Media Anonim Menguntungkan Media Besar [Cara Membaca Berita]

Smartphone menjadi mesin berita. Banyak informasi tersampaikan, tanpa tanggung jawab. Media anonim, hanya akan menguntungkan media-media besar.

Smartphone menjadi mesin berita. Banyak informasi tersampaikan, tanpa tanggung jawab. Media anonim, hanya akan menguntungkan media-media besar. Publik bisa “tertipu” kalau tidak tahu cara membaca berita.

Pengertian smartphone itu rumit kalau dilihat dari fungsinya. Smartphone bisa mengirim pesan, membangunkan (dengan alarm), chat bersama, menjajakan produk, menonton film, berjejaring sosial, mengirimkan email, video conference, sampai melumpuhkan jaringan komputer. Dalam smartphone ada orang lain. Smartphone itu ruang privat sekaligus publik. Kamar sekaligus kantor.

[box type=”note” align=”” class=”” width=””]
Smartphone justru membuat jam kerja diperluas, lengkap dengan interupsi dan gangguan, sampai di ruang privat. Jika ingin mempengaruhi orang lain, lakukan melalui smartphone. Akan sampai langsung.
[/box]

Anda bisa melakukannya dari Facebook, website, atau melalui email yang bisa dibaca langsung di smartphone orang lain.

ANONIM, TANPA TANGGUNG JAWAB. Smartphone sudah menjadi mesin berita. Setiap orang bebas mengedarkan dan mengkonsumsi informasi. Media online yang tanpa tanggung jawab, hanya akan membesarkan media-media yang sudah mapan. (Photo : Medium.com)
ANONIM, TANPA TANGGUNG JAWAB. Smartphone sudah menjadi mesin berita. Setiap orang bebas mengedarkan dan mengkonsumsi informasi. Media online yang tanpa tanggung jawab, hanya akan membesarkan media-media yang sudah mapan. (Photo : Medium.com)

Banyak orang melakukannya. Mereka melakukan mirroring, membuat pencerminan. Apa yang ada di pikirannya, ditampilkan di Facebook. “Apa yang sedang Anda pikirkan?” yang disarankan dalam kotak status, benar-benar diterapkan. Fotokopi gagasannya, ada di status-statusnya. Banyak orang memforward berita, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

[highlight color=”red”]
  Setiap orang menjadi pengedar informasi. Smartphone menjadi mesin berita. Informasi bisa memanipulasi perilaku orang. Bukan sekadar mempengaruhi. Orang bisa putus cinta karena membaca informasi dari Google.  
[/highlight]

Marilah mengingat kasus Julian Assange, pendiri WikiLeaks, yang (sampai sekarang) menjadi buron karena berani menyingkap kejahatan pemerintahan Amerika.

Julian mempunya prinsip simple tentang media: ungkapkan kebenaran, berikan informasi dari sumber-pertama, dan gunakan kuasa-pengetahuan untuk melawan pemerintahan korup.

Dia publikasikan video, dokumen, dan file-file rahasia negara Amerika, menunjukkan kepada publik, seluruh pengakses website.

WikiLeaks menjadi perulangan tren : menyampaikan “kebenaran” dengan identitas anonym. Sudah banyak sebelumnya, orang yang melakukan dengan cara sama. Julian mengutip Oscar Wilde, “Manusia tidak mau blak-blakan kalau bicara sebagai dirinya. Beri dia topeng maka dia akan mengatakan kebenaran.”

Banyak relawan membelanya. Koran-koran besar memberinya space lebih dari 10 halaman untuk menuliskan temuan-temuan dia. Julian sangat terkenal, media-media itu menjadi tempat forward informasi dari Julian.

Identitas para narasumber dilindungi media. Sayangnya, Julian tidak setia pada prinsip melindungi narasumber. Dia mengungkapkan kebenaran dengan membahayakan orang-orang yang memberinya informasi. Julian hanya mem-forward apa kata sumber-pertama. Dia tidak membuat berita, tidak pula menjadi narasumber sesungguhnya. Dia bukan pula seorang hacker.

[highlight color=”yellow”]
  Dia hebat karena media mempopulerkan dirinya.  
[/highlight]

Media-media besar akhirnya menyadari : Julian bukanlah sumber berita, bukan pula sebuah media. Dia tidak punya media, tidak bertanggung jawab kepada siapapun.

Dia memakai dana untuk membeli server dari para donatur, menyebarkan berita tanpa bisa dilacak sedang di mana dengan bantuan para hacker, dan beritanya membuat dunia marah.

Hampir sama, Edward Snowden, agen-pembelot dari NSA (National Security Agency), menjadi “whistleblower” (pengicau) yang menceritakan kejamnya pengawasan NSA terhadap komunikasi warga Amerika. Kelompok anonymous juga demikian, mereka menjalankan “operation” dengan mengerahkan kesaktian para hacker untuk menumbangkan kediktatoran dan korupsi.

Saya tidak mengkritik “content” gagasan WikiLeaks, Snowden, gerakan anonymous, atau apapun yang ingin mengungkapkan kebenaran. Saya sedang mengkritik cara orang menggunakan website untuk mewujudkan gagasan mereka.

[box type=”note” align=”” class=”” width=””]
Anonimitas membawa konsekuensi, atas nama kebebasan informasi, atas nama kebenaran, namun sering tidak mengantisipasi kejadian lain setelah sebuah berita dimuat. Blog dan website, penuh informasi yang membuat hidup orang sekarang penuh iklan dan berita. Mereka menuliskan hal yang bermanfaat, tetapi kurang menimbang banyak konsekuensi setelahnya.
[/box]

Ada orang memilih obat alternatif setelah membaca artikel “manfaat tanaman x” hasil copy-edit penulis yang tidak mengerti efek negatif tanaman x tersebut. Ada orang memilih membabat habis sebuah tanaman di sekitar rumahnya, yang dinyatakan berbahaya oleh sebuah artikel. Ada orang yang memutuskan pertemanan karena konflik kepercayaan yang disemai dari twit dan status yang tak bertanggung-jawab.

Pada akhirnya, orang akan kembali kepada media-media besar, atau media yang memiliki kompetensi dan tanggung jawab pada nilai-nilai jurnalisme. Tidak sekadar memberitakan. Jika Anda membuat blog atau media online, ketiadaan tanggung jawab sebagai sebuah media, hanya akan membesarkan media-media besar.

Apakah mereka melindungi narasumber? Apakah mereka memikirkan konsekuensi dari informasi yang disampaikan? Apakah mereka memiliki kompetensi? Apakah mereka bertanggung jawab atas suatu media? Apakah informasi mereka mempengaruhi pengambilan keputusan? Apakah Anda bisa komplain dan mendapatkan tanggapan dari mereka?

Tanyakan gagasan tersebut setiap Anda membaca informasi di media online. [d]

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Rembang.

You might also like

Comments are closed.