Ekonomi Terpuruk, 1.304 Buruk Pabrik di Jateng di-PHK

phk buruh pabrik jateng semarang
Foto: ilustrasi buruh pabrik

METROSEMARANG.COM – Laju perekonomian nasional yang semakin memburuk rupa-rupanya telah berdampak terhadap kelangsungan para pekerja pabrik di sejumlah daerah. Bahkan, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jateng menyebutkan sudah ada 1.304 buruk pabrik di wilayahnya yang terkena pemutusan hubungan sepihak (PHK) selama periode Februari-Agustus 2015.

Kepala Dinsosnakertrans Jateng, Wika Bintang mengatakan para buruh pabrik yang dirumahkan itu mayoritas bekerja di pabrik garmen wilayah Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta. Menurutnya, pemilik pabrik terpaksa mengurangi jumlah karyawannya karena tak kuat mengatasi penguatan kurs dollar terhadap rupiah.

“Karena rata-rata mereka bergerak di pasar ekspor impor. Jadi ketika laju ekonomi memburuk ditambah dollar naik terus mau ngga mau solusinya ya harus mengurangi jumlah tenaga kerja,” ungkap Wika, kepada metrosemarang.com, Senin (21/9).

Wika lantas menerangkan, selain buruh pabrik garmen, PHK masal juga terjadi di pabrik-pabrik perkayuan dan plastik di pesisir Jawa Tengah. Beberapa pabrik terlihat limbung saat kondisi perekonomian domestik kian terpuruk. “Buruh pabrik kayu dan plastik pasti kena imbas buruknya. Karena memang saat ini kondisinya serba sulit,” akuinya.

Lebih jauh, Wika memperkirakan, gelombang PHK masal masih terjadi hingga tiga bulan ke depan atau tepat pada triwulan IV 2015. Musababnya, perekonomian di 35 kabupaten/kota masih melambat. Ini juga masih dipengaruhi laju fiskal nasional yang tak kunjung pulih.

Untuk mengatasi perlambatan ekonomi domestik ini, ia menambahkan, Pemprov Jateng telah membahas berbagai solusi bersama para pengusaha yang tergabung di Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). “Kita cari formula agar tak lagi terjadi PHK masal,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.