Cara Bertanya yang Tepat dalam Diskusi Teater

Teater Getar IAIN Salatiga mementaskan Orang Kasar di Auditorium Kampus I UIN Walisanga, Kamis (9/4) malam. Foto: metrosemarang.com/Anton Sudibyo
Teater Getar IAIN Salatiga mementaskan Orang Kasar di Auditorium Kampus I UIN Walisanga, Kamis (9/4) malam. Foto: Anton Sudibyo

DISKUSI usai pertunjukan sudah serupa tradisi setiap kali sebuah kelompok teater pentas. Ada diskusi-diskusi panjang dan bernas dengan melibatkan seluruh aspek dan teori dramaturgi, tapi tak jarang hanya jadi debat kusir soal-soal teknis dan lebih parah lagi sebagai ajang pamer ilmu dan kenarsisan retorika. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana: pinter-pinteran omong.

Seringkali orang mengumpat tentang kesia-siaannya ikut diskusi karena merasa tak mendapat apa-apa. Padahal itu hanya soal sudut pandang. Karena kita bisa belajar dari apa saja, dari siapa saja, dan di mana saja.

Contoh teraktual ialah diskusi usai pertunjukan Orang Kasar oleh Teater Getar, Kamis (9/4) malam.

Jujur saja, sebelum diskusi digelar, saya sempat merasa menyesal telah datang ke Auditorium Kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Walisanga itu. “Kalau tahu naskahnya Orang Kasar, pasti saya tidak berangkat,” kata saya pada beberapa kawan.

Bukan apa-apa. Karya Anton Chekov yang disadur WS Rendra itu sudah terlalu sering dipentaskan di Semarang. Naskah ini dibuat Chekov pada 1988 berjudul Bear. Pekerja Teater Asa Wikha Setiawan bahkan mencatat, di Auditorium I UIN saja, Orang Kasar sudah dipentaskan empat kali. Lima kalau ditambah Getar. Ironisnya, semuanya memanggungkan dengan text book. Tanpa adaptasi, miskin inovasi, bahkan beberapa sangat mengecewakan.

Termasuk yang ditampilkan Getar. Sebelum diskusi digelar, saya berfikir, satu-satunya yang bisa dibawa pulang dari pentas ini adalah kekecewaan.

Tapi ternyata saya salah. Diskusinya ternyata menarik dan menambah referensi baru tentang cara bertanya dalam diskusi yang baik dan benar.

Maafkan saya karena tidak berhasil mengetahui nama dari penggawa Teater Getar yang menghadapi kawan-kawan teater Semarang dalam diskusi. Tapi bagaimanapun, terimalah salut, hormat dan terimakasih saya yang sebesar-besarnya atas pelajaran dan ilmu yang telah kalian berikan.

Jawaban-jawaban penggawa Getar yang nothing to lose telah membuat pekerja teater Semarang mengingat kembali pertanyaan klasik: Mengapa kita berteater? Teater itu untuk siapa? Kenapa harus serius? Tidak cukupkan berteater saja dengan senang tanpa dibebani teori dan muatan kritik sosial politik yang membuat dahi berkernyit?

Ambil contoh ketika seorang pekerja teater mempertanyakan pemilihan properti panggung. “Mengapa meja kursi tamu terlihat kuno, tapi rak atau bufetnya modern sekali. Sebenarnya keluarga Martopo itu bangsawan, orang desa, bekas pejabat kolonial atau orang kaya masa kini?”

Biasanya, teater lain akan menjawab dengan perangkat ilmu sosiologi budaya, kondisi faktual masyarakat di daerah tertentu, atau menjelaskan karakter keluarga Martopo secara gamblang.

Tapi Getar tidak. Salah satu dari mereka, entah tim setting, atau siapa menjawab, “Sebenarnya bukan rak itu yang kami pilih, tapi karena adanya itu ya gimana lagi. Meja itu juga baru ada sore tadi, baru dibuat.”

Saya menatap wajah-wajah heran, mungkin yang melontarkan pertanyaan tak percaya mendengar jawabannya.

Pertanyaan lain lagi. “Mengapa karakter tokoh Bilal tidak konsisten. Dia kasar, suka memaki, suka minum Congyang, tapi bilang rajin shalat dan beberapa kali mengucapkan istighfar.”

Pertanyaan ini sebenarnya mudah saja. Karena jangankan minum congyang, umat Islam yang rajin shalat lima waktu dan mengaku laskar Allah saja enteng memenggal kepala orang.

Tapi bukan itu jawaban dari teater yang kampusnya sejak 2014 berubah nama dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga itu. Pemeran Bilal mengatakan bahwa ucapan-ucapannya soal istighfar, shalat, dan Congyang itu tidak ada dalam naskah maupun latihan. Ketika terucap di panggung, ia tidak menyebut sebagai improvisasi. Tapi keceplosan.

“Saya keceplosan saja, tapi karena saya lihat penonton tertawa ya saya pede saja.”

Mungkin karena tidak puas, mahasiswa yang bertanya itu sempat terlihat akan menanggapi, tapi tidak jadi…

Wikha Setiawan rupanya gatal juga untuk berkomentar. Dia yang menonton empat pertunjukan Orang Kasar sebelumnya, bertanya soal alasan pemilihan naskah dan tawaran apa yang ingin disampaikan Getar.

“Maaf, karena saya melihat Getar hanya pentas seperti Opera Van Java. Hanya lawakan-lawakan saja,” tetak Wikha.

Pertanyaan ini seharusnya dijawab oleh sutradara. Tapi di awal diskusi telah dijelaskan bahwa sang sutradara tidak hadir. Dan karena itu Getar sempat kebingungan menunjuk orang yang menjawab pertanyaan Wikha.

Ada jeda beberapa saat sebelum seseorang dari Getar mengangkat mic kemudian menjawab. “Maaf, saya sendiri sebenarnya tidak begitu mengerti soal naskah ini karena naskah ini disodorkan sutradara. Dia dulu pernah menggarap naskah ini tapi gagal, dan sekarang dia ingin melanjutkan lagi.”

Saya yang sebelumnya juga kebingungan dengan jawaban-jawaban Getar, akhirnya paham setelah seorang anggota Getar menambahkan jawaban.

“Kami tidak menawarkan apapun pada pertunjukan ini. Kalau dibilang hanya lawakan ya memang, karena kami hanya ingin menghibur penonton saja.”

That’s it. Selesai. Ternyata itulah kuncinya. Kunci yang membuka tirai kebodohan pekerja teater Semarang atas pentas dan diskusi Getar.

Wong Getar hanya ingin menghibur, salah kalian membawa teori dan dramaturgi dari tokoh-tokoh teater modern. Getar hanya ingin kalian datang, duduk, tertawa, lalu pulang. Terlepas apakah melucunya actor-aktor itu benar-benar lucu, bergaya srimulat atau OVJ, itu juga tidak penting. Getar sudah senang ketika bisa melawak di Semarang.

Lalu untuk apa ada diskusi? Ya untuk memberi kesempatan pada penonton bertanya tentang hiburan itu. Jadi pertanyaannya ya tidak usah yang serius-serius. Karena melontarkan pertanyaan jelas harus menyesuaikan dengan siapa yang ditanya. Tidak sopan tentunya menanyakan hal-hal serius pada seseorang yang tidak ingin serius.

Jika diizinkan membuat contoh, kira-kira seperti inilah pertanyaan yang seharusnya dilontarkan pada saat diskusi itu;

  1. Keluarga Martopo itu orang kaya tetapi bergaya hidup sederhana ya, itu dindingnya saja terlihat jelas terbuat dari MMT, yang pojok itu malah agak nglunthung.
  2. Kok dindingnya sebelah kiri miring. Apa ingin meniru arsitektur bangunan menara Pissa Italia?
  3. Untuk tokoh Bilal, rambutnya keren, bisa kribo ke atas begitu. Itu cukurnya di barber shop mana?
  4. Masih untuk tokoh Bilal ya, siapa pelawak favorit yang menginspirasi perjalanan karier berteater anda?
  5. Ini nanti temen-temen Getar langsung pulang Salatiga? Hati-hati lho, sudah malam, Semarang banyak begal.

Pelajaran yang didapat pada diskusi Getar itu juga bisa diterapkan untuk diskusi-diskusi teater selanjutnya. Bukan berarti harus pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dilontarkan, tapi cara bertanyanya.

Sebelum bertanya, dengarkan dulu bagaimana penanggung jawab pertunjukan memaparkan hasil produksinya. Serius atau guyon, logis atau ngawur. Kalau serius, bertanyalah dengan serius pula. Tapi kalau pernyataannya cenderung melecehkan akal sehat, sekarang kalian sudah tahu bagaimana caranya bertanya. (Anton Sudibyo)

You might also like

Comments are closed.