Semarang di Plaplay MG Setos, Sabtu (1/9/2018). Foto: metrosemarang.com/ Ade Lukmono

Kami menemui Sari, sapaan Edtrianasari, di Plaplay, MG Setos, Sabtu (1/9/2018). Perkumpulan itu sedang merayakan ulang tahun yang pertama di sana. Kami berbincang di sela-sela perayaan ulang tahun itu.

 

Apa yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas Bukibuk Semarang?

Sari: Para ibu muda kebanyakan masih clueless (kurang pengetahuan) seputar kehidupan setelah menikah. Di sini mereka bisa berbagi pengalaman untuk dijadikan referensi. Para ibu muda tidak perlu khawatir untuk berbagi masalah seputar meraka. Para anggota komunitas akan menyambut dan memberikan saran dan solusi.

 

Kegiatan rutin apa yang dilakukan komunitas dalam satu tahun ini?

Sari: Dulunya setiap satu bulan sekali kami mengadakan semacam gathering dan seminar. Namun melihat kesibukan masing-masing, kumpul-kumpul yang kami sebut playdate kami gelar tiap dua bulan sekali.

Bukibuk Semarang menetapkan tanggal 31 Agustus sebagai hari ulang tahun. Sebelum Agustus 2017, kelompok ini telah beberapa kali mengadakan pertemuan. Berawal dari percakapan grup dalam aplikasi Whatsapp yang hanya beranggotakan 10 orang, kemudian berkembang menjadi 78 orang. Perkumpulan ini lantas melebarkan jejaring lewat instagram yang saat ini diikuti oleh 782 orang.

 

Apa yang dibahas ketika berkumpul bersama?

Sari: Kami mengadakan seminar kecil yang membahas banyak hal seputar kehidupan rumah tangga. Tidak hanya membesarkan anak atau parenting, tetapi juga mencakup pembahasan lainnya. Tentang kesehatan anak dan keluarga, gizi, KB, bahkan cara mengatur keuangan rumah tangga, investasi dan lain-lain seputar rumah tangga.

Elizabeth B Hurlock, seorang ahli psikologi perkembangan, dalam buku Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, mendefinisikan pernikahan merupakan periode individu belajar hidup bersama dengan suami/istri membentuk suatu keluarga, membesarkan anak-anak, dan mengelola sebuah rumah tangga.

Apabila tugas ini dapat dilalui dan terselesaikan dengan baik maka akan membawa kebahagiaan bagi individu. Akan tetapi, tugas tersebut tidak mudah untuk dilalui oleh pasangan suami istri karena banyak hal yang harus dihadapi setelah menikah seperti pengelolaan keuangan rumah tangga, membina komunikasi yang baik dengan keluarga, mendidik serta menyekolahkan anak, dan lain sebagainya.

 

Siapa yang bisa bergabung di komunitas Bukibuk Semarang?

Sari: Pada umumnya, wanita yang sudah menikah. Entah memiliki anak atau belum boleh bergabung. Wanita yang sudah memutuskan untuk tidak memiliki anak juga dipersilakan bergabung. Saat ini anggota komunitas Bukibuk Semarang mencapai 183 orang.

 

Apa bedanya dengan komunitas ibu-ibu yang lain?

Sari: Di Semarang memang banyak wadah untuk para ibu muda, contohnya Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan masih banyak yang lainnya. Di komunitas lain mungkin pembahasannya lebih spesifik, contohnya AIMI fokus ke pembahasan ASI. Namun kami lebih general. Banyak anggota kami yang juga anggota AIMI, (komunitas) Ibu Profesional dan komunitas lainnya.

 

Apa target Bukibuk Semarang ke depan?

Sari: Saya ingin anggota komunitas ini bisa memberi manfaat kepada masyarakat luas, terutama ibu-ibu muda yang ada di pinggiran kota. Kami ingin memberikan akses informasi bagi mereka agar mereka merasa memiliki banyak rekan dan tidak sendirian menjalani fase kehidupan barunya sebagai ibu rumah tangga. Jadi manfaat tidak hanya dirasakan para anggota komunitas tapi juga di luar komunitas.

Data dari Dirjen Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung tahun 2016 pada periode 2014-2016 tren perceraian di Indonesia meningkat. Tahun 2014 ada 344.237 kasus perceraian, naik menjadi 365.633 perceraian di tahun 2016. Rata-rata angka perceraian naik 3% per tahun. Dari sekitar dua juta pasangan menikah, pasangan yang melakukan perceraian jumlahnya mencapai tiga ratus ribu lebih atau sekitar 15% lebih. Penyebab perceraian, mulai dari persoalan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), konflik keluarga, perselingkuhan, narkoba, tidak melaksanakan ibadah dan lain-lain.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana, Muhammad Iqbal, dalam bukunya Psikologi Pernikahan: Dinamika Masalah Pernikahan di Era Millennial (PDF) menyebutkan, salah satu penyebab terjadinya perceraian terjadi karena lemahnya perencanaan dalam pernikahan dan keluarga. Mulai dari perencanaan dalam memilih pasangan, perencanaan pernikahan, pembangunan ekonomi keluarga dan lain-lain.

Ada masalah apa dengan ibu-ibu di pinggiran sehingga Bukibuk Semarang ingin terjun ke sana?

Sari: Biasanya adalah usia pernikahan yang terlalu muda, kesehatan selama kehamilan, menjaga gizi, kehamilan dengan risiko tinggi, KB, kesehatan ibu dan anak.

 

Informasi mengenai kegiatan dan pengetahuan seputar ibu muda bisa diakses di mana?

Sari: Saat ini kami masih mengandalkan instagram @bukibuk.smg untuk menginformasikan kegiatan. Ke depannya kami akan membuat website yang isinya mengenai pengalaman para anggota kami. Sepertinya menarik karena anggota kami berasal dari berbagai background dan komunitas ibu lainnya.

Pada dasarnya Keluarga Berencana ini bertujuan menunda kehamilan dan Mengatur jarak kehamilan. . Kita sering sekali bingung kan ya bukibuk Alat kontrasepsi apa nih yang harusnya kita pakai? ….. Alat Kontrasepsi sendiri itu sebetulnya ada 4 macam : 1. Kontrasepsi Alami (menyusui dan sistem KB kalender) 2. Kontrasepsi permanen (tubektom, vasektomi dll) 3 kontrasepsi barrier/penghalang fisik (spermisida, diafragma, kondom) 4. kontrasepsi hormonal (pil KB ,suntik KB,patch, cincin vagina dan implan) ……. Untuk menentukan KB mana yang paling tepat tentunya, kita perlu mencari tau kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kalo bukmin sering disarankan untuk memasang IUD (Intra-Uterine Device) IUD sendiri merupakan alat berbentuk seperti huruf T yang dimasukkan ke dalam rahim. Ada 2 jenis IUD, yaitu IUD berisi tembaga dan hormon. IUD tembaga bisa digunakan sampai 10 tahun, sedangkan IUD hormon hanya sampai 5 tahun. Tapi ada juga yang lebih menyarankan untuk pil KB, terutama pil KB yang mengandung progestin saja. …….. KB apa sih yang paling direkomen oleh bukibuk diantara banyaknya alat dan metode KB diatas ? sharing dong! :D

A post shared by Bukibuk Semarang (@bukibuk.smg) on

Selama setahun ini, apa yang menjadi catatan?

Sari: Satu tahun komunitas adalah usia rawan. Ibarat anak, baru belajar berjalan dan membutuhkan pengawasan ekstra agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Komunitas kami juga seperti itu. Perlu adanya dukungan dari banyak pihak agar ibu-ibu muda ini bisa terus berkiprah.

 

Reporter: Ade Lukmono
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.