Buruh Semarang Ngotot Tuntut UMK Rp 2,7 Juta

METROSEMARANG.COM – Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) tahun 2018 di Kota Semarang masih belum diputuskan. Bahkan usulannya masih belum disampaikan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Ilustrasi. Buruh Semarang tetap ngotot menuntut UMK 2018 sebesar Rp 2,7 juta. Foto: metrosemarang.com/dok

Hal tersebut tak lepas dari adanya dua versi usulan UMK 2018 kepada Wali Kota Semarang. Yaitu antara usulan dari Serikat Pekerja atau Serikat Buruh (SP/SB) sebesar Rp 2,7 juta, dan usulan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Semarang sebesar Rp 2,3 juta.

Anggota Dewan Pengupahan Kota Semarang dari unsur buruh, Ahmad Zainudin mengatakan, Kota Semarang belum menyampaikan usulan UMK ke gubernur, karena informasinya masih mau mempertemukan unsur buruh dan pengusaha.

”Keputusan UMK 2018 Kota Semarang kapan kami belum tahu. Kabarnya Pak Hendi (sapaan akrab Wali Kota Semarang) masih mau mempertemukan para unsur (Dewan Pengupahan Kota) minggu depan,” kata Ahmad Zaenudin, Jumat (3/11).

Menurutnya, Wali Kota Hendi mau mempertemukan buruh dan pengusaha sebelum mengajukan usulan UMK 2018 Kota Semarang ke gubernur karena adanya dua versi usulan UMK 2018. Namun dia memastikan buruh tidak akan ada tawar menawar lagi.

”Kami tidak ada tawar menawar karena kami mendasarkan pada UUD 45, UUK No 13 Tahun 2003 yang mendasarkan pada survey KHL (Kebutuhan Hidup Layak). Namun apabila wali kota mempunyai angka sendiri seperti itu (jalan tengah) kami apresiasi,” katanya.

Ahmad Zaenudin juga memberikan catatan atas pernyataan sejumlah pihak bahwa upah mahal sebagai penghambat investasi. Ia menegaskan pemikiran semacam itu hanya propaganda belaka.

”Upah mahal sebagai penghambat investasi yang disampaikan Apindo hanyalah propaganda belaka. Dan apa yang disampaikan Joko Santoso (Wakil Ketua DPRD Kota Semarang) di media bahwa pengusaha bisa hengkang karena upah Kota Semarang sangat tidak benar,” tandasnya.

Kota Semarang menurutnya telah membuktikan bahwa investasi tidak terpengaruh upah. Pada tahun 2011 upah Rp 900an investasi yang masuk di Kota Semarang Rp 1 miliar. Tapi pada tahun 2016 dengan upah Rp 1,9 justru investasi naik 10x lipatnya yaitu Rp 10,5 miliar. (duh)

 

You might also like

Comments are closed.