Carpentrip, Berkeliling Sebarkan Virus DIY

Kerajinan Tangan Berbahan Kayu

Setelah Semarang, Carpentrip 2019 akan melanjutkan perjalanan di tujuh kota lain. Mulai dari Solo pada Maret mendatang, dilanjutkan Purwokerto, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung, hingga Jakarta

BERBAGAI kerajinan tangan berbahan kayu dipajang pada beberapa meja di Halaman Parkir Swalayan Sri Ratu, Jalan Pemuda Semarang, Minggu, 27 Januari 2019. Jam tangan kayu, cincin kayu, furnitur kayu, hingga macam-macam dekorasi rumah. Tatanan itu merupakan bagian dari kegiatan yang dihelat oleh para penghobi kerajinan berbahan kayu.

Carpentrip 2019, begitu mereka menyebut perhelatan yang diinisiasi oleh sekelompok pelaku kreatif dalam wadah Makerlab Indonesia. Makerlab Indonesia juga menggelar sejumlah workshop pembuatan kerajinan berbahan dasar kayu palet bekas. Belasan peserta pelatihan tersebut diajak mengenal alat dan bahan, melakukan proses pembuatan bersama, hingga memberi sentuhan akhir pada karya mereka.

“Ada berbagai workshop yang digelar di sini, mulai dari pembuatan wooden hanger hingga lampu meja,” ujar Project Leader Carpentrip 2019, Aditya Budi.

Aditya mengatakan, pihaknya menggandeng kreator lokal di Semarang untuk berkolaborasi, khususnya di bidang perkayuan. Tak melulu soal kayu, sejumlah komunitas kreator juga diajak untuk memberikan kontribusinya. Carpentrip 2019 menyediakan tempat untuk memajang dan memasarkan karya masing-masing kelompok, juga menyilakan kelompok-kelompok tersebut untuk membuka workshop atau pelatihan membuat karya.

Komunitas Atlas Screen Printers menggelar pelatihan menyablon. Sedangkan komunitas Lingkar Kerja menggelar pelatihan melukis pada wadah berbahan kain belacu. Ada pula Komunitas Sulam Pita Tlogo Kreasi yang menggelar pelatihan menyulam menggunakan pita.

lingkar karja
Workshop lukis pouch yang digelar komunitas Lingkar Karja di Carpentrip 2019. (foto: metrosemarang/Efendi)

Bahan Bekas

Dalam pembuatan kerajinan kayu, Aditya mengajak para peserta maupun para pembuat untuk menggunakan bahan bekas. Hal itu juga diharapkan bisa memperpanjang masa pakai kayu sehingga tidak melakukan banyak penebangan pohon dan merusak ekosistem alam.

makerlab indonesia
Carpentrip 2019 digelar di delapan kota di Pulau Jawa. (foto: metrosemarang/Efendi)

Kayu yang biasa mereka gunakan adalah kayu pohon pinus dari luar negeri yang telah dibuat menjadi palet. Palet tersebut biasanya digunakan sebagai alas dalam pengiriman barang dalam peti kemas. Mereka kemudian menggunakan bahan bekas itu, lalu “disulap” menjadi berbagai macam kerajinan yang mempunyai nilai tambah.

“Kayu pinus yang kami gunakan pun merupakan bekas pakai. Banyak juga yang bertanya kenapa tidak memakai bahan baru kayu lokal saja, tapi menurut kami pinus di luar negeri itu merupakan kayu yang pertumbuhannya cepat. Kalau di Indonesia kebanyakan diambil getahnya. Dan memang kami juga tidak ingin menggunakan bahan yang baru, agar tidak terlalu banyak menebang pohon,” beber Aditya.

 

DIY ke 8 Kota

Helatan serupa rencananya bakal digelar di delapan kota di Pulau Jawa. Semarang merupakan kota pertama, tempat dimulainya perjalanan roadshow Carpentrip 2019.

Setelah Semarang, Carpentrip 2019 akan melanjutkan perjalanan di tujuh kota lain. Mulai dari Solo pada Maret mendatang, dilanjutkan Purwokerto, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung, hingga Jakarta.

Dalam perjalanan itu, mereka ingin menebarkan “virus” do it yourself atau yang terkenal dengan sebutan DIY. Dimana setiap orang diharapkan bisa mengerjakan suatu karya dengan tangannya sendiri.

“Karena saya melihat tren ke depan. Semakin ke sini orang ingin membuat semuanya sendiri. Tidak hanya kerajinan perkayuan, tapi juga beberapa bidang (kerajinan) yang lain. Seperti berkebun misalnya, sudah mulai banyak yang berkebun di rumah-rumah dan itu menjadi sebuah pergerakan yang bagus karena bisa memicu kreatifitas seseorang,” imbuh Aditya.

Adapun untuk pemilihan bidang workshop, pihaknya menggelar pelatihan bidang perkayuan sesuai dengan karakter dan keinginan para perajin lokal di masing-masing kota. “Kami akan lihat dulu, workshop kayu apa yang mereka minta. Kami sesuaikan dengan keinginan dari komunitas di masing-masing kota,” jelasnya.

Selain Carpentrip 2019, MakerLab Indonesia juga memiliki kegiatan reguler setiap dua minggu sekali. Kegiatan tersebut juga tidak jauh dari tren DIY yang sedang hangat-hangatnya. Adalah Workshop Weekend, yang digelar dua minggu sekali setiap akhir pekan.

Workshop Weekend tersebut berisi workshop perkayuan dengan tema berbeda di setiap kegiatan. Dalam waktu dekat mereka juga ingin mendirikan sebuah Co-working Space khusus pengolahan kayu di Semarang. (*)

Reporter: Efendi
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.