Buruh Salat Jumat di Antara Genangan Air Hujan

Ratusan buruh tetap melaksanakan Salat Jumat di tengah aksi May Day di Stasiun Tawang. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Ratusan buruh tetap melaksanakan Salat Jumat di tengah aksi May Day di Stasiun Tawang. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG – Stasiun Tawang menjadi titik fokus aksi peringatan May Day oleh ratusan buruh pabrik yang bergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Aspek (Association of Indonesia Union), Jumat (1/5). Salah satu stasiun tertua di Indonesia tersebut diyakini menjadi awal pergerakan kaum buruh Indonesia.

Aksi yang diawali dengan berorasi di Balai Kota Semarang ini diwarnai dengan sejumlah aksi, mulai dari orasi dan teatrikal. Setelah itu aksi ditutup dengan menggelar salat Jumat di titik fokus peringatan May Day, yang tepatnya di jalan depan Stasiun Tawang.

Mereka tetap khusyuk melaksanakan Salat Jumat meski hanya beralaskan kertas koran. Bahkan, sebagian jalan yang digunakan salat masih tergenang air hujan yang mengguyur Semarang, kemarin malam.

Ketua DPW FSPMI Jateng, Agus Makmon Riyal mengatakan salat Jumat merupakan wujud syukur ratusan buruh pabrik Semarang atas jasa-jasa kaum buruh yang memperjuangkan hak-hak pekerja pada masa Belanda. Kemudian, setelah salat Jumat disambung dengan doa untuk para buruh yang terlebih dulu meninggal dunia.

“Sekarang ini sudah menjadi kewajiban kita untuk meneruskan perjuangan mereka yang dulu dengan tegas berani menyuarakan hak-hak buruh,” ujarnya kepada metrosemarang.com.

Selain bersyukur, lanjutnya, May Day merupakan momentum untuk membangun kesadaran bagi kaum buruh untuk berani menyampaikan aspirasi atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap kurang tepat.

“May Day bukanlah kenangan suatu ‘romantisme’ yang layaknya diperingati dengan kesenangan dan hura-hura, tapi jadi momentum bagi kita untuk membangun kesadaran dan bersatu memperjuangkan hak-hak sebagai buruh,” tambahnya. (ans)

You might also like

Comments are closed.