Cerita Martun dan ‘Telolet Kertas’ yang Menambah Semarak Pergantian Tahun

METROSEMARANG.COM – Martun terlihat sigap menyapa calon pembeli yang menghampiri lapaknya di depan kantor Kebersihan dan Pertamanan UPTD II Kota Semarang, Jalan Ki Mangunsarkoro, Sabtu (31/12) siang. Satu per satu terompet dagangannya dia tunjuk plus dengan harganya. Di penghujung tahun 2016 ini, wanita asal Ngendak, Bulukerto, Kabupaten Wonogiri tersebut berharap bisa meraup untung berlipat yang kelak bakal menjadi modal di kampung halamannya.

Martun berharap terompet dagangannya bisa laku terjual di penghujung tahun 2016. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Berjualan terompet setiap menjelang Tahun Baru sudah menjadi rutinitas Martun sejak 20 tahun terakhir. Tahun ini, ia bersama suaminya, Narmo (66) dan empat rekannya kembali mencoba peruntungan di Semarang. “Dari dulu di sini Mas, sudah 20 tahunan,” katanya kepada metrosemarang.com.

Mereka menyewa truk seharga Rp 800 ribu yang dibayar secara patungan dan mulai menggelar dagangannya sejak 10 Desember kemarin. Selama setengah bulan lebih, Martun dan teman-temannya menjajakan alat tiup dari kertas tersebut.

Untuk tidur, ia menginap di gedung Dinas Kersihan dan Pertamanan UPTD II Kota Semarang. Dan harus bergegas bangun ketika pagi datang, lantaran gedung akan dibersihkan ketika pagi. “Biasanya jam 6 pagi sudah keluar karena kan gedung mau dibersihkan, dan bisa masuk lagi jam 6 sore,” beber wanita 65 tahun ini.

Selama lebih setengah bulan, Martun dan kawan-kawan mengadu nasib di Semarang dengan berjualan terompet. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Martun membawa sekitar seribu terompet yang ia jual bersama suaminya di dua tempat berbeda. Sampai saat ini, tak lebih dari setengah jumlah terompet dagangannya terjual. “Sekarang paling sehari laku 5, kadang ya lebih dikit, beda sama tahun tahun sebelumnya. Apalagi seperti hari akhir tahun gini dagangan biasanya tinggal sedikit,” katanya lagi.

Terompet yang dijualnya pun bermacam-macam jenis, yakni terompet oncor, drot, naga, ayam, dramben, kupu-kupu dengan harga mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu. Untuk tahun ini terompet jenis naga yang paling laku, dan pembeli yang mendominasi yakni anak-anak. “Biasanya di hari terakhir kayak gini jam 10 malam nanti terompetnya diserbu pembeli, tapi ndak tahu kalau nanti,” ucapnya.

Rencananya ia akan kembali ke Wonogiri, besok siang dan selanjutnya akan kembali melakoni rutinitas hariannya berjualan ayam di pasar. “Ya kalau d irumah biasanya saya jualan ayam, kayak ayam jago. Kadang di Pasar Bulukerto kadang di Pasar Purwantoro,” tutupnya.

Terompet yang dijajakan Martun dan kawan-kawan memang kalah populer ketimbang klakson telolet. Tapi, terompet-terompet Martun tetap memberi warna tersendiri setiap malam pergantian tahun. (fen)

You might also like

Comments are closed.