Cegah Zika, Dinkes Libatkan Masyarakat Berantas Nyamuk Aedes Aegypti

Pemeriksaan jentik nyamuk di tempat penampungan air sangat penting untuk menekan kasus DBD mapin virus Zika. Foto: metrosemarang.com/dok
Pemeriksaan jentik nyamuk di tempat penampungan air sangat penting untuk menekan kasus DBD maupun virus Zika. Foto: metrosemarang.com/dok

METROSEMARANG.COM – Demi menangkal penyebaran virus Zika, Dinas Kesehatan Jawa Tengah meminta kepada warganya untuk menggalakkan aksi pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo bilang kalau PSN efektif untuk mencegah munculnya virus Zika di tengah masyarakat.

“Lebih efektif PSN daripada fogging. Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa bahkan 200 telur nyamuk bisa berkembang biak saat disemprot pakai fogging,” ungkap Yulianto, Kamis (4/2).

Virus Zika, kata Yulianto, memang menular lewat gigitan nyamuk aedes aegypti. Ini artinya, kasus penularan virus mematikan ini sama persis dengan demam berdarah dengue (DBD) maupun cikungnya.

Gejala yang ditimbulkan pun hampir mirip. Menurut Yulianto, seseorang yang terjangkit virus Zika juga dipastikan menderita demam tinggi, persendian terasa linu dan pusing-pusing selama minggu.

“Yang dikhawatirkan selama ini Zika ternyata juga membuat bayi yang baru lahir mengalami hedrosefalus atau pembesaran pada bagian kepala. Inilah yang harus ditanggulangi sejak dini,” terang Yulianto.

Lebih jauh, Yulianto menyampaikan bahwa selain mengantisipasi lewat gerakan PSN, pihaknya juga perlu dukungan fasilitas laboratorium untuk mendeteksi gejala awal virus Zika.

Tahap pemeriksaan melalui uji laboratorium nantinya menggunakan metode pemeriksaan zenologi, yakni melakukan cek darah dan ketahanan suhu tubuh seseorang.

“Untuk Zika sejauh ini kami belum dapat laporan adanya temuan kasus di daerah. Tapi untuk melacaknya, kita memang perlu dukungan alat-alat laboratorium. Minimal harus ada pemeriksaan zenologi,” beber Yulianto.

Yulianto mengatakan telah meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya kasus virus Zika. Terlebih lagi, hampir di 35 kabupaten/kota Jawa Tengah selama ini dikenal endemis DBD.

Berdasarkan data Dinkes selama 2015, angka insident rate DBD tertinggi berada di tiga daerah meliputi Kabupaten Jepara, Magelang dan Kota Semarang. Sementara insident rate terendah ada di Kota Pekalongan dan Wonosobo. Jumlah warga yang meninggal akibat DBD ada 1,6 persen dari total penduduk Jawa Tengah.

“Makanya, kita libatkan semua elemen masyarakat untuk memberantas sarang-sarang nyamuk di rumah masing-masing. Gerakan PSN ini harus dilakukan serentak agar kita tidak terserang virus berbahaya seperti Zika,” paparnya.

Dinas Kesehatan kini belum menemukan antivirus yang cocok untuk mengatasi virus Zika. Tapi proses penyembuhannya hanya lima hari sampai seminggu. Sehingga masyarakat disarankan tak perlu panik dalam menghadapi fenomena ini.

Apabila nanti ditemukan pasien suspect virus Zika, ia menambahkan, tiap rumah sakit di 35 kabupaten/kota sudah menyiapkan ruang rawat intensif. Jumlah ruangan bagi pasien Zika bervariasi tergantung kelas tiap rumah sakit.

“Jadi enggak usah khawatir dan panik. Kita ini sudah terbiasa dan punya mekanisme untuk melakukan penanggulangan itu. Kita sudah instruksikan tiap rumah sakit menyediakan ruang inap khusus pasien suspect Zika. Ya sekitar 5 persen dari total kapasitas bangsal yang ada di rumah sakit,” tuturnya. (far)

You might also like

Comments are closed.