Cegah Kelangkaan Elpiji, Pertamina Libatkan Masyarakat

Ratusan tabung elpiji ditemukan dalam penggerebekan di Perumahan Puri Anjasmoro, Kamis (13/8) siang. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Ratusan tabung elpiji ditemukan dalam penggerebekan di Perumahan Puri Anjasmoro, Kamis (13/8) siang. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

SEMARANG – Terbongkarnya praktik pengoplosan elpiji yang dilakukan Yogi Kristaniscaya (38) di Perumahan Puri Anjasmoro A5, No.16, Semarang Barat, Kamis (13/8), tentu saja membuat konsumen merasa cemas. Pertamina pun meminta peran serta masyarakat untuk ikut melakukan pengawasan terhadap praktik illegal tersebut.

Berdasarkan pengakuan Yogi, dia memeroleh ratusan tabung elpiji 3 kilogram sebagai bahan pengoplos dengan membeli dari puluhan kios pengecer. “Semua dibeli bertahap. Dari warung-warung pengecer. Setelah itu baru mulai dipindahkan ke tabung besar,” kata Yogi saat digerebek aparat Reskrim Polrestabes Semarang, Kamis (13/8) siang.

Memang, hingga saat ini tidak ada larangan tertentu dari pihak manapun termasuk Pertamina, untuk memperoleh tabung gas elpiji bersubsidi dalam jumlah banyak. Hal itu karena tabung gas elpiji bersubsidi maupun non-subsidi dijual bebas di pasaran.

Assisten Manager External Relation PT Pertamina Region IV Jateng-DIY, Roberth MV Dumatubun mengatakan, tidak ada ketentuan yang mengatur hal tersebut. Namun, jika tujuan dari membeli elpiji bersubsidi dalam jumlah banyak  untuk melakukan kecurangan, itu  termasuk melanggar hukum dan wewenang pihak kepolisian untuk melakukan penindakan.

“Kalau praktik pengoplosan itu dilakukan individu, itu tugas kepolisian untuk melakukan penindakan. Namun jika yang melakukan praktik tersebut justru dari lembaga penyalur resmi, tentu akan ada sanksi juga dari Pertamina,” kata Robert, dihubungi metrosemarang.com, Jumat (14/8).

Untuk itu, Robert juga mengimbau kepada masyarakat untuk ikut berperan aktif melakukan pengawasan pendistribusian elpiji bersubsidi. Jika ditemukan penimbunan yang terindikasi kecurangan bisa melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib. Terlebih kepada para pemilik kios pengecer elpiji bersubsidi.

“Jika menemukan kejanggalan terhadap seorang pembeli yang mencurigakan bisa segera melaporkannya,” tandasnya.

Robert menambahkan, untuk menghindari kecurangan para pelaku kejahatan, ada beberapa tips yang bisa digunakan masyarakat untuk membedakan tabung gas elpiji oplosan dengan yang asli. Di antaranya dengan memeriksa segel yang terdapat di tutup tabung. Jika segel plastik warp dan segel cill dalam keadaan utuh atau tidak rusak, bisa dipastikan isi tabung gas tersebut asli.

Selain itu, pemeriksaan bisa dilakukan dengan menimbang tabung gas tersebut. Jika beratnya memenuhi standart, berarti isi gas di dalam tabung sudah sesuai. “Untuk ukuran 3 kg, berarti berat tabungnya yang sudah isi harus 8 kg. Itu karena tabung kosong mempunyai berat sekitar 5 kg. Sementara untuk ukuran 12 kg, beratnya harus 27 kg,” ungkap Robert.

Seperti diketahui, dalam penggrebekan di Perumahan Puri Anjasmoro tersebut, petugas menyita ratusan tabung elpiji, dan alat penghisap sabu. Diduga selain melakukan praktik ilegal, pelaku juga seorang pecandu narkoba. (yas)

You might also like

Comments are closed.