Cegah Paham Radikal, Puluhan Siswa Berlomba Produksi Film Keberagaman

METROSEMARANG.COM – Guna menghalau paham radikalisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah mengasah kreativitas siswa setingkat SMA/SMK di 18 daerah untuk memproduksi film pendek yang mengangkat tema toleransi dan keberagaman.

Phia Nasution bersama Sekretaris FKPT Jateng, Dandan Febry Herdiana, memberikan keterangan terkait lomba film pendek. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Para pelajar digembleng selama beberapa hari terakhir di Star Hotel Semarang dengan dibekali pelatihan pembuatan film pendek. Menariknya, dalam sesi coaching clinic, hadir pula artis peran Prisia Nasution sebagai mentor.

“Kami melatih mereka (siswa SMA dan SMK) agar kreatif dan inovatif untuk menuangkam idenya jadi video pendek berdurasi 5 menit. Tentu tema yang diangkat tentang penolakan gerakan intoleran, radikalis demi memerangi aksi terorisme,” kata Sekretaris FKPT Jateng, Dandan Febry Herdiana, Rabu (25/10).

Dengan menggandeng siswa sekolah, Dandan menyatakan hal itu jadi jurus jitu guna mencegah meluasnya paham radikal. Sebab, jaringan terorisme yang kerap menyebarluaskan paham radikal via media sosial harus dilawan dengan sistem yang sama pula.

Untuk itulah, Dandan sangat mengapresiasi keterlibatan para siswa. Antusiasme siswa untuk terlibat dalam proyek ini bahkan cukup tinggi. Mereka datang dari Magelang, Temanggung, Semarang, Kebumen, Demak dan masih banyak lagi.

Kota Semarang jadi acara pamungkas untuk menggelar pelatihan film pendek. Sejauh ini, ia memuji kualitas film yang dihasilkan lebih baik ketimbang tahun lalu.

Sedangkan bagi Prisia Nasution, ini jadi pengalaman berharga lantaran mampu berbagi ide bersama para siswa. “Gerakan radikal kan terus menyasar anak baru gede. Nah, dengan melibatkan mereka, harapannya bisa mencari akarnya deradikalisasi. Jika mereka membuat film bernuansa keberagaman maka pesannya lebih cepat sampai ke penonton,” terang Phia, panggilannya.

Tak hanya itu saja, katanya. Phia pun mengajak guru-guru SMA turut membuat film pendek. Prisia yakin film-film karya pelajar punya keunikan tersendiri sesuai corak sosial dan budayanya.

Di Pekanbaru misalnya, ia sudah menemukan film pendek yang kaya kisah suku lokal dan keberagaman agama. Pelajar Gorontalo juga menggambarkan soal bendera merah putih dan lambang burung Garuda.

“Saya sih inginnya Jawa Tengah bisa memproduksi hal-hal yang unik. Biar filmnya semakin warna warni,” tutur Phia. (far)

You might also like

Comments are closed.